Presidium Phesma, Adyansyah. KENDARI – Peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan kembali menjadi sorotan. Presidium Phesma, Adyansyah, menegaskan bahwa masa depan daerah maupun bangsa sangat ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya.
Menurutnya, sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa pemuda selalu hadir dalam momentum penting bangsa.
Salah satu tonggak terbesar adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
“Pemuda bukan hanya simbol harapan, tetapi kekuatan yang menentukan arah perubahan daerah,” ujar Adyansyah di Kendari, Minggu (03/05/2026).
Ia menjelaskan, pemuda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan (agent of change), agen kontrol sosial (social control), dan generasi penerus bangsa (iron stock).
Karena itu, generasi muda diminta keluar dari zona nyaman dan mulai mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Adyansyah menekankan bahwa perubahan besar tidak akan terwujud tanpa fondasi karakter yang kuat.
Nilai integritas, disiplin, tanggung jawab, serta semangat kolaborasi disebut sebagai modal utama dalam membangun daerah yang maju.
“Pemuda berkarakter adalah pemuda yang tidak mudah terpengaruh, mampu berpikir kritis, dan memiliki komitmen terhadap kemajuan daerahnya,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan generasi muda saat ini, khususnya Gen Z, yang dinilai mulai mengalami penurunan minat membaca serta memahami sejarah perjuangan bangsa.
Padahal, menurutnya, sejarah mengajarkan pentingnya persatuan, semangat juang, dan identitas nasional.
“Jika pemuda jauh dari sejarah, maka mereka berisiko kehilangan arah dan jati diri sebagai bangsa,” tegasnya.
Sebagai solusi, Phesma Sultra menghadirkan sejumlah program strategis untuk memperkuat kapasitas pemuda, seperti edukasi kepemudaan berbasis sejarah dan nilai kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, gerakan literasi pemuda, hingga kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan daerah.
Adyansyah menegaskan bahwa organisasi kepemudaan harus menjadi ruang pembinaan dan pemberdayaan, bukan sekadar simbol.
“Phesma hadir untuk menciptakan pemuda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap membawa perubahan nyata,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh generasi muda untuk kembali pada jati dirinya sebagai agen perubahan.
“Pemuda hari ini adalah penentu masa depan. Jika kita ingin daerah maju, maka pemudanya harus kuat secara karakter, cerdas secara intelektual, dan optimis dalam bertindak,” tutupnya.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar