“Bongkar-Pasang” Kepsek Berprestasi : Catatan dari Meja Warung Kopi

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Jul 2026 10:53 66 redaksi

Menyerap aspirasi di warung kopi selalu menyajikan potret kejujuran publik. Dari balik keriuhan diskusi santai warga Kendari, menyeruak kritik keras terhadap kebijakan rotasi kepala sekolah di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terkesan mendadak.

Salah satu poin yang paling riuh diperbincangkan dan menyisakan tanda tanya besar adalah rencana penggantian Kepala SMAN 1 Kendari.

Kebijakan seleksi dan rotasi yang menyasar sekolah-sekolah unggulan ini memantik diskusi kritis: apa sebenarnya indikator utama dalam menggeser seorang pimpinan lembaga pendidikan?

Mengusik Kemapanan Prestasi

Di bawah kepemimpinan Ruslan, SMAN 1 Kendari bukan sekedar menjalankan rutinitas belajar-mengajar.

Sekolah ini mencatatkan deretan prestasi yang membanggakan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Pendampingan yang konsisten, penataan manajemen sekolah yang solid, hingga pembinaan iklim akademik yang sehat telah membawa SMAN 1 Kendari berada pada performa terbaiknya.

Ketika sebuah sekolah sedang berada dalam tren positif dan menghasilkan deretan rekam jejak nyata, wajar jika publik mempertanyakan urgensi penggantian kepemimpinan.

Dalam prinsip manajemen modern termasuk di dunia pendidikan pendekatan if it ain’t broke, don’t fix it sepatutnya menjadi pertimbangan.

Mengganti figur yang terbukti berprestasi tanpa alasan rekam jejak yang jelas justru berpotensi merusak ritme dan stabilitas mutu pendidikan yang sedang terbangun.

Urgensi dan Transparansi Seleksi

Kritik publik makin mencuat ketika melihat pola seleksi yang terkesan tebang pilih dan hanya menyasar sekolah-sekolah berlabel “unggulan”.

Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah evaluasi kinerja kepala sekolah didasarkan pada objektivitas capaian mutu, ataukah ada pertimbangan lain di luar aspek edukatif?

Lebih jauh lagi, perhatian masyarakat tertuju pada rekam jejak figur pengganti yang digadang-gadang mengisi posisi tersebut.

Publik menggarisbawahi pentingnya melihat catatan kinerja di tempat tugas sebelumnya termasuk dinamika tata kelola dan tren perkembangan sekolah yang ditinggalkan.

Memindahkan kepemimpinan dari sekolah yang tengah menghadapi tantangan keibuan internal menuju sekolah unggulan yang butuh konsistensi prestasi tentu memicu keraguan publik terkait arah kebijakan ini.

Pendidikan Bukan Arena Uji Coba

Kebijakan di sektor pendidikan dampaknya sangat langsung terhadap masa depan generasi muda.

Kepala sekolah bukan sekedar jabatan administratif yang bisa dipertukarkan tanpa kalkulasi matang. Di tangan mereka, arah pembinaan karakter, kualitas pengajaran, dan iklim belajar para siswa ditentukan.

Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan Sultra seharusnya memperjelas tolok ukur dan efektivitas dari kebijakan penggantian ini. Jika alasan seleksi adalah penataan mutu, maka capaian prestasi nyata harus menjadi variabel utama yang dihargai, bukan malah disingkirkan.

Obrolan warga di warung kopi mungkin terdengar sederhana, namun di situlah letak suara jujur masyarakat. Mereka merindukan transparansi dan keberpihakan pada kualitas.

Jangan sampai kebijakan bongkar-pasang pimpinan sekolah justru menjadi langkah mundur bagi dunia pendidikan di Sulawesi Tenggara.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA