Inflasi Sultra 4,74 Persen pada Oktober 2026, Konawe Tertinggi

waktu baca 4 menit
Kamis, 5 Nov 2026 09:15 25 redaksi

RADAR KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 4,74 persen pada Oktober 2026. Angka tersebut berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sultra yang mencapai 114,57.

Berdasarkan data BPS yang dirilis pada 2 November 2026, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 5,44 persen dengan IHK 114,51. Sementara itu, Kota Kendari mencatat inflasi terendah, yakni 4,47 persen dengan IHK sebesar 113,56.

Inflasi tahunan tersebut dipicu kenaikan harga pada seluruh 11 kelompok pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang kenaikan tertinggi sebesar 6,96 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 6,86 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,08 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan 3,98 persen.

Kemudian kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,27 persen, pendidikan 2,77 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,30 persen.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,93 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 1,50 persen; kesehatan 1,21 persen; serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,16 persen.

Meski mengalami inflasi secara tahunan, Sultra justru mencatat deflasi secara bulanan. Pada Oktober 2026, deflasi month to month (m-to-m) tercatat sebesar 0,04 persen.

Adapun inflasi secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 4,53 persen.

Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sultra pada Oktober 2026 sebesar 115,13. Angka ini turun 0,38 persen dibandingkan September 2026 yang mencapai 115,56.

Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) hanya meningkat 0,31 persen, lebih rendah dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik sebesar 0,69 persen.

Pada periode yang sama, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Sultra mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen. Kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi peningkatan indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sultra pada September 2026 tercatat sebesar 37,19 persen.

Angka tersebut meningkat 2,03 poin persentase dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 35,16 persen.

Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang juga mengalami peningkatan. Pada September 2026, rata-rata lama menginap mencapai 1,67 malam, naik dari 1,38 malam pada Agustus 2026.

Berdasarkan asal tamu, sebanyak 98,16 persen merupakan tamu domestik, sedangkan tamu asing sebesar 1,84 persen. Komposisi tersebut mengalami pergeseran 0,08 poin persentase secara bulanan.

Pada sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari Sultra pada September 2026 tercatat sebanyak 52.715 orang.

Jumlah tersebut turun 5,97 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 56.062 orang.

Penumpang angkutan udara domestik yang datang juga mengalami penurunan sebesar 4,27 persen, dari 53.676 orang pada Agustus menjadi 51.383 orang pada September 2026.

Penurunan juga terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang berangkat pada September 2026 tercatat sebanyak 114.585 orang, turun 1,54 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 116.374 orang.

Sementara itu, jumlah penumpang yang tiba melalui angkutan laut domestik turun 2,17 persen, dari 116.441 orang pada Agustus menjadi 113.918 orang pada September 2026.

Di sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sultra pada September 2026 mencapai US$384,06 juta. Nilai tersebut meningkat 7,83 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat sebesar US$309,07 juta.

Peningkatan nilai ekspor terutama didorong komoditas besi dan baja yang mencapai US$377,34 juta, naik 7,63 persen dibandingkan September 2025 sebesar US$350,58 juta.

Berdasarkan sektor, ekspor Sultra selama Januari hingga September 2026 masih didominasi industri pengolahan dengan nilai US$3.037,59 juta atau 99,83 persen dari total ekspor.

Nilai tersebut meningkat 9,39 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar US$2.776,86 juta.

Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sultra selama Januari–September 2026 dengan nilai US$2.940,25 juta atau 95,45 persen dari total ekspor.

Sementara itu, nilai impor Sultra pada September 2026 mencapai US$296,83 juta, meningkat 64,84 persen dibandingkan September 2025.

Peningkatan impor terbesar berdasarkan golongan barang terjadi pada mesin dan peralatan listrik, dengan nilai US$50,53 juta atau meningkat 279,36 persen dibandingkan September 2025.

Selama Januari–September 2026, tiga negara pemasok barang impor terbesar ke Sultra adalah Tiongkok sebesar US$1.710,80 juta, Singapura US$552,48 juta, dan Malaysia US$320,29 juta.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, kelompok bahan baku dan penolong memberikan kontribusi terbesar terhadap impor Sultra selama Januari–September 2026, yakni 57,16 persen dengan nilai US$1.674,83 juta.

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Sultra pada September 2026 mengalami surplus sebesar US$87,23 juta.

Di sektor pertanian, BPS juga mencatat penurunan luas panen dan produksi padi Sultra pada 2026 berdasarkan angka sementara.

Luas panen padi pada 2026 diperkirakan mencapai 143,98 ribu hektare. Angka ini turun 7,83 ribu hektare atau 5,16 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 151,81 ribu hektare.

Sejalan dengan penurunan luas panen, produksi padi pada 2026 diperkirakan sebanyak 646,38 ribu ton gabah kering giling (GKG).

Jumlah tersebut turun 34,44 ribu ton atau 5,06 persen dibandingkan produksi padi pada 2025 yang mencapai 680,82 ribu ton GKG.

Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk juga diperkirakan mengalami penurunan menjadi 371,20 ribu ton pada 2026.

Angka tersebut turun 19,78 ribu ton atau 5,06 persen dibandingkan produksi beras pada 2025 yang mencapai 390,98 ribu ton.

Data tersebut menggambarkan perkembangan ekonomi Sultra pada Oktober 2026, mulai dari pergerakan harga konsumen, kondisi petani, aktivitas pariwisata dan transportasi, hingga perdagangan luar negeri serta produksi pangan daerah.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA