Jalan Rusak, Warga Tobimeita Keluhkan Sikap Kelurahan yang Slow Respon

waktu baca 3 menit
Sabtu, 30 Mei 2026 21:24 77 radarkendari.id

KENDARI – Warga Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, mulai mencapai titik jenuh.

Infrastruktur jalan di wilayah mereka tak kunjung mendapat perhatian serius, sementara pihak kelurahan dinilai lambat merespons (slow respon) dan terkesan menutup mata terhadap keluhan yang sudah menahun ini.

Kantor Kelurahan Tobimeita.

Meski berstatus sebagai wilayah ibu kota provinsi, kondisi jalan di beberapa titik RT justru memprihatinkan.

Data media ini yang dihimpun pada 20 Januari 2026, jalanan sepanjang kurang lebih 3 kilometer yang melintasi RT 03, RT 07, RT 09, RT 10, hingga RT 11 tersebut belum pernah tersentuh aspal sama sekali selama puluhan tahun.

Salah satu warga Kelurahan Tobimeita, Opung, menyampaikan keluhan mendalam mengenai dampak buruk jalan rusak tersebut bagi kehidupan sehari-hari.

Ia menyoroti minimnya kepekaan dari aparat kelurahan setempat dalam mengawal aspirasi warga.

“Sudah berapa kali kami sampaikan aspirasi ini, tapi jalanan kami belum pernah diaspal,” keluh Opung kepada pewarta media ini, Kamis (28/05/2026).

Menurut Opung, kondisi jalan ini menciptakan siklus penderitaan tanpa akhir bagi warga tanpa adanya tindakan responsif dari pemerintah tingkat kelurahan.

“Kalau musim panas, kami harus makan debu setiap hari. Sebaliknya, kalau musim hujan datang, jalanan berubah jadi becek dan berlumpur seperti kubangan,” tambahnya kesal.

Opung juga menegaskan bahwa warga Tobimeita memiliki hak yang sama sebagai penduduk ibu kota untuk menikmati jalan yang layak guna mendukung mobilitas sehari-hari.

Sikap slow respon dan kurangnya pengawalan ketat dari pihak kelurahan terhadap aduan warga ini diperkuat oleh pernyataan Ketua RT 10 Kelurahan Tobimeita, Rosnani.

Saat dikonfirmasi pada Selasa (20/01/2026), Rosnani membenarkan bahwa usulan perbaikan jalan selalu menjadi menu utama dalam setiap Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun realisasinya selalu nihil tanpa kejelasan dari pihak kelurahan maupun dinas terkait.

“Kita sudah jenuh. Tiap tahun di Musrenbang itu terus yang kita usulkan. Sudah pernah datang diukur, eh ternyata tidak jadi lagi,” ujar Rosnani.

Warga semakin kecewa karena lambatnya respons kelurahan membuat anggaran perbaikan jalan diduga dialihkan ke lokasi lain. Wilayah Tobimeita disinyalir dianggap “belum mendesak” oleh pemerintah, sebuah klaim yang dinilai melukai rasa keadilan warga.

Padahal, di RT 10 saja terdapat 50 KK dan di RT 11 mencapai hampir 60 KK yang setiap harinya bergantung pada akses jalan tersebut.

Dampak dari lambannya penanganan ini sangat dirasakan oleh ratusan kepala keluarga. Selain jalanan yang rusak parah, kawasan tersebut juga minim penerangan dan sangat gelap saat malam hari karena ketiadaan lampu jalan.

Kondisi ini tentu mengancam keselamatan warga, terutama anak-anak yang ingin pergi ke sekolah dan warga yang membutuhkan akses cepat ke layanan kesehatan.

Saat ini, masyarakat Kelurahan Tobimeita hanya bisa berharap pemerintah kota—bukan sekadar janji di atas kertas—bisa segera merealisasikan pengaspalan demi kenyamanan dan keselamatan warga.

Warga menuntut pembuktian nyata bahwa pembangunan di Kendari dilakukan secara merata, bukan tebang pilih karena lambatnya birokrasi di tingkat kelurahan.

Hingga berita ini diterbitkan, pewarta media ini masih berusaha menghubungi pihak Kelurahan Tobimeita dan Dinas terkait untuk mendapatkan tanggapan serta hak jawab atas keluhan dan tudingan slow respon dari masyarakat ini.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA