Mengapa Pemerintah Harus “Mengejar” Pelajar untuk Menabung?

waktu baca 5 menit
Rabu, 8 Jul 2026 15:11 43 redaksi

Ketika membaca judul berita “Pelajar Konawe Dikejar Petugas OJK dan BPR, Ada Apa?”, banyak orang mungkin membayangkan sebuah operasi penertiban atau pelanggaran yang dilakukan para siswa.

Namun kenyataannya jauh berbeda. Para pelajar tersebut justru diajak membuka rekening tabungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya menabung sejak usia dini melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).

Sekilas, kegiatan semacam ini mungkin tampak biasa. Membuka rekening bagi seorang pelajar tidak akan langsung mengubah kondisi perekonomian daerah, apalagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat.

Namun, jika dilihat dari konteks pembangunan ekonomi jangka panjang, langkah tersebut sesungguhnya merupakan investasi yang nilainya jauh melampaui saldo awal yang tersimpan di dalam rekening.

Pertanyaannya kemudian, mengapa negara begitu serius “mengejar” pelajar agar memiliki rekening tabungan?

Jawabannya bukan semata-mata untuk meningkatkan jumlah rekening di perbankan. Yang sedang dibangun adalah fondasi perilaku ekonomi masyarakat di masa depan.

Selama bertahun-tahun, pembangunan sektor keuangan sering kali diidentikkan dengan pembangunan gedung bank yang megah, kemajuan teknologi finansial, atau meningkatnya jumlah transaksi digital.

Padahal, kemajuan teknologi hanya akan menjadi infrastruktur yang kosong apabila masyarakat belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara sehat.

Transformasi ekonomi digital tidak dimulai ketika seseorang menggunakan QRIS untuk pertama kalinya. Ia justru dimulai jauh lebih awal, yakni ketika seorang anak belajar menyisihkan uang sakunya, memahami arti menabung, dan mengenal lembaga keuangan formal melalui rekening pertamanya. Di sinilah pentingnya membangun literasi dan inklusi keuangan sejak dini.

Benteng Aman Transaksi Digital

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat perkembangan yang sangat pesat dalam digitalisasi sistem pembayaran.

Transaksi menggunakan QRIS terus meningkat, layanan transfer dana menjadi semakin cepat melalui BI-FAST, sementara berbagai layanan keuangan digital semakin mudah diakses masyarakat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi Indonesia sedang bergerak menuju era yang semakin digital.

Namun, digitalisasi tidak cukup hanya menyediakan teknologi. Ia juga membutuhkan masyarakat yang mampu menggunakannya secara bijaksana.

Tanpa literasi keuangan yang memadai, kemudahan transaksi justru dapat mendorong perilaku konsumtif, meningkatkan risiko penipuan digital, hingga memperbesar kerentanan masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan keuangan yang kini semakin mengkhawatirkan.

Oleh karena itu, membangun budaya menabung bukan sekadar mengajarkan anak menyimpan uang. Lebih dari itu, budaya tersebut menjadi pintu masuk bagi pembentukan karakter finansial seseorang.

Seorang pelajar yang terbiasa memiliki rekening akan mulai belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Ia memahami bahwa uang tidak selalu harus dihabiskan hari ini, melainkan dapat disimpan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan.

Kebiasaan sederhana tersebut perlahan membentuk disiplin finansial, kemampuan menyusun prioritas, hingga kesadaran untuk merencanakan masa depan. Karakter inilah yang sesungguhnya menjadi modal penting dalam menghadapi ekonomi digital.

Bagi Bank Indonesia, upaya membangun budaya menabung memiliki keterkaitan erat dengan agenda besar menciptakan sistem pembayaran yang inklusif, efisien, aman, dan terpercaya.

Digitalisasi pembayaran tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.

Kepercayaan tersebut tidak muncul seketika. Ia tumbuh melalui pengalaman berinteraksi dengan lembaga keuangan sejak usia muda.

Ketika seorang pelajar membuka rekening, ia mulai mengenal bagaimana menyimpan uang secara aman, melakukan transaksi secara tertib, hingga memahami bahwa sistem keuangan bekerja berdasarkan kepercayaan.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting ketika kelak ia menggunakan layanan mobile banking, QRIS, dompet digital, bahkan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas ekonomi digital lainnya.

Dalam konteks ini, rekening pertama bukan sekadar produk perbankan. Ia merupakan gerbang awal menuju partisipasi dalam ekonomi modern.

Lebih jauh lagi, pembangunan budaya menabung sejak usia sekolah juga memiliki dimensi sosial yang tidak kalah penting.

Peluang Emas Generasi Muda

Indonesia sedang bersiap menyongsong bonus demografi, ketika proporsi penduduk usia produktif mencapai puncaknya. Momentum tersebut sering disebut sebagai peluang emas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, bonus demografi tidak serta-merta menghasilkan kesejahteraan apabila generasi mudanya belum memiliki kecakapan mengelola keuangan.

Generasi yang melek teknologi tetapi tidak memahami pengelolaan keuangan akan lebih mudah terjebak dalam konsumsi berlebihan, pinjaman yang tidak produktif, hingga berbagai bentuk penipuan digital yang semakin marak.

Sebaliknya, generasi yang sejak dini memahami pentingnya menabung akan lebih siap menjadi pekerja produktif, pelaku usaha, hingga investor ritel.

Dengan kata lain, rekening pelajar hari ini dapat menjadi fondasi bagi stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.

Di tingkat daerah, upaya memperluas kepemilikan rekening pelajar tampaknya semakin relevan. Di Sulawesi Tenggara, misalnya, semakin banyak anak muda yang mengenal layanan keuangan formal akan memperluas akses masyarakat terhadap berbagai layanan ekonomi, mulai dari pembayaran digital, pembiayaan usaha, hingga aktivitas kewirausahaan di masa mendatang.

Hal ini menjadi penting karena pembangunan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan peluang ekonomi tersebut.

Membangun literasi keuangan sejak bangku sekolah berarti mempersiapkan generasi yang lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi, lebih tangguh menghadapi risiko, serta lebih percaya diri memanfaatkan berbagai inovasi digital yang terus berkembang.

Karena itu, keberhasilan Program KEJAR seharusnya tidak diukur semata dari berapa ribu rekening yang berhasil dibuka setiap tahun.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak pelajar yang kemudian benar-benar memiliki kebiasaan menabung, memahami nilai uang, dan tumbuh menjadi masyarakat yang cerdas secara finansial.

Pada akhirnya, membangun ekonomi yang kuat bukan lagi perkara investasi besar, pembangunan infrastruktur, atau kecanggihan teknologi. Ia juga bergantung pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibangun sejak dini. **

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA