350 Mahasiswa Pencinta Alam dari Berbagai Daerah Bakal Berkumpul di Sultra

waktu baca 4 menit
Jumat, 2 Okt 2026 20:13 102 redaksi

RADAR KENDARI — Sebanyak 350 mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah di Indonesia bakal berkumpul di Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) XXXV.

Kegiatan nasional yang digelar Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo (MAHACALA UHO) tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22–28 Oktober 2026.

TWKM XXXV mengusung tema “Hilirisasi Hijau: Kolaborasi Pemuda dan Industri untuk Indonesia Emas 2045.”

Tema ini menjadi pintu masuk bagi mahasiswa pencinta alam untuk membahas hubungan antara pembangunan industri, pemanfaatan sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.

Ketua Umum MAHACALA UHO, Ika Amalia, mengatakan TWKM XXXV memiliki dua agenda utama, yakni Temu Wicara dan Kenal Medan.

Temu Wicara menjadi ruang diskusi mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah untuk membahas persoalan organisasi serta isu-isu lingkungan. Rangkaian agenda tersebut meliputi Seminar Nasional Green Industrial Dialogue, sidang pleno, hingga sidang komisi.

Dari total peserta, sebanyak 200 mahasiswa akan mengikuti Temu Wicara. Sementara 150 peserta lainnya mengikuti rangkaian Kenal Medan yang terbagi dalam tiga kegiatan, yakni gunung hutan, panjat tebing, dan diving.

Masing-masing kegiatan Kenal Medan diikuti 50 peserta.

Ika mengatakan, pembahasan dalam Temu Wicara ditargetkan menghasilkan Manifesto Hijau 2045, yang akan menjadi rumusan bersama sekaligus bahan masukan bagi pemerintah.

“Temu Wicara menjadi ruang bagi kami untuk membahas isu-isu lingkungan dan persoalan yang terjadi di berbagai daerah. Dari forum ini, kami ingin menghasilkan rumusan bersama yang bisa menjadi masukan kepada pemerintah,” kata Ika dalam konferensi pers di Kendari, Jumat (2/10/2026).

Tak hanya berdiskusi di ruang forum, para peserta juga akan turun langsung ke lapangan melalui rangkaian Kenal Medan.

Sejumlah kawasan alam di Sultra dipilih menjadi lokasi kegiatan. Di antaranya Pegunungan Karst Matarombeo di Desa Bendewuta, Kecamatan Oheo, Konawe Utara untuk kegiatan panjat tebing, perairan Wakatobi di Wangi-Wangi untuk diving, serta Gunung Mekongga di Desa Tinukari, Kolaka Utara untuk kegiatan gunung hutan.

Menurut Ika, Kenal Medan menjadi bagian penting dari TWKM karena peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga melihat secara langsung kondisi lingkungan di lapangan.

“Apa yang mereka temukan di lapangan nantinya dibawa kembali ke forum untuk dibahas dan dirumuskan bersama,” ujarnya.

Panitia juga menyiapkan sejumlah agenda pengabdian dan aksi lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang, Kendari Bersih, hingga bakti sosial di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.

Pemilihan Sultra sebagai tuan rumah TWKM XXXV bukan tanpa alasan. Daerah ini memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus aktivitas industri yang terus berkembang.

Kondisi tersebut dinilai relevan dengan tema hilirisasi hijau yang diangkat dalam TWKM XXXV.

“Kami ingin pembangunan terus maju tanpa mengabaikan lingkungan dan kondisi sosial masyarakat. Sulawesi Tenggara memiliki potensi alam dan industri, sehingga melalui kegiatan ini kami ingin mempertemukan pembahasan tentang pembangunan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan,” kata Ika.

Selain menjadi forum mahasiswa pencinta alam, TWKM XXXV juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi alam dan wisata Sultra kepada peserta dari berbagai daerah.

Ketua Panitia TWKM XXXV, Muhamad Kurniawan, mengatakan persiapan kegiatan kini memasuki tahap akhir.

Sejumlah universitas dan organisasi mahasiswa pencinta alam dari berbagai daerah telah mengonfirmasi kehadiran dalam kegiatan nasional tersebut.

TWKM XXXV juga direncanakan dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

“Untuk persiapan, secara keseluruhan kami sudah siap. Beberapa peserta dari universitas di Indonesia sudah mengonfirmasi kehadiran dan panitia juga telah menyiapkan kebutuhan teknis untuk seluruh rangkaian kegiatan,” ujar Kurniawan.

Untuk Kenal Medan, peserta akan dibagi ke dalam tiga kelompok kegiatan dengan kuota masing-masing 50 orang.

Khusus peserta gunung hutan di Gunung Mekongga, keberangkatan dilakukan lebih awal, yakni pada 20 Oktober. Kegiatan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar satu pekan.

Aspek keselamatan menjadi perhatian khusus panitia. Tim evakuasi akan ditempatkan di Pos 2 Gunung Mekongga. Panitia juga berkoordinasi dengan ORARI Kolaka untuk memastikan komunikasi selama kegiatan di lapangan.

“Kami sudah menyiapkan jalur evakuasi dan tim yang akan berada di Pos 2 sebagai tim evakuasi. Untuk komunikasi di lapangan, kami juga sudah berkoordinasi dengan ORARI Kolaka sehingga apabila terjadi kondisi yang membutuhkan penanganan, komunikasi bisa tetap berjalan,” jelas Kurniawan.

Ia menambahkan, peserta TWKM XXXV tidak hanya mengikuti forum, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman langsung dengan melihat potensi alam dan wisata di Sultra.

“Teman-teman yang datang dari berbagai daerah tidak hanya mengikuti forum, tetapi juga kami ajak melihat langsung potensi alam dan wisata yang ada di Sulawesi Tenggara,” katanya.

Sementara itu, Ika menegaskan pembahasan TWKM XXXV diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi. Temuan selama Kenal Medan maupun aksi pengabdian akan menjadi bahan pembahasan dalam penyusunan rekomendasi.

Salah satu isu yang ingin mendapat perhatian adalah pengelolaan kawasan bekas tambang yang dinilai belum optimal.

“Kami ingin melihat bagaimana pembangunan di daerah kita berjalan berdampingan dengan industri dan lingkungan yang harus dijaga. Salah satunya persoalan kawasan bekas tambang yang belum dikelola dengan baik,” pungkas Ika.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA