Universitas yang Dirindukan Dunia: Catatan untuk Pemilihan Rektor UHO 2026–2030

waktu baca 8 menit
Selasa, 13 Okt 2026 09:45 199 redaksi

Dunia pemeringkatan perguruan tinggi ibarat ruang berisi tiga cermin raksasa. Times Higher Education(THE), ARWU (Shanghai Ranking), dan QS (World University Rankings) memantulkan bayangan kampus kita dari sudut pandang yang berbeda.

THE bicara tentang keseimbangan dan pengakuan global. ARWU berteriak lantang soal kejayaan riset elite. QS membisikkan apa yang dinilai pasar dan generasi masa depan.

Tapi, mari kita jujur. Mengejar peringkat secara membabi buta adalah jebakan. Di balik semua indikator itu, hanya ada satupesan universal: kampus harus relevan. Kampus harus berpengaruh.

Kampus harus berdampak. Di tengah perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks, menjadi world-class university bukan soal angka. Ia soal makna. Dan makna itu sedang diuji pada Selasa 13 Oktober 2026, di Universitas Halu Oleo.

Dalam beberapa jam ke depan, sivitas akademika UHO akan menentukan siapa yang memimpin kampus ini untuk periode 2026–2030. Pemilihan rektor bukansekadar pergantian pejabat.

Ia adalah momen untuk menjawab satu pertanyaan fundamental: UHO mau dibawa ke mana? Apakah kita akan puas menjadi kampus yang hanya memenuhi indikator administratif? Ataukah kita berani bercita-cita menjadi kampus yang dirindukan dunia—bukan karena angka di papan peringkat, tetapi karena keberadaannya terasa bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban?

Mari kita mulai dari riset. THE mengukur dampak sitasi. ARWU menghitung peneliti paling banyak disitir.

Keduanya menyampaikan pesan yang sama: kuantitas publikasi bukanlah segalanya. Yang dicari adalah “gempa intelektual”—temuan yang mengubah cara dunia berpikir.

Bayangkan dua sosok profesor. Yang pertama, selama sepuluh tahun, menerbitkan lima puluh makalah di jurnal nasional. Tapi ketika ditanya apakah peneliti di Jepang atau Jerman menggunakan temuannya, ia terdiam.

Yang kedua, hanya menerbitkan lima makalah sepanjang karier. Namun setiap makalahnya menjadi fondasi bagi ratusan riset lain di berbagai belahan dunia.

Inilah bedanya: antara sekadar menghasilkan kertas dan menghasilkan dampak abadi. Kampus kelas dunia adalah kampus yang risetnya tidak mati di rak perpustakaan. Ia hidup di laboratorium.

Ia menginspirasi kebijakan publik. Ia melahirkan inovasi industri. Karena itu, sudah waktunya kampus kita berhenti menghitung output. Mulailah menghitung outcome.

Seberapa banyak kertas kita menjadi satu loncatan bagi penemuan orang lain? Berapa banyak mahasiswa asing datang kuliah di kampus ini?

Rektor UHO 2026–2030 harus menjadikan ini sebagai agenda utama: mengubah budaya riset dari sekadar mengejar publikasi menjadi mengejar dampak.

UHO memiliki kekayaan alam dan sosial yang luar biasa—nikel, kelautan, pertanian, budaya (Budaya Tolaki, Buton, Muna, Moronene atau budaya lainnya), dan masyarakat adat itu menyimpan kearifan ekologis.

Riset tentang semua ini seharusnya tidak berhenti di jurnal lokal. Ia harus menjadi rujukan dunia. Rektor ke depan perlu membangun ekosistem riset yang mendukung terobosan: dana yang cukup, birokrasi yang longgar, dan keberanian mengambil riset berisiko tinggi dengan hadiah tinggi. Tanpa itu, UHO akan terus menjadi penonton dalam panggung pengetahuan global.

Dari riset, kita melangkah pada reputasi. QS dan THE memberi bobot besar pada survei reputasi, baik dari akademisi maupun dari dunia kerja. Ini pengakuan yang halus, tapi brutal: jika dunia tidak mengenalmu, kamu dianggap tidak ada.

Reputasi bukanlah sesuatu yang turun dari langit. Ia lahirdari setiap jabat tangan. Ia tumbuh dari setiap surel kolaborasi. Ia menguat dari setiap mahasiswa magang yang berkesan. Ada cerita nyata tentang sebuah universitas di Asia.

Riset energi suryanya sangat maju. Tapi tidak ada satu pun profesor asing yang pernah mendengarnya. Mengapa? Karena mereka tidak pernah hadir di konferensi internasional.

Mereka tidak pernah menjadi editor jurnal global. Mereka jarang menulis dalam bahasa Inggris. Setiap dosen adalah duta besar. Di mana pun ia melangkah, ia membawa nama kampusnya. Ketika dosen mengajar satu semester di universitas mitra, nama kampus tersebar.

Ketika mahasiswa magang di perusahaan multinasional dan menunjukkan kinerja luar biasa, nama kampus bersinar. Reputasi tidak datang dari keheningan. Ia lahir dari keberanian untuk tampil dan berkontribusi di forum global.

Kampus kita perlu membangun branding akademik yang agresif. Bukan untuk pamer, untuk berkolaborasi. Undang profesor asing. Kirim mahasiswa ke perusahaan dunia. Terjemahkan setiap karya besar ke dalam bahasa internasional.

Di bawah kepemimpinan rektor baru, UHO harus berani keluar dari zona nyaman. Selama ini, banyak dosen dan mahasiswa UHO yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk bersaing di forum global, tetapi terkendala oleh keterbatasan dukungan institusi, banyak dosen dan mahasiswa yang lolos mempresentasikan paper di International conferences tapi mereka harus menanggung biaya sendiri.

Rektor 2026–2030 perlu memastikan bahwa setiap dosen memiliki kesempatanuntuk berkolaborasi internasional, setiap mahasiswa memilikiakses ke pengalaman global, dan setiap karya besar UHO dikenal dunia. Internasionalisasi bukan proyek sampingan. Ia harus menjadi DNA kampus.

Di sisi lain, ARWU hadir dengan pendekatan yang berbeda. Terkesan elitis. Pemeringkat ini hanya mengakui pencapaiantertinggi: Nobel, Fields Medal, publikasi di Nature dan Science.

Banyak yang menganggap ini tidak realistis bagiuniversitas di negara berkembang. Dan memang ada benarnya. Tapi, coba lihat ARWU dari sudut lain. Ia bukan mimpi yang mustahil.

Ia adalah pengingat akan standar emas. Anggap sajaseperti Olimpiade. Tidak semua pelari bisa menjadi Usain Bolt. Tapi apakah kita berhenti membangun trek lari? Tentu tidak. Kita membangun trek agar anak-anak terbiasa dengan lintasan cepat.

Agar pelatih belajar teknik start yang baik. Agar suatu hari, mungkin salah satu dari kita mampu memecahkan rekor. Kampus yang baik menciptakan ekosistem riset yang mendukung terobosan. Dana riset yang cukup.

Birokrasi yang longgar, tidak menghambat kreativitas. Keberanian untuk mengambil riset berisiko tinggi dengan hadiah tinggi. Jika kita tidak pernah mencoba mengambil risiko tinggi, berdiri di puncak maka kita tak akan pernah tahurasanya menjadi yang terbaik. Bukan soal kapan kita menang. Tapi soal keberanian untuk mulai berlomba di lintasan yang benar.

Pemilihan rektor hari selasa ini adalah momen untuk memutuskan: apakah UHO berani berlomba di lintasan yang benar? Bukan lintasan yang paling mudah, bukan lintasan yang paling cepat, tetapi lintasan yang mengarah pada keunggulan sejati.

Rektor 2026–2030 harus memiliki visi yang jelas tentang riset unggulan UHO—bidang apa yang akan kitatekuni secara serius, sumber daya apa yang akan kita alokasikan, dan bagaimana kita akan mengukur keberhasilannya. Tanpa visi ini, UHO akan terus tersebar di terlalu banyak agenda dan tidak unggul di satu pun.

Sementara itu, QS memperkenalkan indikator baru: Keberlanjutan dan Hasil Kerja Lulusan. Ini langkah paling visioner dalam dunia pemeringkatan. Dunia sedang sakit. Perubahan iklim mengancam.

Kesenjangan sosial melebar. Generasi muda tidak lagi mencari sekadar kampus. Mereka mencari tempat yang menjadi bagian dari solusi, bukan bagiandari masalah. Bayangkan Anda mahasiswa baru tahun 2026. Setiap hari Anda membaca berita tentang pengrusakan hutan, polusi, pengangguran.

Anda bertanya, “Kampus mana yang mengajari saya tidak hanya mencari uang, tapi juga menyelamatkan bumi?” Orang tua Anda bertanya, “Setelah lulus, apakah anak saya bisa langsung bekerja?” Universitas masa depan harus menjawab dua pertanyaan itu sekaligus.

Ayo jadikan kampus sebagai laboratorium hidup. Hitung jejakkan bon setiap tahun. Libatkan mahasiswa dari semua jurusan untuk mencari cara menguranginya. Ciptakan mata kuliah wajib tentang SDGs untuk semua fakultas.

Kurikulum kita saat ini sebagian besar sudah berbasis proyek, bagi yang belum ayo ubah kurikulum menjadi berbasis proyek nyata. Bukan sekadar teori. Mahasiswa harus mampu menyelesaikan masalah riil di perusahaan dan masyarakat.

Jika lulusan kita hanya pintar ujian, tetapi tidak siap kerja dan tidak peduli lingkungan, maka kita gagal. Gagal menjadi world-class university dalam arti yang sesungguhnya.

Dan di sinilah UHO memiliki peluang yang tidak dimiliki banyak kampus lain. UHO berada di jantung Sulawesi Tenggara—wilayah yang sedang mengalami transformasi besar akibat industri nikel, sekaligus menyimpan kekayaan ekologis dan budaya yang luar biasa.

Rektor 2026–2030 dapat menjadikan UHO sebagai pusat kajian nikel berkelanjutan, pusat riset kelautan, pusat studi kearifan lokal, pusat kolaborasi riset pertambangan, dan pusat inovasi pertanian tropis . Ini bukan mimpi. Ini peluang nyata. Tetapi peluang inihanya akan terwujud jika rektor yang terpilih memiliki keberanian untuk mengambil risiko, kemampuan untuk membangun kolaborasi, dan komitmen untuk menjadikan UHO bukan sekadar kampus di Kendari, tetapi kampus yang diperhitungkan dunia.

Pada akhirnya, mari kita lihat semua indikator ini buka sebagai ancaman. Bukan pula beban administrasi. Ia adalah peta jalan. Menuju perbaikan diri. Menjadi world-class university bukan tujuan akhir yang diraih dalam semalam.

Ia adalah proses tanpa henti. Menjadi lebih baik dari harikemarin. Mulailah dari hal-hal kecil yang konkret. Perbaiki rasio dosen-mahasiswa dengan rekrutmen dosen berkualitas.

Fasilitasi kolaborasi internasional, semakin banyak semakin baik. Tanamkan budaya ilmiah yang jujur dan berani. Bangun pusat karier yang benar-benar menghubungkan mahasiswa dengan industri. Ingat, peringkat adalah konsekuensi, bukan misi.

Misi kita adalah mencerdaskan bangsa. Misi kita adalahmemajukan peradaban. Ketika kualitas, dampak, dan internasionalisasi tumbuh secara autentik dan terintegrasi dalam DNA kampus, peringkat global akan datang dengan sendirinya. Ia menjadi mahkota dari kerja keras kita.

Kepada rektor yang akan terpilih: Anda tidak hanya memimpin sebuah institusi. Anda memimpin harapan. Harapan ribuan mahasiswa yang ingin masa depan lebih baik. Harapan ratusan dosen yang ingin karyanya diakui. Harapan masyarakat Sulawesi Tenggara yang ingin kampusnya menjadi bagian dari solusi, bukan penonton.

Harapan bangsa yang ingin UHO menjadi mercusuar pengetahuan di Indonesia timur.

Bayangkan dua puluh tahun dari sekarang. Seorang anak di Afrika membaca jurnal tentang pengolahan air bersih.

Ia menemukan nama universitas kita. Seorang CEO di Jerman merekrut lulusan kita. Ia tahu lulusan kita adalah pemecah masalah, bukan pengeluh. Sebuah desa di Indonesia merasakan kehadiran kita. Riset kita membantu mereka panendua kali lipat.

Itulah world-class sejati. Bukan karena angka di papan peringkat. Tapi karena keberadaan kita terasa. Karena kita dirindukan dunia. Sudah saatnya kita berhenti menjadi pengikut.

Mulai menjadi pembuat arah. Mari bangun kampus yang tidak hanya diakui dunia. Tapi dirindukan dunia. Karena sumbangsihnya.

Selamat memilih. Selamat memimpin. Selamat membangun UHO yang dirindukan dunia.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA