Prof Takdir Saili Resmi Jabat Rektor UHO 2026–2030

waktu baca 4 menit
Minggu, 25 Okt 2026 11:16 17 redaksi

RADAR KENDARI – Prof. Dr. Ir. Takdir Saili, M.Si., resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., Selasa (20/10/2026).

Pelantikan tersebut menandai dimulainya kepemimpinan Prof. Takdir Saili dalam mengarahkan pengembangan UHO selama empat tahun ke depan, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengangkatan Prof. Takdir Saili tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 231/M/K/2026 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Halu Oleo Periode Tahun 2026–2030.

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan keputusan menteri, pengambilan sumpah jabatan, serta penandatanganan berita acara sumpah. Pelantikan kemudian ditandai dengan pengalungan tanda jabatan oleh menteri.

Dalam sambutannya, Brian Yuliarto menyampaikan ucapan selamat kepada Prof. Takdir Saili. Ia berharap rektor yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan penuh integritas, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Menurut Brian, jabatan rektor bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah besar yang berkaitan dengan masa depan mahasiswa, kepercayaan orang tua, pengembangan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan, serta harapan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang berkualitas.

Ia menegaskan, perguruan tinggi harus menjadi lingkungan akademik yang memberikan kesempatan kepada seluruh sivitas akademika untuk berkembang.

Mahasiswa perlu memperoleh akses pembelajaran yang berkualitas, dosen harus memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan penelitian, sedangkan tenaga kependidikan perlu mendapatkan penghargaan atas kontribusinya.

Menteri juga menekankan pentingnya membangun lingkungan kampus yang aman, terbuka, inklusif, dan memberikan kesempatan secara adil kepada seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Sebagai perguruan tinggi negeri di Sulawesi Tenggara, UHO diharapkan mengambil peran lebih besar dalam mendukung pembangunan daerah dan kemajuan kawasan Indonesia Timur.

Brian menilai, kontribusi perguruan tinggi tidak cukup hanya melalui kegiatan pendidikan di ruang kelas. Kampus juga harus mampu menghasilkan penelitian, inovasi, dan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa dalam membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, industri, serta dunia usaha.

Menurutnya, kerja sama tersebut penting agar aktivitas akademik tidak terpisah dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Perguruan tinggi perlu membuka ruang dialog, memahami kebutuhan daerah, dan mengembangkan kemitraan yang memungkinkan hasil penelitian dimanfaatkan secara lebih luas.

Potensi lokal Sulawesi Tenggara, lanjutnya, dapat menjadi sumber pembelajaran dan penelitian yang dikembangkan secara berkelanjutan. Melalui pengembangan potensi tersebut, UHO diharapkan mampu menghasilkan kajian dan inovasi yang mendukung penyelesaian persoalan daerah, membuka peluang kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Arahan tersebut sejalan dengan semangat Dikti Saintek Berdampak, yakni memastikan ilmu pengetahuan dan inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari aktivitas akademik di dalam kampus, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjawab tantangan pembangunan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Brian turut mengingatkan pentingnya mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang berlangsung cepat.

Perguruan tinggi diharapkan membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan bekerja sama. Bekal tersebut diperlukan agar lulusan mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus berkontribusi bagi daerah dan bangsa.

Selain penguatan kualitas pembelajaran, menteri menekankan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi harus dijalankan dengan integritas, keterbukaan, serta kesediaan mendengarkan aspirasi seluruh warga kampus.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan universitas harus dibangun melalui kebersamaan dan kerja kolektif. Kampus bukanlah arena kontestasi politik, melainkan ruang bersama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi.

Karena itu, kepemimpinan rektor diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik dengan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh unsur universitas.

Keterlibatan seluruh sivitas akademika dinilai menjadi kunci dalam memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Brian berharap kepemimpinan Prof. Takdir Saili dapat membawa UHO semakin maju serta memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.

Rangkaian pelantikan ditutup dengan doa bersama, pemberian ucapan selamat dari menteri dan para tamu undangan, serta sesi foto bersama.

Pelantikan Prof. Takdir Saili sebagai Rektor UHO periode 2026–2030 menjadi momentum bagi universitas untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas akademik, dan memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Dengan dukungan seluruh sivitas akademika, UHO diharapkan semakin berperan dalam mendorong kemajuan Sulawesi Tenggara, kawasan Indonesia Timur, dan pembangunan nasional melalui pendidikan, penelitian, serta inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA