Ekonom : El Nino Pengaruhi Perekonomian Daerah

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Nov 2023 10:04 112 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID ; Kendari – Badai El Nino melanda hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Sulawesi Tenggara (Sultra). Musim kemarau berkepanjangan tersebut diprediksi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

Pakar Ekonomi dari Universitas Halu Oleo (UHO) Prof Nurwati memprediksikan, ekonomi Sultra pada triwulan III ini tumbuh melambat akibat fenomena El Nino yang melanda Sultra sejak beberapa bulan terakhir.

“Ini (El Nino) akan sangat berdampak sekali terhadap perekonomian kita. Bisa kita saksikan sendiri di pasar saat ini harga sembako sudah naik. Misalnya harga beras saat ini sudah menembus harga Rp 700 ribu per 50 kilogram. Sementara normalnya itu hanya berkisar Rp 600 ribu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, kata Prof Nurwati, menjadi gambaran terjadinya inflasi yang tentunya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Harga sembako dipasaran rata-rata mengalami kenaikan. Kami prediksi inflasi pada triwulan ini naik sekitar 40 sampai 60 persen. Kondisi ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita,” kata Prof Nurwati.

Prof Nurwati menyarankan pemerintah untuk segera bergerak mengendalikan kenaikan harga sembako di pasaran. Tujuannya agar masyarakat bisa menjangkau bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Pemerintah harus turun tangan melalui pemberian subsidi atau bantuan stimulan kepada masyarakat,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Provinsi Sultra, Doni Septadijaya memprediksi ekonomi Sultra tetap tumbuh positif pada triwulan III 2023. Itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan sebelumnya yang tumbuh positif.

Misalnya pada triwulan l 2023 ekonomi Sultra tumbuh 6,48 persen year on year (yoy), selanjutnya pada triwulan II 2023 tercatat tumbuh 4,58 persen. Ia tak menampik jika saat ini fenomena El Nino tengah melanda tanah air termasuk Sultra. Kendati demikian, pemerintah tengah bergerak cepat untuk melaksanakan pengendalian.

“Upaya pengendalian inflasi terus dilakukan pemerintah melalui TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah). TPID bersama Pemerintah Daerah setempat melaksanakan gerakan pangan murah (GPM) serentak diseluruh wilayah Sultra. Upaya ini dilaksanakan untuk menekan laju inflasi sehingga dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah,” ungkap Doni Septadijaya.

Sekedar informasi, pada Triwulan II 2023, Sultra mengalami inflasi sebesar 5,32 persen (yoy), lebih rendah dari inflasi tahunan pada Triwulan I 2023 yang sebesar 6,58 persen (yoy), namun lebih tinggi jika dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,52 persen (yoy).

Inflasi pada triwulan II 2023 dipicu oleh beberapa kelompok pengeluaran, utamanya Kelompok Transportasi dengan tingkat inflasi 15,91 persen (yoy) dan andil sebesar 2,48 persen (yoy).

Inflasi Kelompok Transportasi dipicu oleh tingginya kenaikan tarif angkutan udara sebagai dampak peningkatan permintaan pasca pandemi dan dampak Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN) Idul Fitri dan Idul Adha, serta libur sekolah perdana sejak pencabutan ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara nasional.

Selanjutnya, inflasi didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dipicu oleh Subkelompok Makanan dengan inflasi sebesar 4,36 persen (yoy) dan andil inflasi sebesar 1,40 persen(yoy).

Berdasarkan komoditasnya, inflasi kelompok ini didorong oleh beras, ikan kembung/ikan gembung, dan cumi-cumi. Tingginya inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dipicu oleh masih tingginya harga beras pada Triwulan II 2023 akibat tingginya permintaan masyarakat di tengah masih terbatasnya pasokan secara nasional.

Selanjutnya, adanya peningkatan gelombang laut, peningkatan suhu permukaan laut, serta pemrosesan perizinan kapal sesuai ketentuan WPP 714 yang masih belum selesai mendorong penurunan hasil produksi ikan segar, yang menyebabkan tingginya inflasi pada komoditas tersebut pada Triwulan II 2023.

Kelompok selanjutnya yang memicu peningkatan inflasi pada periode laporan adalah Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi sebesar 3,76 persen (yoy) dengan andil 0,51 persen (yoy).

Tingginya inflasi pada Triwulan II 2023 didorong oleh komoditas Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil sebesar 0,29 persen (yoy) akibat dampak penetapan kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 oleh pemerintah provinsi.

Di sisi lain, inflasi lebih tinggi tertahan oleh penurunan tekanan inflasi yang terjadi pada sub kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,43 persen (yoy) dengan andil -0,03 persen (yoy).

(wan)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA