HARI GIZI NASIONAL 2026: KONTRIBUSI POLTEKKES KEMENKES KENDARI MEMBANGUN GIZI BERKELANJUTAN DI SULAWESI TENGGARA

waktu baca 5 menit
Rabu, 7 Jan 2026 11:30 383 radarkendari.id

Hari Gizi Nasional (HGN) 2026 menjadi momentum pentinguntuk menegaskan bahwa persoalan gizi bukan sekadar urusan dapur atau layanan kesehatan, melainkan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.

Data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8% sedangkan di provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sebesar 26,1%  masih  diatas rata-rata nasional, disertai masalah anemia pada ibu hamil dan remaja putri yang belum sepenuhnya tertangani.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa kondisi ini membutuhkan kerja bersama lintas sektor.

Meskipun terjadi penurunan, Sulawesi Tenggara masih termasuk daerah dengan angka stunting tinggi sehingga diperlukan komitmen seluruh pihak untuk menekannya secara berkelanjutan.  

Fakta ini menegaskan bahwa penguatan ekosistem gizi berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan generasi masa depan tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Tema Penguatan Ekosistem Gizi Berkelanjutan menegaskan bahwa upaya perbaikan gizi harus dilakukan secara menyeluruh, berkesinambungan, dan melibatkan berbagaisektor.

Gizi yang baik hari ini menentukan kualitas sumberdaya manusia di masa depan.

Di Sulawesi Tenggara, tantangan gizi masih nyata. Stunting, anemia pada ibu hamil dan remaja putri, serta perubahan polamakan masyarakat menuju pangan instan dan ultra-proses menjadi perhatian serius.

Di sisi lain, daerah ini memilikikekayaan pangan lokal yang melimpah dan beragam, yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi fondasi ekosistemgizi yang kuat dan berkelanjutan.

Apa Itu Ekosistem Gizi Berkelanjutan?

Ekosistem gizi berkelanjutan dapat dipahami sebagai suatu sistem yang memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pangan bergizi, aman, dan terjangkau secara terus-menerus, tanpa merusak lingkungan dan sumber daya alam.

Konsep ini mencakup seluruh rantai, mulai dari produksi pangan, distribusi, pola konsumsi, hingga perilaku hidup sehat.

Dengan pendekatan ekosistem, masalah gizi tidak hanya diselesaikan melalui intervensi medis, tetapi juga melalui penguatan ketahanan pangan lokal, edukasi gizi, perbaikan lingkungan, serta kebijakan yang berpihak pada kesehatan masyarakat.

Pendekatan ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Potensi dan Tantangan Gizi di Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara dikenal sebagai wilayah kepulauan dengan potensi sumber pangan lokal yang besar, seperti ikan laut, rumput laut, jagung, umbi-umbian, sagu, serta berbagai sayur dan buah lokal. Pangan-pangan ini kaya zat gizi dan memiliki nilai budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Masih dijumpai masalah keterbatasan literasi gizi, rendahnya variasi konsumsi pangan bergizi, serta ketergantungan pada produk pangan olahan.

Selain itu, faktor sosial ekonomi dan akses layanan kesehatan yang belum merata turut memengaruhi status gizi masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Peran Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Gizi

Sebagai institusi pendidikan tenaga kesehatan, Poltekkes Kemenkes Kendari memiliki peran strategis dalam penguatan ekosistem gizi berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.

Jurusan Gizi menjadi motor penggerak dalam mencetak tenaga gizi yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga peka terhadap kebutuhan dan potensi lokal.

Pendidikan yang Relevan dengan Tantangan Daerah

Melalui proses pendidikan, mahasiswa Jurusan Gizi dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang gizi seimbang, keamanan pangan, gizi masyarakat, serta pemanfaatan pangan lokal.

Isu stunting, anemia, dan keberlanjutan pangan diintegrasikan dalam pembelajaran, sehingga lulusan siap berkontribusi langsung di masyarakat.

Penelitian Terapan untuk Solusi Gizi Lokal

Dosen dan mahasiswa Jurusan Gizi juga aktif melakukan penelitian terapan yang berfokus pada permasalahan gizi di Sulawesi Tenggara.

Penelitian tentang pengembangan produk pangan lokal bergizi, edukasi gizi berbasis komunitas, serta evaluasi program gizi menjadi sumber solusi berbasis bukti yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Pengabdian Masyarakat sebagai Wujud Aksi Nyata

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Poltekkes Kemenkes Kendari berkontribusi langsung dalam meningkatkan literasi dan praktik gizi masyarakat.

Edukasi gizi keluarga, pendampingan kelompok berisiko stunting, pelatihan pengolahan pangan lokal, serta pemberdayaan kader kesehatan merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem gizi yang berkelanjutan dari tingkat akar rumput.

 Kolaborasi untuk Dampak yang Lebih Luas

Penguatan ekosistem gizi tidak dapat dilakukan oleh satupihak saja. Diperlukan kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, puskesmas, sekolah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta. Sinergi ini penting untuk memastikan program gizi berjalan berkesinambungan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Momentum Hari Gizi Nasional 2026 dapat dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat kolaborasi tersebut, melalui kampanye gizi, edukasi berbasis komunitas, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menyebarluaskan informasi gizi yang benar dan mudah dipahami.

Penutup

Penguatan ekosistem gizi berkelanjutan bukan sekadar agenda program, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Sulawesi Tenggara. Momentum Hari Gizi Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa upaya perbaikan gizi harus dilakukan secara konsisten, berbasis data, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Sebagai institusi pendidikan vokasi kesehatan, Poltekkes Kemenkes Kendari melalui Jurusan Gizi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda tersebut.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, kampus tidak hanya mencetak tenaga gizi yang kompeten, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan di tingkat komunitas.

“Penguatan ekosistem gizi berkelanjutan harus dimulai dari peningkatan literasi gizi masyarakat dan pemanfaatan potensi pangan lokal. Poltekkes Kemenkes Kendari berkomitmen untuk terus hadir mendampingi masyarakat dan pemerintah daerah dalam upaya perbaikan gizi yang berkelanjutan”.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan semua pihak, semangat Hari Gizi Nasional 2026 yang jatuh pada setiap tanggal 25 Januari diharapkan mampu mendorong terwujudnya generasi Sulawesi Tenggara yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing di masa depan. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA