Dialog Damai AS–Iran di Pakistan Buntu, Pengamat Soroti Inkonsistensi Nuklir Barat

waktu baca 2 menit
Senin, 13 Apr 2026 12:57 72 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID — Upaya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.

Kebuntuan ini memicu sorotan tajam dari kalangan analis geopolitik, yang menilai faktor utama kegagalan tersebut adalah inkonsistensi negara-negara Barat dalam isu nuklir.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut bahwa Iran menolak untuk menghentikan program senjata nuklirnya.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, yang menilai sikap Iran tidak bisa dilepaskan dari sikap ganda Barat.

Menurut Teguh, sejak penandatanganan Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons pada 1968, negara-negara Barat justru tidak konsisten menjalankan komitmen pelucutan senjata nuklir.

Ia menuding Amerika Serikat dan sekutunya masih terus mengembangkan teknologi nuklir, bahkan menyebarkannya kepada negara tertentu.

“Dalam kondisi seperti ini, wajar jika negara yang merasa terancam memilih membangun kekuatan penangkal atau deterrence,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).

Ia juga menyinggung keberadaan Israel yang tidak menandatangani NPT namun diduga memiliki persenjataan nuklir, sehingga menciptakan ketimpangan di kawasan.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan bahwa selama ini Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai seperti energi dan medis, yang merupakan hak setiap negara anggota NPT.

Namun dinamika geopolitik, termasuk meningkatnya ketegangan dan serangan terbuka dalam beberapa waktu terakhir, mendorong munculnya wacana baru terkait kebutuhan pertahanan strategis.

Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebelumnya telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan penggunaan senjata nuklir karena bertentangan dengan prinsip perang dalam Islam yang melarang serangan tanpa pandang bulu.

Di sisi lain, Teguh menekankan pentingnya konsistensi global dalam menjalankan NPT. Tanpa komitmen yang adil, ia memperingatkan dunia berpotensi memasuki era perlombaan senjata nuklir yang semakin masif.

Saat ini, terdapat sembilan negara yang diketahui memiliki senjata nuklir, dengan Amerika Serikat dan Rusia sebagai pemilik hulu ledak terbanyak. Kondisi ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa tantangan pelucutan senjata nuklir masih jauh dari selesai.

“Selama hipokrisi dan inkonsistensi ini terus berlangsung, dunia akan tetap berada dalam bayang-bayang perlombaan senjata nuklir,” pungkasnya.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA