Diduga Arogan, Warga Lalowaru Konsel Minta Lurah Dicopot

waktu baca 2 menit
Selasa, 27 Jan 2026 18:50 1341 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Suasana di Kelurahan Lalowaru, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, kini tengah memanas.

Gelombang protes dari masyarakat memuncak melalui pernyataan sikap tegas berupa Mosi Tidak Percaya terhadap kinerja Lurah Lalowaru yang disampaikan perwakilan warga di Kantor Lurah Lalowaru dan Kantor Camat Moramo Utara, Selasa (26/01/2026).

Warga menilai sang pemimpin wilayah telah bertindak otoriter dan mencederai nilai-nilai musyawarah di masyarakat.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Julia Labudu, menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai akumulasi kekecewaan warga yang merasa tidak lagi diayomi.

Menurutnya, kepemimpinan Lurah saat ini justru menciptakan kegaduhan dan perpecahan di tengah masyarakat.

Dalam dokumen pernyataan sikap yang disampaikan dalam aksi protes di depan Kantor Kelurahan Lalowaru dan Kantor Camat Moramo Utara, terdapat lima poin krusial yang menjadi dasar tuntutan warga, di antaranya:

Pertama, Dugaan Intervensi Rumah Ibadah: Lurah dituding mengambil alih kepengurusan pembangunan masjid secara sepihak tanpa melibatkan tokoh agama.

Kedua, Dugaan Pemecatan Sepihak: Pemberhentian sejumlah ketua RT/RW dilakukan tanpa surat resmi maupun prosedur yang jelas.

Ketiga, Dugaan Lumpuhnya Sektor Sosial & Ekonomi: Mundurnya pengurus Koperasi Merah Putih (KMP) hingga Imam Kelurahan akibat kurangnya dukungan dari pihak kelurahan.

Keempat, Dugaan Indikasi Pungli: Adanya dugaan pengumpulan dana dari RT/RW untuk kegiatan Maulid Nabi yang dinilai membebani.

Kelima, Dugaan Arogansi Kekuasaan: Warga menilai Lurah menjalankan aturan “sesuka hati” dan menganggap dirinya memiliki kekuasaan absolut yang tidak bisa diintervensi.

Julia Labudu menyoroti bahwa ketidakharmonisan ini diduga kuat berakar dari sisa kontestasi politik.

Lurah dianggap belum “move on” dan memandang sebagian masyarakat sebagai lawan politik pasca-Pilkada lalu, sehingga pelayanan publik menjadi tidak tulus dan tebang pilih.

“Lurah Lalowaru dianggap tidak mampu bersinergi dan merangkul tokoh agama, adat, maupun pemuda. Kami butuh pemimpin yang melayani, bukan yang merasa sebagai penguasa mutlak,” tegas Julia.

Warga meminta Camat Moramo Utara segera menindaklanjuti keresahan ini kepada Bupati Konawe Selatan.

Mereka mendesak agar ada atensi serius dan evaluasi jabatan terhadap Lurah Lalowaru demi menjaga kondusivitas wilayah.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu respon resmi dari pemerintah kabupaten terkait tuntutan pencopotan tersebut. Jika tidak ada perubahan, warga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar.

Pewarta media ini juga masih berupaya menghubungi Lurah Lalowaru untuk mendapatkan hak jawab (klarifikasi) atas pemberitaan ini.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA