Kabid P2P Dinkes Kota Kendari, Ellfi RADAR KENDARI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari mencatat sebanyak 1.292 kasus baru Tuberkulosis (TBC) di Kota Kendari sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. Dari total temuan tersebut, 50 pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Elffi, menjelaskan bahwa tidak semua penderita TBC yang terdata tersebut merupakan warga asli Kota Kendari.
Kemudahan akses layanan kesehatan di Kendari menjadi alasan warga dari luar daerah turut memanfaatkan fasilitas medis di Kota Kendari.
“1.292 kasus ini tidak semua adalah warga Kota Kendari, karena kemudahan akses layanan di Kota Kendari memungkinkan siapapun mengaksesnya. Ini menjadi pilihan masyarakat di Sulawesi Tenggara,” ujar Elffi, Rabu (30/09/2026).
Untuk menekan angka penularan, Dinkes Kota Kendari kini gencar melakukan penemuan kasus secara aktif (active case finding).
Petugas tidak lagi sekadar menunggu pasien bergejala datang ke fasilitas kesehatan, melainkan turun langsung menyisir wilayah kelurahan hingga tingkat RT/RW untuk melacak kontak erat penderita TBC.
Langkah ini diperkuat melalui komitmen 65 kelurahan di Kota Kendari yang mendukung program pencegahan dan pengendalian TBC.
Elffi menegaskan, penanganan TBC kini menjadi tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya instansi kesehatan semata.
“Kami menghimbau masyarakat untuk aktif mendeteksi atau mengenali jika ada warga di sekitarnya yang bergejala mengarah ke TBC, cukup laporkan ke RT, RW, Kelurahan, atau petugas kesehatan,” jelasnya.
Selain itu, pihak Dinkes terus berupaya mengikis stigma negatif dan diskriminasi terkait penyakit TBC.
Masyarakat diminta memahami bahwa TBC bukanlah penyakit keturunan atau guna-guna, melainkan penyakit menular yang bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar