Harwan Muldidarmawan saat menjadi pembicara dalam kuliah tamu di Universitas Gadjah Mada. RADARKENDARI.ID – Peran kepatuhan (compliance) dan etika (ethics) kembali ditegaskan sebagai fondasi utama dalam membangun organisasi yang berkelanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Harwan Muldidarmawan saat menjadi pembicara dalam kuliah tamu di Universitas Gadjah Mada.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini merupakan bagian dari mata kuliah Business Ethics for Sustainability untuk mahasiswa MBA/IMBA Angkatan 87.
Dalam forum tersebut, Harwan membagikan pengalaman praktis terkait penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) di dunia industri.
Dalam pemaparannya, Harwan menegaskan bahwa kepatuhan dan etika tidak boleh hanya dimaknai sebagai kewajiban administratif semata, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh proses bisnis dan pengambilan keputusan organisasi.
“Ketika kepatuhan dijalankan dengan amanah dan didukung manajemen risiko yang tepat, maka kepercayaan publik akan terbentuk dan menjadi aset utama perusahaan,” ujarnya.
Sebagai perwakilan dari PT Jasa Raharja, Harwan juga menjelaskan bagaimana perusahaan menempatkan etika sebagai fondasi dalam kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Pendekatan ini diperkuat melalui penerapan code of conduct, budaya integritas dengan prinsip zero tolerance to fraud, hingga pemanfaatan sistem digital seperti GRC ecosystem dan JRCare untuk meningkatkan transparansi dan kecepatan layanan.
Menurutnya, khusus bagi perusahaan yang bergerak di sektor layanan publik, keseimbangan antara kepatuhan, etika, dan kinerja menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.
Kuliah tamu ini mendapat apresiasi dari Amin Wibowo yang menyebut kehadiran praktisi sebagai nilai tambah dalam proses pembelajaran.
Ia menilai mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung (first-hand experience) yang tidak selalu tersedia di ruang kelas.
“Mahasiswa bisa belajar langsung dari praktik nyata yang dilakukan di industri, khususnya dalam implementasi etika bisnis dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi untuk menciptakan pemahaman yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi teori tetapi juga implementasi di lapangan.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Wuri Handayani ini diikuti oleh 57 peserta dan turut dihadiri Guru Besar FEB UGM, Eko Suwardi.
Suasana diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari para mahasiswa yang aktif mengajukan pertanyaan kritis seputar etika bisnis dan keberlanjutan.
Melalui forum ini, UGM kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus mendorong lahirnya pemimpin masa depan yang menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab sosial.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar