**Penulis: Arbain Ada perjalanan yang selesai ketika seseorang tiba di tujuan. Ada pula perjalanan yang justru menemukan maknanya ketika ia memilih pulang.
Di Pesantren Husnayain Salulebbo, perjalanan semacam itu menemukan kisahnya pada sosok Ustadzah Sisi Purnamasari.
Ia pernah datang sebagai santriwati, pergi menuntut ilmu, lalu kembali ke tempat yang sama dengan membawa bekal pendidikan dan amanah yang lebih besar: mendidik generasi.
Pesantren Husnayain Salulebbo berada di kawasan yang tidak mudah dijangkau. Di satu sisi berdiri benteng gunung, di sisi lain mengalir sungai yang membentang sekitar 50 hingga 100 meter. Sungai itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan para pengabdi pondok.
Perahu ketinting menjadi penghubung utama. Sepeda motor dapat dinaikkan ke atas perahu kayu dengan tarif Rp10 ribu sekali menyeberang. Namun, sungai memiliki waktunya sendiri. Ketika sore beranjak dan jarum jam menunjukkan pukul 17.30, penyeberangan berhenti.
Bagi mereka yang terlambat tiba di tepian, perjalanan harus ditunda hingga esok hari. Bermalam di rumah kerabat atau warga sekitar menjadi pilihan sebelum kembali menyeberang ketika fajar datang.
Bagi Sisi, keadaan itu bukan sekadar cerita tentang jarak dan keterbatasan akses. Ia adalah bagian dari lanskap pengabdian yang dijalani setiap hari.
Dari Santri hingga Kembali sebagai Pengabdi
Sisi mengenal Husnayain Salulebbo jauh sebelum ia menjadi bagian dari pengelola madrasah. Di tempat itulah ia tumbuh sebagai santriwati hingga menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah pada 2016.

Ada tradisi yang melekat pada almamaternya. Setiap alumni terlebih dahulu diminta mendedikasikan diri untuk mengabdi di pondok sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sisi menjalani amanah itu. Namun, perjalanan belajarnya belum berhenti. Pada 2017, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor untuk mendalami Pendidikan Bahasa Arab.
Tahun-tahun berikutnya membawanya semakin jauh dari Salulebo. Ia menempuh pendidikan, menyerap pengetahuan, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan profesional sebagai pendidik.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada pertengahan 2021, ada satu tempat yang kembali memanggilnya. Salulebbo.
Sekitar Juni atau Juli 2021, ia kembali ke pesantren tempat dahulu ditempa. Kali ini bukan sebagai santri yang menerima ilmu, melainkan sebagai seseorang yang datang membawa ilmu untuk dibagikan.
Kepulangannya menjadi bagian dari mata rantai yang sederhana, tetapi bermakna: pesantren mendidik seorang santri, santri itu pergi menuntut ilmu, lalu kembali untuk ikut mendidik generasi berikutnya.
Kini, Sisi mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Madrasah Aliyah sekaligus Direktur Tarbiyatul Muallimin Al Islamiyah (TMI).
Untuk memenuhi kompetensi manajerial, teknis dan sosio-kultural, Sisi pun meluangkan waktunya mengikuti pelatihan kepala madrasah yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Madrasah (KKM) lingkup Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama dengan Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Makassar (24 – 29 September 2026) di Topoyo, Mamuju Tengah.
Perannya membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajar di ruang kelas. Ia ikut memikirkan bagaimana madrasah dikelola, bagaimana proses pendidikan berlangsung, dan bagaimana karakter santri dibentuk menghadapi perubahan zaman.
Di Antara Amanah dan Rindu
Pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk pekerjaan yang terlihat. Bagi Sisi, ada sisi lain yang harus ia jalani sebagai seorang ibu.
Ia tinggal di lingkungan pondok selama 24 jam bersama suami dan putri kecilnya yang berusia tiga tahun. Kehidupan pesantren memberikan kedekatan dengan keluarga sekaligus menghadirkan dinamika tersendiri ketika tugas membawanya keluar.
Untuk mengikuti pelatihan atau menunaikan tugas tertentu, ia harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer selama kurang lebih satu setengah jam. Sepeda motor menjadi kendaraan di jalan darat, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu ketinting.
Ada waktu ketika tugas membuatnya harus meninggalkan sang buah hati selama beberapa hari.
Hari-hari diisi kegiatan sejak pagi hingga petang. Ketika malam tiba, kerinduan menemukan jalannya melalui layar telepon genggam. Panggilan video menjadi ruang kecil tempat seorang ibu kembali bertemu putrinya, meski hanya melalui layar.
Di sana ada percakapan, tatapan, dan kasih sayang yang tidak terhalang jarak.
Kerinduan itu tidak membuat pengabdian menjadi ringan. Justru di sanalah maknanya menjadi lebih manusiawi. Menjadi pendidik tidak berarti seseorang berhenti menjadi ibu, istri, atau bagian dari keluarga. Ada peran-peran yang harus dijalankan bersamaan.
Menjaga Bahasa, Menjaga Karakter
Di Husnayain Salulebbo, pendidikan tidak berhenti pada pelajaran di ruang kelas. Pesantren memadukan kurikulum madrasah dengan ruh Kurikulum TMI Gontor.
Bahasa Arab dan Bahasa Inggris diupayakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari santri melalui Usbu’ Arabi atau Pekan Bahasa Arab dan English Week yang dilaksanakan secara bergantian setiap pekan.
Tradisi itu menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya ditempatkan sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai bagian dari budaya belajar.
Jejak pendidikan yang pernah diterima Sisi di Gontor pun menemukan ruang untuk diteruskan. Saat ini, tiga alumni Gontor telah kembali ke Salulebo untuk bersama-sama membimbing para santri.
Mereka datang dengan pengalaman yang berbeda, tetapi membawa semangat yang serupa: meneruskan pengetahuan melalui pengabdian.
Di tengah perubahan zaman, tantangannya tentu tidak sederhana. Gawai semakin mudah dijangkau. Informasi datang tanpa batas. Generasi muda hidup dalam ruang yang jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, pendidikan pesantren menghadapi pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar memastikan santri memahami pelajaran. Ada karakter yang perlu dijaga, kebiasaan baik yang perlu ditanamkan, dan nilai yang perlu terus dihidupkan. Sisi memilih mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut.
Ia terus belajar untuk memperkuat kemampuan mengelola madrasah secara profesional, tertata, dan transparan. Baginya, pengelolaan pendidikan yang baik merupakan bagian dari ikhtiar membangun lingkungan belajar yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.
Pulang, Lalu Menjadi Jalan bagi yang Lain
Pada akhirnya, kisah Sisi bukan hanya tentang seseorang yang kembali ke pesantren.
Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah tempat dapat meninggalkan jejak begitu dalam pada seseorang hingga bertahun-tahun kemudian ia memilih kembali untuk memberikan sesuatu yang pernah diterimanya.
Dahulu, ia adalah santri yang belajar di bawah bimbingan para pendidik. Kini, ia berdiri di hadapan generasi yang sedang menapaki jalan yang pernah dilaluinya. Di antara gunung dan sungai Salulebo, siklus itu terus berlangsung.
Seorang santri belajar. Seorang alumni pergi menuntut ilmu. Kemudian ia pulang membawa bekal untuk mengajar. Dari sana, lahir santri-santri baru yang suatu hari mungkin akan menempuh perjalanan serupa.
Sungai mungkin tetap menjadi batas yang harus diseberangi. Perahu mungkin tetap berhenti ketika sore menjelang. Jalan panjang dan jarak puluhan kilometer mungkin masih harus ditempuh. Namun, pendidikan tidak berhenti pada batas-batas itu.
Sebab bagi mereka yang memilih mengabdi, pulang bukan berarti kembali ke masa lalu.
Pulang adalah membawa apa yang telah dipelajari untuk menyiapkan masa depan orang lain. Dan di Salulebbo, Sisi memilih menjalani jalan itu: setelah pergi menuntut ilmu, ia pulang untuk menjaga generasi. **
Tidak ada komentar