Langgo Simon Di titik terendah, saat hidup menghimpit dan harapan menipis, manusia memandang ke langit.
Ia menangis dalam doa, merintih dalam sujud, berharap ada kuasa di atas sana yang mendengarnya.
Dalam kemiskinan, hati lebih lembut, rasa syukur lebih tulus, dan kebergantungan pada Tuhan menjadi nyata.
Miskin bukan hanya soal harta, tapi juga tentang keterbatasan dan kerendahan hati.
Dan di sanalah, banyak manusia menemukan Tuhan—bukan di istana, melainkan di pojok sunyi tempat ia meratap dalam diam.
Di tengah lapar, ia belajar menahan diri. Di tengah kekurangan, ia belajar berharap. Di sanalah ia sadar, bahwa dirinya bukan siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya.
Namun ketika roda nasib berputar, dan kekayaan mulai mengguyur, perlahan manusia berubah.
Doa yang dulu lirih, mulai jarang terdengar. Sujud yang dulu khusyuk, kini terganti oleh kesibukan dunia.
Tuhan tak lagi dipanggil, karena kini ia merasa tak lagi butuh. Ia tak mencari, karena merasa sudah menemukan segalanya.
Kekuasaan menipu, kekayaan membius. Manusia yang dulu bersandar pada Tuhan, kini mulai berdiri di atas egonya.
Ia memberi perintah, seolah hidup ada di tangannya. Ia memutuskan hukum, seolah dirinya tak terikat oleh hukum yang lebih tinggi. Ia merasa berhak atas segalanya, bahkan ingin menentukan nasib orang lain.
Dan di situlah manusia yang dulu mencari Tuhan, perlahan menjadi ‘tuhan’ bagi dirinya sendiri.
Bukan karena ia benar-benar berkuasa, tapi karena lupa bahwa semua hanya titipan. Kekayaan bukan akhir pencarian, tapi ujian sejati: apakah kita masih mampu merunduk ketika sedang berdiri tinggi? (*)
Tidak ada komentar