Kritik Tajam MBG: Program Besar, Ambisi Tinggi, Namun Salah Sasaran dan Menyisakan Ketidakadilan Nyata

waktu baca 3 menit
Rabu, 25 Mar 2026 14:12 1667 radarkendari.id

Program MBG kerap hadir dengan narasi yang terdengar sangat ideal: memperbaiki gizi, meningkatkan kualitas hidup, hingga menyiapkan generasi masa depan yang lebih sehat.

Di atas kertas, semua itu memang terlihat baik. Bahkan kalau dilihat dari sudut pandang negara kesejahteraan, program seperti ini bisa dianggap sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin hak dasar warganya.

Tapi persoalannya tidak sesederhana itu. Kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niat baiknya saja, melainkan dari seberapa tepat ia bekerja di lapangan.

Masalah paling mendasar dari MBG justru ada pada arah dan ketepatan sasarannya. Program ini terkesan lebih nyaman menyasar kelompok yang sudah “terlihat” yaitu yang masih bersekolah, yang datanya ada, yang mudah dijangkau secara administratif.

Sementara di sisi lain, ada kelompok yang benar-benar berada di lapisan paling bawah: anak-anak yang putus sekolah, mereka yang sejak kecil sudah terbiasa bekerja, keluarga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ironisnya, kelompok inilah yang justru sering tidak tersentuh secara maksimal.

Kalau mau jujur, negara ini seperti lebih mudah mengurus yang rapi daripada yang berantakan. Lebih mudah mendistribusikan bantuan ke mereka yang sudah ada dalam sistem, daripada harus mencari dan menjangkau mereka yang bahkan tidak tercatat dengan baik.

Padahal, justru di situlah letak tanggung jawab yang sebenarnya. Ketika yang paling membutuhkan tidak menjadi prioritas, maka kebijakan sebesar apa pun akan terasa timpang.

Di titik ini, MBG mulai terlihat bukan hanya sebagai program bantuan, tetapi juga berpotensi menjadi kebijakan yang sekadar memperindah tampilan. Terlihat peduli, terlihat bergerak, tapi tidak benar-benar menyentuh akar persoalan. Karena masalah gizi itu tidak berdiri sendiri.

Ia berkaitan erat dengan kemiskinan, pendidikan, dan akses hidup yang layak. Memberi makan hari ini memang penting, tapi kalau besok orang yang sama masih berada dalam kondisi yang sama, lalu apa yang benar-benar berubah?

Sindiran yang terasa pahit yaitu adalah jangan sampai program yang katanya untuk semua, justru lebih banyak dinikmati oleh mereka yang sebenarnya masih punya pilihan.

Sementara yang tidak sekolah, yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, yang bahkan untuk sekadar makan saja harus berjuang, mereka tetap berada di pinggir, seperti tidak cukup penting untuk diprioritaskan. Seolah-olah mereka ada, tapi tidak benar-benar dianggap ada.

Bukan berarti program ini harus ditolak. Justru sebaliknya, program seperti MBG perlu diperbaiki dan diarahkan ulang. Negara harus berani keluar dari pola lama yang hanya fokus pada yang mudah dijangkau.

Harus ada keberanian untuk benar-benar turun melihat siapa yang paling tertinggal, lalu menempatkan mereka sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap dalam laporan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan pada seberapa besar anggarannya atau seberapa sering dipromosikan, tapi pada siapa yang benar-benar merasakan dampaknya.

Kalau fakir miskin dan mereka yang terpinggirkan masih belum tersentuh secara nyata, maka keadilan sosial masih sebatas wacana. Dan di situlah kritik ini berdiri yaitu sebagai pengingat bahwa negara tidak boleh hanya hadir, tetapi harus hadir dengan adil. **

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA