Enam Bulan Tanpa Kepastian, Ibu Asal Bombana Tuntut Keadilan Atas Kematian Tragis Anaknya

waktu baca 2 menit
Kamis, 4 Jun 2026 21:32 54 radarkendari.id

KENDARI – Enam bulan telah berlalu, namun duka mendalam masih menyelimuti Jumnawati, seorang ibu asal Desa Balasari, Kecamatan Poleang Barat, Kabupaten Bombana.

Didampingi oleh pamannya, Muslimin, Jumnawati mendatangi kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Sulawesi Tenggara untuk mencari keadilan atas kematian tragis putranya yang hingga kini masih menjadi misteri.

Ketua DPW HAMI Sultra, Andri Darmawan, mengungkapkan bahwa putra Jumnawati ditemukan meninggal dunia pada tanggal 6 November 2025 lalu.

Kasus ini kemudian resmi dilaporkan ke Polsek Poleang Barat pada 12 November 2025, sebelum akhirnya dilimpahkan dan ditangani oleh Polres Bombana.

“Hingga saat ini, belum ada titik terang maupun kejelasan mengenai siapa pelaku di balik kematian korban. Padahal, berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan pada bulan Desember 2025, ditemukan tanda-tanda kekerasan serta beberapa luka pada jenazah korban,” ujar Andri Darmawan lewat vidio statement kepada media ini, Kamis (04/06/2026).

Melihat hasil otopsi dan kondisi fisik jenazah saat pertama kali ditemukan, pihak keluarga dan HAMI Sultra menduga kuat bahwa kematian ini bukan disebabkan oleh faktor alamiah atau kecelakaan, melainkan akibat tindakan kekerasan atau pembunuhan berencana oleh pihak tertentu.

Andri Darmawan menegaskan, status sosial tidak boleh menjadi penghalang dalam penegakan hukum. Ia mendesak kepolisian untuk tidak mengabaikan kasus ini.

HAMI Sultra meminta Polres Bombana serius dan profesional mengusut tuntas perkara ini. Walaupun Jumnawati dan keluarganya berasal dari kalangan masyarakat bawah, mereka memiliki hak yang sama di mata hukum untuk mendapatkan keadilan.

Suasana konferensi pers berubah haru saat Jumnawati menyampaikan keluh kesahnya sembari menahan isak tangis. Kehilangan anak laki-laki yang menjadi tumpuan hidupnya membuat kondisinya terpukul hebat, bahkan ia mengaku tidak lagi mampu bekerja dengan normal sejak peristiwa kelam itu terjadi.

“Sampai sekarang hati saya sangat sakit karena kehilangan nyawa anak saya. Saya minta tolong kepada bapak-bapak kepolisian, tolong saya. Saya cuma menuntut keadilan saja,” ucap Nursia dengan suara bergetar.

Senada dengan Jumnawati, Muslimin selaku paman korban, juga menyampaikan harapan besar agar aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan.

“Kami hanya meminta keadilan, tidak ada yang lain. Urusan nyawa adalah urusan Tuhan, dan tidak ada yang berhak mengambilnya. Kami mohon pihak kepolisian mengurus masalah ini dengan tertib dan serius. Mungkin pelaku di luar sana bisa tersenyum, tetapi mereka tidak tahu bagaimana perihnya hati kami yang kehilangan,” pungkas Muslimin.

Kini, pihak keluarga berharap penuh pada komitmen Polres Bombana untuk segera mengungkap dalang di balik kematian korban, agar rasa keadilan yang dinanti selama setengah tahun ini bisa segera terwujud.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA