Berangkat dari Pengalaman Tangani Pascabencana, Helen Dias Andhini Raih Doktor Cumlaude dengan IPK 4,00

waktu baca 4 menit
Jumat, 21 Agu 2026 13:47 70 redaksi

RADAR KENDARI — Pengalaman panjang berkecimpung dalam penanggulangan bencana di Sulawesi Tenggara mengantarkan Helen Dias Andhini pada sebuah pencapaian akademik membanggakan.

Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin dengan predikat Cumlaude dan IPK sempurna 4,00, setelah menyelesaikan masa studi hanya dalam 2 tahun 2 hari.

Dr. (Cand) Helen Dias Andhini.

Dalam Ujian Promosi Doktor di Universitas Hasanuddin, Helen mempertahankan disertasi berjudul “Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara.”

Helen dibimbing oleh Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir, S.E., M.Si. sebagai Promotor dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Amar, S.E., M.B.A. sebagai Ko-Promotor.

Ujian promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., dengan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Abdul Razak Munir, S.E., M.Si. dan Prof. Dr. Arifuddin, S.E., M.Si., serta Drs. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D. sebagai penguji eksternal.

Capaian Helen tidak hanya ditandai dengan IPK sempurna dan masa studi yang relatif singkat. Selama menempuh pendidikan doktoral, ia juga berhasil menghasilkan dua artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q2 serta sebuah buku.

Tema disertasi yang dipilih Helen memiliki hubungan erat dengan pengalaman profesionalnya sebagai Kepala Seksi Rehabilitasi Pascabencana BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara.

Berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pemulihan pascabencana membuatnya melihat bahwa tantangan penanggulangan bencana tidak semata-mata terletak pada ketersediaan kelembagaan, sumber daya, regulasi ataupun sistem.

Menurut Helen, berbagai kapasitas tersebut sebenarnya telah tersedia. Persoalan yang perlu diperkuat adalah bagaimana seluruh kapasitas dapat terintegrasi dan bekerja secara efektif sebagai satu sistem, mulai dari kesiapsiagaan, koordinasi lintas lembaga, penanganan krisis, hingga pemulihan pascabencana.

“Penelitian ini berangkat dari apa yang saya lihat dan alami dalam praktik. Kita sebenarnya memiliki banyak kapasitas, tetapi tantangannya adalah bagaimana kapasitas tersebut dapat terintegrasi dan bekerja secara optimal. Karena itu saya mencoba membangun suatu model yang menghubungkan strategi manajemen krisis, kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, pemulihan pascabencana, hingga ketahanan berkelanjutan,” ungkap Helen.

Melalui disertasinya, Helen mengintegrasikan Strategic Crisis Management (SCM), Institutional Readiness (IR), Collaborative Governance (CG), Recovery After Disaster (RAD), dan Sustainable Resilience (SR) dalam satu model manajemen krisis strategis.

Model tersebut menekankan bahwa strategi manajemen krisis tidak cukup hanya berhenti pada dokumen perencanaan.

Strategi harus mampu memperkuat kesiapan institusi dan kolaborasi antaraktor, kemudian diterjemahkan menjadi proses pemulihan pascabencana yang lebih efektif untuk membangun ketahanan daerah dalam jangka panjang.

Bagi Helen, pemulihan pascabencana juga tidak boleh hanya dimaknai sebagai membangun kembali infrastruktur yang rusak.

“Pemulihan harus mengembalikan fungsi kehidupan masyarakat secara lebih luas, baik pelayanan publik, sosial, ekonomi, kesehatan maupun lingkungan. Prinsipnya bukan hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi bagaimana kita dapat pulih lebih baik dan tidak membangun kembali kerentanan yang sama,” jelasnya.

Secara praktis, model hasil penelitiannya dapat diterjemahkan melalui semangat “Siaga–Pulih–Tangguh”.

Konsep tersebut menggambarkan daerah yang memiliki strategi dan kesiapan menghadapi krisis, mampu melakukan pemulihan secara lebih baik, serta terus belajar, beradaptasi dan bertransformasi untuk menghadapi risiko berikutnya.

Helen juga menilai hasil penelitian tersebut memiliki peluang untuk diterapkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sulawesi Tenggara karena sebagian besar kapasitas dasarnya telah tersedia.

“Kita tidak harus memulai semuanya dari nol. Yang diperlukan adalah memperkuat dan mengintegrasikan sistem yang sudah ada sehingga seluruh unsur dapat bekerja bersama secara konsisten dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, Helen berharap disertasinya dapat memberikan kontribusi tidak hanya bagi pengembangan keilmuan manajemen, tetapi juga menjadi salah satu referensi dalam penyusunan kebijakan dan penguatan manajemen penanggulangan bencana di daerah.

Baginya, keberhasilan menyelesaikan studi doktoral dalam 2 tahun 2 hari dengan IPK 4,00, predikat Cumlaude, dua publikasi Scopus Q2 dan sebuah buku bukan sekadar pencapaian pribadi.

“Gelar doktor membawa tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin hasil dari perjalanan akademik ini kembali kepada daerah dan masyarakat. Harapan saya, ilmu yang saya peroleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi Sulawesi Tenggara, khususnya dalam membangun penanggulangan bencana yang semakin strategis, kolaboratif dan berkelanjutan,” pungkas Helen.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA