Ilustrasi Google Gemini AI KONAWE SELATAN — Suara mesin ekskavator yang biasanya memecah kesunyian kawasan pertambangan batuan Moramo kini mulai jarang terdengar.
Bagi sebagian warga, berhentinya aktivitas tambang bukan sekadar persoalan industri, tetapi menyangkut dapur keluarga yang selama ini bergantung pada denyut ekonomi pertambangan batuan moramo.
Di balik hamparan batuan yang menjadi sumber material pembangunan, ada wajah para pekerja harian, sopir truk pengangkut, pemilik warung, penjual bahan bakar eceran hingga usaha kecil masyarakat yang ikut menggantungkan hidup dari aktivitas tambang.
Bagi para sopir angkutan batuan, tambang bukan hanya tempat mencari penghasilan. Setiap perjalanan mengangkut material adalah sumber biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, hingga cicilan kendaraan yang digunakan untuk bekerja.
“Kalau tambang berhenti, kami tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi banyak kebutuhan keluarga ikut tertunda,” ungkap Sabarudin salah seorang sopir yang menggantungkan hidup dari aktivitas pengangkutan batuan, Sabtu (22/08/2026).
Kondisi ini menjadi gambaran bagaimana sektor pertambangan memiliki efek domino terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
Ketika produksi berhenti, pendapatan pekerja turun, transaksi warung berkurang, dan usaha kecil yang selama ini melayani kebutuhan pekerja tambang ikut terdampak.
Di sisi lain, aktivitas pertambangan juga tidak lepas dari kewajiban administrasi dan lingkungan.
Persetujuan RKAB menjadi salah satu syarat penting agar kegiatan usaha pertambangan dapat berjalan sesuai aturan.
Pemerintah juga mewajibkan pemegang IUP menyediakan dana jaminan reklamasi dan pascatambang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sejumlah pihak masyarakat mempertanyakan kondisi beberapa pemegang IUP batuan di Moramo yang disebut belum mendapatkan RKAB Tahun 2026, olehnya itu masyarakat moramo berharap kepada pemerintah provinsi Sulawesi tenggara untuk segera mungkin mencari jalan keluar demi keberlangsungan roda pembangunan dan roda perekonomian.
Bagi masyarakat, persoalan regulasi dan lingkungan adalah hal penting. Namun mereka juga berharap ada solusi agar keberlangsungan ekonomi warga tidak menjadi korban.
“Kalau memang ada persoalan izin atau lingkungan, silakan diselesaikan. Tapi masyarakat kecil juga harus dipikirkan, karena kami hidup dari pekerjaan ini,” kata Anto salah seorang pekerja buruh pengangkat batu harian.
Moramo kini berada dalam dilema kegundahan. Di satu sisi, pertambangan harus berjalan sesuai aturan dan menjaga lingkungan. Di sisi lain, ada ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
Batu Moramo mungkin hanya terlihat sebagai komoditas. Tetapi bagi masyarakat sekitar, batu itu adalah sumber penghasilan, harapan, dan keberlangsungan hidup keluarga.
Laporan : Asrul Rahmani
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar