Ekonomi Sultra Tumbuh Tinggi, Kenapa Tetap Perlu Diversifikasi?

waktu baca 4 menit
Jumat, 4 Sep 2026 08:20 46 redaksi

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara sebesar 6,19 persen pada Triwulan II-2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, angka tersebut menunjukkan bahwa mesin ekonomi Bumi Anoa masih solid.

Yang menarik, momentum itu hadir ketika Sultra sedang mengalami transformasi ekonomi. Investasi terus mengalir, kawasan industri berkembang, mobilitas masyarakat meningkat, dan aktivitas jasa semakin menggeliat.

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum bahkan tumbuh 17,22 persen secara tahunan, sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 13,92 persen.

Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih strategis: dari mana pertumbuhan ekonomi Sultra akan datang lima atau sepuluh tahun mendatang?

Menyikapi Dilema Status Quo

Pertanyaan ini penting karena pertumbuhan tinggi hari ini tidak otomatis menjamin pertumbuhan tinggi di masa depan.

Sultra sedang menikmati momentum besar dari pertambangan, terutama seiring berkembangnya hilirisasi mineral dan kawasan industri.

Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi salah satu penopang penting struktur ekonomi daerah. Momentum ini tentu harus dimanfaatkan. Tetapi pembangunan ekonomi yang sehat tidak boleh terlalu lama bergantung pada satu mesin pertumbuhan.

Komoditas memiliki siklus. Harga berubah, permintaan global bergeser, teknologi berkembang, cadangan terbatas, dan kebijakan negara tujuan dapat berubah sewaktu-waktu.

Karena itu, tantangan Sultra bukan memilih antara pertambangan atau sektor lain. Tantangannya adalah menggunakan momentum pertambangan hari ini untuk membangun sumber pertumbuhan baru bagi Sultra di masa depan.

Pertambangan memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi Sultra dan menjadi magnet investasi. Kehadiran industri pengolahan juga membuka peluang bagi konstruksi, perdagangan, transportasi, jasa, akomodasi dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Tetapi efek tersebut perlu diperluas. Jika investasi besar hanya menghasilkan aktivitas ekonomi di dalam kawasan industri, sementara keterkaitannya dengan sektor ekonomi lokal terbatas, manfaatnya belum optimal.

Sebaliknya, apabila industri besar mampu menciptakan permintaan terhadap produk pertanian, perikanan, jasa logistik, makanan, akomodasi, tenaga kerja dan berbagai kebutuhan lainnya, pertumbuhan akan memiliki efek rambatan yang jauh lebih luas. Di sinilah diversifikasi ekonomi menjadi penting.

Diversifikasi bukan berarti mengurangi peran pertambangan. Justru pertambangan harus menjadi salah satu sumber daya untuk mempercepat diversifikasi ekonomi.

Investasi, infrastruktur, peningkatan pendapatan dan kapasitas ekonomi yang tercipta dari boom komoditas perlu diarahkan untuk membangun sektor-sektor yang mampu bertahan ketika siklus komoditas melambat.

Prinsipnya sederhana: jangan hanya menikmati boom, tetapi gunakan masa boom untuk mempersiapkan masa setelah boom.

Sultra memiliki modal untuk itu. Pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi salah satu sektor terbesar dalam struktur ekonomi daerah. Perdagangan memiliki basis yang kuat. Sementara pertumbuhan akomodasi dan makan minum menunjukkan bahwa sektor jasa mulai memiliki ruang ekspansi yang besar.

Sektor-sektor tersebut perlu dipandang bukan sebagai pelengkap pertambangan, tetapi sebagai calon mesin pertumbuhan baru.

Pertama, Sultra perlu mempercepat transformasi pertanian dan perikanan dari sekadar produsen bahan mentah menjadi sektor berbasis nilai tambah.

Potensi kakao, kelapa, jambu mete, rumput laut, perikanan tangkap dan berbagai komoditas pangan perlu diarahkan menuju pengolahan, pengemasan, penyimpanan, sertifikasi dan pemasaran yang lebih modern. Tantangannya bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan semakin banyak proses ekonomi berlangsung di Sultra.

Membangun Mesin Pertumbuhan Baru

Di sinilah UMKM memiliki posisi penting. UMKM tidak harus dipaksa menjadi perusahaan besar dalam waktu singkat. Yang lebih realistis adalah mendorong mereka masuk ke rantai pasok yang sudah terbentuk.

Hotel membutuhkan pangan. Restoran membutuhkan produk pertanian dan perikanan. Kawasan industri membutuhkan katering, laundry, transportasi, jasa kebersihan, pengadaan barang dan berbagai layanan pendukung. Pariwisata membutuhkan kuliner, kerajinan dan jasa transportasi.

Artinya, investasi dan pertumbuhan akomodasi sebenarnya dapat menjadi pasar baru bagi ekonomi lokal.

Pekerjaan rumahnya adalah memastikan pasar tersebut tidak otomatis dipenuhi pemasok dari luar daerah.

Kedua, pariwisata dan ekonomi kreatif perlu diperlakukan sebagai industri, bukan sekadar agenda promosi destinasi.

Sultra memiliki modal alam yang luar biasa. Tetapi keindahan alam tidak otomatis menjadi pertumbuhan ekonomi.

Dibutuhkan konektivitas, amenitas, promosi, kalender event, standar layanan dan paket wisata yang membuat wisatawan tinggal lebih lama serta membelanjakan lebih banyak.

Ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya jumlah wisatawan yang datang. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: berapa lama mereka tinggal, berapa banyak mereka berbelanja, dan berapa besar belanja tersebut masuk ke pelaku usaha lokal?

Ketiga, Sultra perlu memperkuat perdagangan dan jasa modern. Pertumbuhan ekonomi masa depan akan semakin ditentukan oleh logistik, teknologi digital, keuangan, pendidikan, pemasaran, konsultasi dan berbagai layanan profesional.

Ini sekaligus membuka peluang bagi generasi muda. Jika selama ini pertumbuhan ekonomi identik dengan tambang dan pembangunan fisik, ke depan Sultra perlu membangun ekonomi yang semakin bertumpu pada pengetahuan, keterampilan dan kreativitas.

Di sinilah kualitas SDM menjadi penentu. Diversifikasi ekonomi tanpa peningkatan kualitas SDM hanya menghasilkan diversifikasi sektor di atas kertas. Pekerja lokal tetap berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah, sementara pekerjaan bernilai tambah tinggi diisi tenaga kerja dari luar daerah.

Karena itu, pendidikan vokasi, sertifikasi, digitalisasi UMKM dan kewirausahaan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar program sosial.

Pada akhirnya, pertumbuhan 6,19 persen bukanlah garis akhir. Ia adalah momentum.

Sultra sedang berada pada fase ketika investasi tumbuh, industri berkembang, konsumsi tetap kuat dan sektor jasa mulai menunjukkan akselerasi. Momentum seperti ini tidak datang setiap hari.**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA