Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara Diprediksi Lampaui Rata-rata Nasional di Triwulan III 

waktu baca 2 menit
Rabu, 30 Sep 2026 09:23 285 redaksi

RADAR KENDARI — Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara (BI Sultra) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan III akan mengalami peningkatan.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan berada di atas rata-rata nasional dan terjaga hingga akhir tahun.

Kepala BI Sultra, Edwin Permadi, mengungkapkan bahwa salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi ini adalah berjalannya program hilirisasi industri.

Beberapa perusahaan tambang di Sultra, khususnya di wilayah Kolaka, telah memulai produksi hilirisasi untuk produk nikel tingkat tinggi hingga komponen bahan baku baterai.

“Tadinya memang ditargetkan berjalan pada triwulan II, namun sempat bergeser ke triwulan III karena adanya kendala pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Namun kini sudah mulai berjalan, dan kita harapkan di triwulan III ini dampaknya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra lebih tinggi,” ujar Edwin.

Selain mengandalkan sektor pertambangan, BI Sultra juga menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi berkelanjutan, seperti ekonomi biru di sektor kelautan serta ekonomi hijau dan energi terbarukan.

Potensi energi angin, laut, hingga pengembangan sektor pariwisata dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah Sultra.

“Sultra punya potensi besar, seperti pariwisata di Labengki, Namu, Buton, hingga Wakatobi. Jika semua pihak—pemerintah daerah, pengusaha, akademisi, dan media—bersatu dan berkomitmen, pertumbuhan ekonomi kita akan semakin melesat,” jelasnya.

BI Sultra juga terus aktif melakukan berbagai program pemberdayaan ekonomi, seperti business matching bagi UMKM berpotensi ekspor, pendampingan pondok pesantren, hingga gelaran forum ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Edwin menjelaskan peran kegiatan tahunan Forkestra yang kini memasuki penyelenggaraan tahun ke-6. Forum ini menjadi wadah pengumpulan gagasan, gagasan ilmiah, dan opini dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Pada gelaran tahun ini, terdapat sekitar 900 karya ilmiah yang masuk dan dinilai oleh tim penilai profesional serta akademisi dari berbagai Universitas, termasuk bekerjasama dengan Universitas Halu Oleo (UHO) dan Pemda.

“Hasil gagasan dan karya ilmiah dari Forkestra ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan masukan kebijakan. Misalnya gagasan terkait pengembangan ekonomi biru di Wakatobi atau hilirisasi pangan untuk menekan inflasi. Mana yang aplikatif dan bisa diimplementasikan, tentu akan kita dorong bersama,” pungkas Edwin.

EDITOR : AGUS SETIAWAN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA