Sekretaris PWI Sultra, Dr.Mahdar saat menjadi pemateri dalam Orientasi Calon Anggota PWI Sultra di Konawe Selatan, Jumat (28/11/2025). Foto : Agus Setiawan Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara – Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tenggara, Dr. Mahdar, menegaskan pentingnya menjaga independensi redaksi dari kepentingan bisnis dalam praktik jurnalisme profesional.
Hal ini disampaikannya dalam acara Orientasi Calon Anggota PWI di Konawe Selatan, Jumat (28/11/2025), dengan topik “PWI dan Peran Mewujudkan Profesionalisme Wartawan”.
Dr. Mahdar menyoroti konsep firewall atau garis batas yang wajib ada antara produk jurnalistik (berita) dan produk iklan.
Dalam idealitas jurnalisme, batasan antara ruang redaksi dan ruang bisnis harus dijaga ketat agar tidak terjadi campur aduk kepentingan yang menggerus profesionalisme.
“Kalau kita bicara idealitas, di dalam jurnalisme disebut dengan firewall—garis api, batas antara berita atau produk jurnalistik dan produk iklan. Antara bisnis dan cerita itu, dalam idealitas jurnalisme, itu dibatasi,” jelas Dr. Mahdar.
Ia menggambarkan bahwa dalam struktur media, redaksi berfokus pada perencanaan liputan yang vital dan penting untuk diberitakan (newsroom), sementara bagian bisnis bertugas mencari pendapatan usaha.
Namun, dalam praktiknya, wartawan sering dihadapkan pada dilema ketika pihak yang memberikan iklan atau kerja sama mencoba mendikte konten berita. Dr. Mahdar menyatakan bahwa sikap dalam menghadapi dilema ini harus dikembalikan kepada Kebijakan Redaksional (Policy) dan Kebijakan Perusahaan masing-masing media.
“Dari situ nanti akan lahir kebijakan redaksional yang disebut dengan police (kebijakan). Kita harus memilih karena (pihak tertentu) memerintahkan atau memilih untuk tidak memerintahkan. Tergantung dari kebijakan perusahaan secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa media tidak bisa mengabaikan kebutuhan bisnis karena pendapatanlah yang menopang operasional, seperti biaya cetak, gaji karyawan, dan lain-lain. Namun, keputusan akhir harus mempertimbangkan antara menjaga nilai-nilai idealisme jurnalistik dan keberlangsungan perusahaan.
“Biasanya ada pemilik jalan yang sudah kita berjuang di bisnis saja yang abaikan. Ada begitu,” katanya, seraya menekankan perlunya pertimbangan matang.
Dr. Mahdar menyarankan agar media membentuk Dewan Redaksi yang terdiri dari tim redaksi, senior, dan perwakilan tim perusahaan untuk membicarakan isu-isu tersebut secara matang, sehingga keputusan yang diambil tidak merugikan perusahaan namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
“Memang tentu adalah memutuskan itu secara otomatis, bagaimana menjaga nilai-nilai idealisme atau yang mediasi dengan menginginkan perusahaan,” pungkasnya.
Penulis : Agus Setiawan
Tidak ada komentar