Jika pengunjung memasuki gua Liangkabori, maka akan menyaksikan hasil karya para manusia terdahulu dimana banyak terdapat lukisan di dinding dan di langit-langit gua berjumlah 148 yang berbentuk manusia, binatang, perahu dan lainnya yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun lalu dengan bahan lukisan dari tanah liat yang dicampur dengan getah pohon tertentu. Foto : Ayo ke Muna MUNA, SULAWESI TENGGARA – Edwin Permadi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, baru-baru ini melakukan kunjungan wisata ke Gua Liangkabori di Kabupaten Muna.
Dalam kunjungannya, Edwin mengungkapkan kekagumannya terhadap situs sejarah ini yang dikenal memiliki lukisan gua tertua di dunia.
Edwin menyoroti bahwa Liangkabori telah menjadi perbincangan hangat di dunia pariwisata, bahkan menarik banyak wisatawan mancanegara.
Ia mengajak masyarakat Sulawesi Tenggara untuk lebih mengapresiasi dan mengunjungi kekayaan budaya sendiri
Upaya Pelestarian dan Promosi: Menurut Edwin, situs sejarah seperti Liangkabori perlu terus dilestarikan dan dihidupkan melalui berbagai acara atau kegiatan agar semakin ramai dikunjungi.
Kecintaan pada Kain Tenun Masalili: Selain situs sejarah, Edwin mengaku sangat mengagumi kain tenun khas Masalili. Ia bahkan menyatakan rasa rindunya terhadap keindahan kain tersebut sebagai salah satu alasan kunjungannya ke Muna.
Dukungan BI untuk UMKM Lokal: Bank Indonesia berkomitmen untuk terus membina mitra UMKM, khususnya pengrajin tenun Masalili. Tujuannya adalah untuk membawa kain tenun ini ke panggung nasional hingga internasional melalui berbagai kompetisi desain.
Paket Wisata Komplet: Edwin juga menyebutkan beberapa destinasi menarik lainnya di Muna seperti Puncak Wakila, Danau Napabale, dan Danau Ubur-ubur, yang menjadikan daerah ini sebagai destinasi wisata dengan paket yang sangat lengkap.
Kunjungan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan penguatan UMKM lokal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara.
Sekedar informasi, Gua Liangkabori merupakan salah satu destinasi wisata prasejarah yang berada di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Di Liangkabori, pengunjung dapat menyaksikan panorama alam yang terdiri dari hutan dan tebing batu yang terjal serta dinding tebing laksana ukiran yang dipahat oleh seniman ahli pahat.
Jika pengunjung memasuki gua Liangkabori, maka akan menyaksikan hasil karya para manusia terdahulu dimana banyak terdapat lukisan-lukisan di dinding dan di langit-langit gua berjumlah 148 yang berbentuk manusia, binatang, perahu dan lainnya yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun lalu dengan bahan lukisan dari tanah liat yang dicampur dengan getah pohon tertentu.
Di dalam gua terdapat terowongan sedalam 20 meter dimana didalam terowongan tersebut pengunjung akan menjumpai ruangan yang sangat luas.
Menurut informasi dari warga lokal atau sekitaran wilayah gua, bahwa tempat ini sering dijadikan sebagai tempat pertapaan oleh orang-orang dulu.
Di dalam gua tersebut, pengunjung juga akan menjumpai mata air yang menetes melalui stalaktit dan yang berasal dari dinding gua sehingga dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air bagi penduduk sekitaran gua.
Liang atau Gua ini lokasinya berdekatan dengan Gua Liangkabori, tinggi gua ini kurang lebih 80 meter. Lebar mulut gua berukuran 21 meter, tinggi 4 meter dan panjang dalam gua 25 meter.
Dalam gua ini terdapat banyak bebatuan yang sangat unik dan adapula mata air yang berasal dari dinding gua serta berbagai lukisan zaman dahulu yang sampai saat ini masih menempel pada dinding dan langit-langit gua.
Gua ini berada di puncak gunung dan jika ingin mencapai mulut gua, diharuskan mendaki menggunakan tali pembantu sepanjang 50 meter. Jika telah sampai pada mulut gua, disana akan dijumpai lukisan orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu pada dinding gua.
Sementara uniknya adalah lukisan layang-layang yang banyak menarik perhatian turis manca negara dan domestik untuk berkunjung ke gua ini sekaligus sebagai bukti bagi pecinta layang-layang bahwa permainan tersebut berasal dari permainan layang-layang tertua dari Daerah Muna, bukan berasal dari Cina.
Panorama keindahan Gua Lamburaya tidak dapat terpungkiri sebagai dengan adanya batu latmit dan stalatik juga terdapat ratusan binatang kelelawar yang hidup dalam ruas-ruas gua. Terdapat pula jenis batu yang memancarkan cahaya apabila terkenar sinar.
Sumber : Ayo ke Muna/Bank Indonesia
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar