Ketika Kampus Menjadi Simpang Siur Integritas

waktu baca 2 menit
Senin, 9 Des 2024 13:09 94 radarkendari.id

*Penulis : Andi Awaluddin Maruf (Dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Kendari)

Korupsi bukanlah sekedar pelanggaran hukum, melainkan sebuah perjalanan kompleks manusia dalam menghadapi pilihan moral yang tersembunyi di balik nuansa keabuan etika.

Kampus—ruang di mana kesadaran kritis seharusnya tumbuh—ironisnya kerap menjadi laboratorium pertama di mana benih-benih pengikisan integritas mulai disemai.

Mengapa seorang mahasiswa, dengan segudang potensi intelektual, memilih jalur ketidakjujuran? Jawabannya terletak pada simpang siur psikologi manusia.

Tekanan untuk sukses, ketakutan akan kegagalan, dan sistem kompetitif yang mereduksi pendidikan menjadi sekadar pencapaian nilai, menciptakan ruang di mana moral menjadi sangat relatif.

Seorang mahasiswa yang menyontek tidak sekadar melanggar aturan, tetapi sedang bernegosiasi dengan konsep dirinya sendiri. Ia menciptakan narasi pembenaran”semua orang melakukannya”, “sistem tidak adil”, “ini hanya cara bertahan” yang secara perlahan mengikis benteng integritas pribadinya.

Ekologi Moral dalam Ruang Akademik.

Kampus bukanlah ruang steril. Ia adalah ekosistem interaksi kompleks di mana setiap individu membawa latar belakang, harapan, dan tekanan sosio-ekonominya.

Plagiarisme, menyontek, atau praktik tidak jujur lainnya tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari simpang siur struktural yang mempertemukan kerentanan individu dengan sistem yang rapuh.

Dosen yang kemudian menerima “tambahan” untuk mempermudah proses akademik, mahasiswa yang membayar untuk mendapatkan akses istimewa, adalah simpul-simpul di mana batas moral menjadi cair.

Mereka bukanlah sekadar pelaku, tetapi juga korban dari arsitektur kelembagaan yang memosisikan integritas sebagai barang mewah.

Trauma Struktural dan Pengasingan Nilai

Pendidikan tinggi yang semula dirancang sebagai ruang pembebasan intelektual, ironisnya telah bertransformasi menjadi mesin reproduksi status.

Mahasiswa tidak lagi dinilai dari kedalaman pemikirannya, melainkan dari angka-angka yang tercetak. Dalam lanskap demikian, ketidakjujuran menjadi strategi bertahan.

Setiap praktik koruptif adalah sebuah narasi personal—kisah tentang manusia yang tengah bergulat dengan sistem yang membuatnya merasa terasing dari nilai-nilai luhur.

Bukan sekadar soal moralitas individu, melainkan refleksi dari trauma struktural yang mendegradasi martabat kemanusiaan.

Rekonstruksi Kesadaran

Untuk memutus mata rantai korupsi, dibutuhkan lebih dari sekadar sanksi. Dibutuhkan rekonstruksi kesadaran yang menempatkan integritas bukan sebagai beban, melainkan pilihan filosofis.

Kampus harus menjadi ruang di mana setiap individu diberdayakan untuk memahami konsekuensi etis dari setiap pilihan.

Pendidikan anti-korupsi bukan sekadar ceramah atau moralisme, melainkan proses dialogis yang menghargai kompleksitas perjalanan moral setiap manusia.

Ia harus mampu membuka ruang kejujuran, mendekonstruksi mitos-mitos pembenaran, dan mengembalikan martabat pendidikan sebagai proses pencerahan.

Korupsi dimulai dari hal kecil—tetapi kesadaran untuk melawannya dimulai dari pemahaman mendalam tentang kompleksitas kemanusiaan itu sendiri. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA