Kendari — Musyawarah Kohati Cabang sebagai forum tertinggi dalam tubuh HMI-Wati seharusnya menjadi ruang sakral untuk melahirkan regenerasi kepemimpinan yang berkualitas, berintegritas, dan berkomitmen pada nilai-nilai perjuangan organisasi.
Namun, sejumlah kader mempertanyakan apakah proses tersebut benar-benar berjalan murni atau justru telah disusupi kepentingan kelompok tertentu.
Kader HMI-Wati Cabang Kendari, Nasywa Amalia Putri, mengungkapkan kegelisahan tersebut berdasarkan curahan hati para kader yang menilai bahwa dinamika musyawarah sering kali tidak memprioritaskan kualitas dan rekam jejak kader.
Menurutnya, forum musyawarah idealnya menjadi wadah pemilihan pemimpin yang layak dan mumpuni, bukan sekadar formalitas yang mengakomodasi kepentingan segelintir pihak.
“Musyawarah seharusnya berjalan jujur, adil, dan demokratis. Kohati membutuhkan pemimpin yang lahir dari proses yang sehat, bukan dari kompromi yang mereduksi marwah organisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan Kohati Cabang Kendari semestinya dilakukan berdasarkan kualitas, pengalaman, dan proses kaderisasi yang sah sebagaimana telah diatur dalam Konstitusi dan Pedoman Dasar Kohati (PDK).
Namun, dalam praktiknya, Nasywa menilai masih ada kecenderungan pemilihan yang tidak sepenuhnya mencerminkan nilai tersebut.
Dalam hal ini muncul dugaan bahwa sejumlah pihak yang memiliki kepentingan tertentu turut melakukan intervensi dalam proses pemilihan Ketua Kohati HMI Cabang Kendari, sehingga menimbulkan potensi distorsi terhadap mekanisme pemilihan yang seharusnya berlangsung secara independen dan akuntabel.
Dalam ruang-ruang keperempuanan, Kohati sering menggaungkan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Artinya, setiap kader HMI-Wati memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengambil peran, menyuarakan pendapat, dan memimpin.
Pertanyaannya, menurut Nasywa, apakah Kohati Cabang Kendari benar-benar telah memberikan ruang kompetisi yang sehat dan setara bagi seluruh kader?
Keluhan ini, tambahnya, muncul dari keresahan banyak kader yang berharap agar musyawarah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar menjadi momentum lahirnya pemimpin yang membawa Kohati tetap berada pada jalur perjuangan yang bermartabat dan objektif. **



































Discussion about this post