Pertumbuhan aset perbankan, penyaluran kredit, hingga peningkatan jumlah investor pasar modal menjadi indikator menguatnya sektor keuangan di Sulawesi Tenggara. RADARKENDARI.ID – Kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan tren positif pada awal 2026.
Pertumbuhan aset perbankan, penyaluran kredit, hingga peningkatan jumlah investor pasar modal menjadi indikator menguatnya sektor keuangan di daerah tersebut.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa sektor perbankan di Sultra masih berada dalam kondisi sehat dan terus berkembang secara ekspansif.
“Pertumbuhan aset perbankan tercatat sebesar 6,5 persen secara tahunan, didorong oleh peningkatan dana pihak ketiga sebesar 5,9 persen serta penyaluran kredit yang tumbuh 5,1 persen,” ujarnya dalam kegiatan Bincang Jasa Keuangan (BIJAK), Kamis (5/3/2026).
Data OJK menunjukkan total aset perbankan di Sultra mencapai sekitar Rp61,43 triliun pada Januari 2026.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp33,64 triliun dan total kredit yang disalurkan mencapai Rp42,59 triliun.
Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada di angka 2,10 persen, masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
Selain itu, penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus mengalami peningkatan.
Hingga Januari 2026, kredit UMKM tercatat mencapai Rp15,27 triliun atau sekitar 35,29 persen dari total kredit perbankan di Sultra.
Di sektor pasar modal, pertumbuhan investor di Sultra juga meningkat signifikan. Jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat mencapai 123.794 investor pada Desember 2025 atau naik sekitar 44,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Instrumen reksa dana masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan pangsa sekitar 70,13 persen dari total investor, disusul saham yang mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 60,39 persen secara tahunan.
Sementara itu, nilai transaksi saham di Sultra juga melonjak tajam. Pada Desember 2025, nilai transaksi saham mencapai Rp608,11 miliar atau meningkat 155,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Bismi, peningkatan aktivitas investasi tersebut tidak terlepas dari semakin meningkatnya literasi keuangan masyarakat.
“OJK terus mendorong edukasi keuangan kepada masyarakat agar semakin memahami produk keuangan serta terhindar dari berbagai modus penipuan investasi,” jelasnya.
OJK Sultra juga terus memperkuat perlindungan konsumen melalui berbagai layanan pengaduan serta edukasi terkait investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga penipuan digital yang marak terjadi.
Melalui penguatan literasi dan inklusi keuangan, OJK berharap masyarakat Sulawesi Tenggara semakin bijak dalam mengelola keuangan serta mampu memanfaatkan layanan jasa keuangan secara aman dan produktif guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar