Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS) Xurya. RADAR KENDARI – Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Namun, pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesiapan teknologi operasional dan sumber daya manusia (SDM) untuk memastikan pembangkit berfungsi optimal dalam jangka panjang.
Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, mengatakan pengoperasian dan pemeliharaan PLTS menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan seiring meningkatnya kapasitas pembangkit energi surya di Indonesia.
“Ketika kita berbicara tentang 100 GWp PLTS, kita juga perlu memikirkan bagaimana seluruh kapasitas ini bisa terus beroperasi setiap hari. Sebab, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya,” ujar Edwin dalam keterangan yang diterima, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, PLTS memiliki masa produktif lebih dari 20 tahun sehingga membutuhkan sistem pemantauan berkelanjutan, respons cepat terhadap gangguan, serta kemampuan pengelolaan aset dari jarak jauh, terutama karena pembangkit akan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Xurya, perusahaan energi terbarukan yang memelopori metode sewa PLTS di Indonesia, mengaku telah memiliki pengalaman mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS di berbagai lokasi.
Proyek tersebut mencakup instalasi di atas atap bangunan, lahan terbuka, kawasan perkotaan hingga daerah terpencil.
Edwin menjelaskan, pengoperasian PLTS tidak sebatas membersihkan modul surya. Pengelola juga perlu memantau produksi listrik harian hingga tingkat larik panel, memastikan sensor berfungsi dengan baik, memeriksa kondisi lahan dan saluran air, serta menganalisis penyebab penurunan produksi listrik.
Untuk mendukung pengelolaan tersebut, Xurya menerapkan teknologi Industri 4.0 yang memungkinkan pemantauan secara real-time terhadap keselamatan, konektivitas jaringan, performa sistem, telemetri, hingga kondisi cuaca yang memengaruhi produksi listrik.
Salah satu penerapannya terdapat pada PLTS hybrid off-grid di area pertambangan PT Central Omega Resources Tbk di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sistem berkapasitas 256 kilowatt peak (kWp) tersebut dilengkapi Battery Energy Storage System(BESS) sebesar 251 kilowatt-hour (kWh) dan mulai beroperasi pada September 2026.
Berbeda dengan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik, sistem hybrid off-grid mengintegrasikan panel surya, baterai, dan sumber listrik lainnya, seperti generator diesel.
Karena itu, pemantauan dan pengelolaannya membutuhkan sistem yang mampu menjaga keseimbangan pasokan energi sesuai kebutuhan operasional.
Melalui teknologi pemantauan jarak jauh, tim ahli Xurya dapat mengawasi kinerja dan mengoperasikan sistem tersebut dari lokasi berbeda.
Otomatisasi pemrosesan data juga diklaim mampu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90 persen, sehingga penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat.
Meski demikian, Edwin menilai tantangan akan semakin kompleks ketika pengelolaan diterapkan pada skala 100 GWp. Ribuan sistem PLTS dengan karakteristik lokasi dan kondisi operasional berbeda harus dikelola secara terintegrasi.
Setiap sistem juga terdiri atas ratusan hingga ribuan modul surya yang terhubung dengan berbagai perangkat, seperti inverter, transformator, dan baterai.
Kondisi tersebut membuat pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas pembangkit selama masa operasionalnya.
Selain teknologi, kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi beragam juga menjadi perhatian.
Pengelolaan PLTS skala besar memerlukan keahlian di bidang teknik tenaga listrik, ilmu data (data science), analisis jaringan komunikasi, pemrograman, pemecahan masalah, hingga manajemen aset dan inventaris.
“Kompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat, bukan semata-mata hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan,” kata Edwin.
Ia menambahkan, pengembangan sektor PLTS berpotensi membuka lapangan kerja profesional yang berkelanjutan.
Jika pembangunan instalasi dapat diselesaikan dalam hitungan bulan, pengoperasian dan pemeliharaannya dapat berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Karena itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur energi surya.
Kesiapan SDM menjadi salah satu faktor penting agar investasi yang ditanamkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Xurya menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI), sebuah program yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kapasitas SDM di industri energi surya.
Melalui program ini, Xurya berbagi pengetahuan dan praktik industri untuk memperluas pemahaman mengenai energi surya sekaligus mendorong tenaga kerja lokal mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan industri, baik saat ini maupun pada masa mendatang.
Edwin berharap program pembangunan PLTS berkapasitas 100 GWp tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional, tetapi juga menjadi momentum peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia.
“Saya yakin, jika dikelola dengan baik, program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia. Transisi energi bukan hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutupnya.
EDITOR : AGUS SETIAWAN
Tidak ada komentar