UHO Gelar The 2nd ICFE 2026, Dorong Inovasi Riset dan Kolaborasi Global untuk Kelestarian Hutan

waktu baca 4 menit
Kamis, 8 Okt 2026 23:32 39 redaksi

RADAR KENDARI – Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar The 2nd International Conference of Forestry and Environment(The 2nd ICFE) 2026 di Claro Hotel Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (7/10/2026).

Konferensi internasional yang digelar secara hybrid tersebut mengangkat tema “Forest for Future: Climate, Biodiversity and Sustainability”.

Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, serta praktisi kehutanan dari berbagai negara untuk membahas tantangan lingkungan sekaligus merumuskan strategi keberlanjutan yang dapat diterapkan.

Kegiatan secara resmi dibuka Rektor UHO yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi dan Hubungan Masyarakat, Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili, M.Si.

Dalam sambutannya, Prof. Takdir menekankan pentingnya membangun kemitraan yang inklusif dan lintas sektor antara perguruan tinggi, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, serta pemerintah.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan hasil penelitian, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan dan kehutanan.

“Upaya menjaga kelestarian hutan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak serta dukungan data dan hasil penelitian yang kuat sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan,” ujarnya.

Dalam sesi utama, Prof. Takdir juga memaparkan berbagai tantangan pengelolaan sumber daya hutan di tingkat global maupun regional.

Ia menyebut hutan merupakan salah satu sistem pendukung kehidupan paling penting di bumi. Kawasan hutan mencakup sekitar 31 persen dari luas daratan dunia dan menyimpan sekitar 296 gigaton karbon.

Namun, ekosistem tersebut menghadapi tekanan serius akibat deforestasi, fragmentasi habitat, alih fungsi lahan yang tidak berkelanjutan, serta dampak perubahan iklim berupa peningkatan suhu dan kekeringan.

Secara global, deforestasi diperkirakan mencapai sekitar 10 juta hektare per tahun pada periode 2015-2020.

Dalam konteks regional, Prof. Takdir menyoroti posisi strategis Sulawesi Tenggara yang menjadi bagian penting dari kawasan biogeografi Wallacea.

Kawasan tersebut memiliki ekosistem hutan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi habitat bagi berbagai satwa endemik, seperti maleo, anoa, babirusa, dan tarsius.

Ia juga menekankan pentingnya keberadaan Hutan Pendidikan UHO sebagai laboratorium hidup yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, pemantauan lingkungan, restorasi, serta penelitian lapangan.

Keberadaan kawasan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi sivitas akademika UHO, tetapi juga menjadi ruang untuk memperluas kolaborasi dalam upaya konservasi dan pengelolaan hutan berkelanjutan.

Untuk menjawab berbagai tekanan ekologis tersebut, integrasi teknologi pemantauan dengan penelitian ilmiah dinilai menjadi salah satu langkah penting.

Prof. Takdir menjelaskan, pemanfaatan teknologi seperti pemetaan menggunakan drone untuk menganalisis tutupan kanopi, Sistem Informasi Geografis (GIS) dan penginderaan jauh untuk perencanaan tata guna lahan, serta camera trap untuk memantau satwa liar dapat memperkuat basis data dalam pengambilan keputusan.

Ia juga menawarkan sejumlah langkah aksi yang mencakup perlindungan hutan alam yang masih tersisa, pemulihan lahan terdegradasi dan kawasan sempadan sungai, serta penguatan kemitraan dengan masyarakat dengan tetap memperhatikan kearifan lokal.

The 2nd ICFE 2026 dirancang sebagai ruang pertukaran pengetahuan melalui sejumlah agenda, mulai dari pemaparan keynote speaker, diskusi panel, presentasi makalah, hingga sesi poster.

Sejumlah pembicara utama yang hadir antara lain Rektor UHO Prof. Khairul Munadi, Deputy Rector for Research & Industrial Linkages University Technology Mara (UiTM) Malaysia Prof. Wan Mohd Nazri Wan Abdul Rahman, serta Advisor to the Ministry of Forestry Republik Indonesia, Silverius Oscar Unggul, SP., M.M.

Sementara itu, pembicara undangan terdiri atas Prof. Muhammad Alif K. Sahide dari Universitas Hasanuddin, Dr. Ahmad Dermawan dari Norwegian University of Life Sciences, Norwegia, serta Dr. Nur Arafah, M.Si dari Universitas Halu Oleo.

Salah satu pembicara undangan, Prof. Paul J.A. Kessler dari Leiden University, Belanda, dijadwalkan hadir dalam konferensi tersebut, namun berhalangan mengikuti kegiatan karena kendala jadwal.

Konferensi internasional ini diselenggarakan melalui kolaborasi UHO dengan University Technology Mara (UiTM) Malaysia dan Universitas Hasanuddin.

Selain memperkuat jejaring akademik dan penelitian, The 2nd ICFE 2026 ditargetkan menghasilkan publikasi ilmiah berdampak tinggi pada prosiding terindeks Scopus dan Sinta, serta policy brief yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan.

Konferensi kemudian ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan melalui inovasi dan kolaborasi.

Pesan utama yang mengemuka dalam forum tersebut adalah pentingnya melindungi, memulihkan, berinovasi, dan berkolaborasi demi mewujudkan ekosistem hutan yang tangguh dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

EDITOR : AGUS SETIAWAN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA