Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa pada Triwulan IV 2025 sektor keuangan daerah tumbuh kokoh dan inklusif. Pertumbuhan ini didorong oleh stabilitas sektor perbankan serta meningkatnya kepercayaan investor lokal. RADARKENDARI.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara merilis infografis kinerja Sektor Jasa Keuangan (SJK) sekaligus capaian fungsi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK) sepanjang tahun 2025.
Peluncuran infografis tersebut menjadi bentuk transparansi kepada publik, sekaligus menunjukkan bahwa stabilitas sektor keuangan di Sulawesi Tenggara tetap terjaga dan berada pada jalur pertumbuhan yang sehat.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa pada Triwulan IV 2025 sektor keuangan daerah tumbuh kokoh dan inklusif. Pertumbuhan ini didorong oleh stabilitas sektor perbankan serta meningkatnya kepercayaan investor lokal.
“Sinergi antara kinerja aset yang solid dan program edukasi yang masif memastikan sektor keuangan tetap resilien dalam mendukung pemerataan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ujar Bismi, Senin (2/3/2026).
Sepanjang 2025, sektor perbankan di Sulawesi Tenggara menunjukkan ketahanan yang kuat. Total aset perbankan tercatat mencapai Rp63,25 triliun pada posisi Desember 2025.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tercatat sebesar Rp33,11 triliun, tumbuh 2,31 persen secara tahunan. Struktur DPK masih didominasi tabungan sebesar 68,4 persen, diikuti deposito 15,9 persen, dan giro 15,7 persen.
Di sisi penyaluran pembiayaan, total kredit yang disalurkan mencapai Rp42,72 triliun, atau tumbuh 5,20 persen secara tahunan (year on year). Penyaluran kredit masih didominasi sektor konsumsi sebesar 57 persen, disusul kredit modal kerja 26 persen, dan kredit investasi 17 persen.
Meski kredit terus tumbuh, kualitas intermediasi tetap terjaga secara produktif dan prudent. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang rendah di level 1,24 persen, serta rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 129,04 persen.
Tak hanya perbankan, sektor pasar modal di Sulawesi Tenggara juga mencatat perkembangan signifikan. Jumlah investor meningkat tajam hingga 42,67 persen secara tahunan dengan total 157.693 Single Investor Identification (SID).
Instrumen reksa dana masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan porsi 70,1 persen, diikuti saham 28,1 persen, dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 1,8 persen.
Sementara itu, nilai transaksi saham bulanan hingga November 2025 tercatat mencapai Rp486,01 miliar.
Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), kinerja juga menunjukkan stabilitas. Total piutang pembiayaan tercatat mencapai Rp6,79 triliun hingga November 2025, dengan rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) yang tetap terjaga di angka 2,29 persen.
Pertumbuhan sektor keuangan ini turut diimbangi dengan penguatan pelindungan konsumen. Sepanjang 2025, OJK Sultra telah menggelar 360 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 153.676 peserta dari berbagai kalangan.
Peserta kegiatan tersebut berasal dari beragam latar belakang, mulai dari karyawan, masyarakat umum, pelaku UMKM, hingga penyandang disabilitas.
Melalui langkah tersebut, OJK berharap literasi dan inklusi keuangan masyarakat di Sulawesi Tenggara terus meningkat, sekaligus memperkuat fondasi sektor jasa keuangan daerah yang sehat dan berkelanjutan.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar