Reka Ulang Teori George R. Terry: Kandidat Doktor Unmul Ciptakan Manajemen POAC Sirkular di Sekolah

waktu baca 4 menit
Sabtu, 18 Jul 2026 22:16 47 redaksi

RADAR KENDARI  — Paradigma lama yang menempatkan institusi sekolah dasar sekadar sebagai “menara gading” steril yang terisolasi dari krisis sosial-ekonomi resmi dipatahkan.

Lewat sebuah riset komprehensif berbasis Research and Development (R&D), Ahmad Aznem, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Mulawarman (Unmul), berhasil mengembangkan model tata kelola inovatif bernama Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM).

Melalui gerakan terintegrasi bertajuk “Smart Tani Goes to School” di Kota Bontang, pekarangan sekolah disulap menjadi episentrum perubahan perilaku gizi dan resiliensi ekonomi sirkular yang berdampak langsung hingga ke meja makan rumah tangga siswa.

Penelitian ini dibimbing langsung oleh dewan promotor Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum. (Promotor) dan Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd. (Co-Promotor).

Inti kebaruan ilmiah (novelty) dari model IFS-SBM ini terletak pada keberanian melakukan rekayasa tata kelola pada empat fungsi manajemen klasik George R. Terry: Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (POAC).

Manajemen konvensional yang cenderung pasif-administratif-linier diubah menjadi ekosistem tata kelola yang aktif-ekologis-sirkular:

  • Planning (Perencanaan Aktif-Strategis): Sekolah secara mandiri menganalisis risiko spasial lanskap untuk instalasi pertanian dan mengunci anggaran secara presisi memisahkan Capital Expenditure (CapEx dari CSR/Wakaf korporasi) dan Operational Expenditure (OpEx) tanpa membebani APBD.
  • Organizing (Pengorganisasian Ekologis-Inklusif): Meruntuhkan ego sektoral dengan melahirkan School-Community Nexus yang menyatukan Kepala Sekolah, Guru, Wali Kelas, Paguyuban Kelas (Korlas), Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) DKP3 Kota Bontang.
  • Actuating (Pelaksanaan Praktis-Presisi): Merespons program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) secara taktis melalui penerapan Sistem Hidroponik Murni (Soilless Culture) berbasis Nutrisi Instan AB-Mix Presisi yang higienis, praktis, dan 100% menggunakan pestisida nabati.
  • Controlling (Pengawasan Sirkular Berkelanjutan): Pengawasan harian berbasis digital (logbooknutrisi) dan ekonomi sirkular. Hasil panen diserap penuh oleh Captive Market Internal (guru dan wali murid). Keuntungan bersih dialirkan kembali (looping) sebagai modal operasional musim tanam berikutnya dengan nilai Revenue-Cost (R/C) Ratio mencapai 1,2 (sangat layak diusahakan).

Model tata kelola ini berdiri tegak di atas konvergensi lima pilar lintas disiplin ilmu yang kokoh:

  1. Pilar Edukatif: Mengadopsi Filsafat Profetik Ta’dib (Syed Muhammad Naquib Al-Attas) untuk menanamkan adab ekologis spiritual siswa sebagai khalifah.
  2. Pilar Rekreatif: Berbasis Attention Restoration Theory (Neurosains Kognitif), aktivitas sensorimotorik di kebun hidroponik memicu dopamin dan serotonin yang mereduksi kortisol, membuat gerbang kognitif anak (mind openness) terbuka lebar untuk menyerap sains di kelas.
  3. Pilar Inspiratif: Menyuntikkan virus dorongan berprestasi (Need for Achievement/n-Ach McClelland) melalui umpan balik pertumbuhan tanaman yang instan dan terukur.
  4. Pilar Informatif: Menjadi wadah konstruksi sosial data pangan sekaligus bahan baku bagi guru untuk menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) demi kenaikan pangkat fungsional.
  5. Pilar Inovatif: Mengawinkan pedagogi kritis Paulo Freire dan Transformative Learning Mezirow guna menghadirkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Posing Education) dalam mengintervensi kemiskinan gizi lokal.

Melalui pendekatan R&D model Borg & Gall (1983), model ini meraih skor kevalidan konten 92,8%, konstruk 90,0%, dan kepraktisan 91,7%. Ketangguhan operasional model ini telah dibuktikan secara empiris pada tiga sekolah dasar dengan tipologi geografis yang kontras di Kota Bontang:

  • Tipologi Urban Padat (SDN 009 Bontang Utara): Berhasil menyiasati lahan semen sempit di kawasan industri ring satu melalui inovasi Vertical Farming dan Microgreens.
  • Tipologi Pesisir Maritim (SDN 005 Berbas Pantai): Menaklukkan ancaman banjir rob dan tingginya kadar garam menggunakan teknologi Akuaponik Apung (Floating Aquaponics) di atas kolam terpal ikan nila.
  • Tipologi Hinterland (SDN 002 Bontang Barat): Memanfaatkan sisa lahan terbuka hijau yang luas untuk zonasi penganekaragaman tanaman pangan hayati, obat, dan hortikultura, sehingga sekolah diposisikan menjadi Breeding Center (Pusat Pembibitan Regional).

Model IFS-SBM merefleksikan spirit manifesto legendaris Masanobu Fukuoka dalam bukunya The One-Straw Revolution (1937) di Jepang—bahwa perubahan besar bermula dari unit terkecil alam yang kerap dianggap remeh. Di Bontang, spirit itu menjelma menjadi “Revolusi Selembar Polybag”.

Riset ilmiah ini merekomendasikan secara kuat kepada Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan untuk menjadikan model IFS-SBM sebagai rujukan baku dalam penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan yang terstruktur, kolaboratif, akuntabel, dan berkelanjutan.

Mutu sekolah tidak boleh lagi hanya diukur dari angka-angka mati di atas kertas rapor tekstual, melainkan dari seberapa tangguh tata kelola sekolah tersebut mampu bertindak sebagai benteng pertahanan pangan, gizi hulu-hilir, dan masa depan anak didik secara nyata.

EDITOR : AGUS SETIAWAN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA