Kuota SPBUN Akuni Konsel Tak Mampu Cover Masyarakat, Nelayan Terancam Tak Melaut

waktu baca 2 menit
Jumat, 17 Apr 2026 10:12 59 radarkendari.id

Konawe Selatan Nasib kurang beruntung tengah membayangi masyarakat nelayan di wilayah pesisir Konawe Selatan (Konsel), khususnya di Desa Torokeku, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Mayoritas warga yang menggantungkan hidup dari hasil laut kini terancam kehilangan mata pencaharian akibat krisis pasokan BBM jenis solar yang berkepanjangan.

Data Ketimpangan: Antara Kebutuhan dan Realitas

Kepala Dinas Perikanan Konawe Selatan, Wayan Darma, membenarkan bahwa alokasi solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Akuni, Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea sangat tidak memadai.

Ketimpangan data di lapangan menunjukkan betapa sulitnya nelayan mengakses hak mereka:

  • Kecamatan Tinanggea: Dari 909 KK nelayan tangkap, baru 390 nelayan yang berhasil mendapatkan surat rekomendasi.
  • Kecamatan Palangga Selatan: Sebanyak 155 nelayan tangkap bahkan belum mendapatkan rekomendasi sama sekali.
  • Desa Torokeku: Sekretaris Desa Torokeku, Faisal Aman, mengungkapkan bahwa dari sekitar 280 KK yang mayoritas suku Bajo, jatah solar yang diterima sangat drastis perbedaannya. Satu kapal idealnya butuh 25 liter per hari, namun kenyataannya nelayan hanya mendapat 15 liter per minggu.

Terpaksa Membeli Hingga ke Luar Kabupaten

Kondisi ini memaksa nelayan melakukan cara ekstrem demi tetap bisa melaut. Faisal Aman menyebutkan banyak warganya yang terpaksa mencari solar hingga ke wilayah Muna Barat.

“Karena kuota terbatas, mau tidak mau kami sering membeli bahan bakar dari luar daerah seperti Muna Barat yang diantarkan ke sini. Padahal 90% penduduk kami nelayan tangkap yang jarak melautnya mengikuti keberadaan ikan,” jelas Faisal.

Dilema Pemerataan di SPBN

Di sisi lain, Kadis Perikanan Wayan Darma menjelaskan bahwa pengelola SPBN seringkali terpaksa memotong jatah nelayan demi azas pemerataan.

Nelayan yang seharusnya menerima 20 liter berdasarkan kapasitas mesin, terpaksa hanya diberi 10 liter agar nelayan lain bisa kebagian.

“Sangat kurang sekali, sampai-sampai muncul masalah dalam penyaluran. Nelayan tentu protes karena kebutuhan melaut mereka tidak tertutupi,” ujar Wayan.

Desakan Tambahan Kuota kepada Pertamina

Pemerintah daerah dan aparat desa mendesak Pertamina untuk segera menambah kuota solar di SPBN Akuni, Tinanggea.

Hal ini dinilai krusial mengingat SPBN tersebut merupakan unit baru yang beroperasi di tahun 2026 dan seharusnya menjadi solusi bagi nelayan.

“Kami berharap pemerintah atau Pertamina bisa menambah kuota solar di SPBU Akuni. Ini menyangkut hidup orang banyak, jangan sampai nelayan kami tidak bisa melaut lagi,” pungkas Faisal Aman.

Senada dengan itu, Wayan Darma menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperjuangkan nasib nelayan agar produktivitas perikanan di Konawe Selatan tidak mati total akibat kendala bahan bakar.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA