Bahas Masa Depan Perlindungan Publik Berbasis AI, Dirut Jasa Raharja Jadi Narsum di AI Indonesia Initiative Forum 2026

waktu baca 3 menit
Jumat, 28 Agu 2026 11:35 43 redaksi

Radar Kendari — Penerapan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai mengubah cara PT Jasa Raharja (Persero) dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.

AI tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat penanganan dan pelayanan korban kecelakaan lalu lintas, tetapi juga untuk membaca pola risiko demi mencegah kecelakaan sebelum terjadi.

Arah transformasi digital tersebut dipaparkan langsung oleh Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero), Muhammad Awaluddin, saat menjadi narasumber dalam sesi panel “AI Mobility & Transportation Ecosystems” pada ajang AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 yang berlangsung di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (27/8/2026).

Dalam forum yang mempertemukan unsur regulator, akademisi, pelaku industri transportasi, hingga praktisi teknologi itu, Awaluddin menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus berorientasi pada peningkatan layanan perlindungan publik.

“Transformasi digital harus membawa perubahan nyata terhadap cara kita melindungi masyarakat. Dengan dukungan data dan AI, Jasa Raharja ingin bergerak dari pendekatan yang bersifat responsif menuju perlindungan yang semakin prediktif, preventif, dan preskriptif,” kata Awaluddin.

Ia menjelaskan, Jasa Raharja memiliki ekosistem pelayanan yang terhubung erat dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti Kepolisian, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, rumah sakit, Samsat, serta institusi terkait lainnya.

Integrasi data dalam ekosistem inilah yang menjadi fondasi penting pengembangan sistem perlindungan publik berbasis teknologi.

Salah satu wujud nyata implementasinya adalah pemanfaatan teknologi pada layanan JR-Care.

Melalui digitalisasi dan verifikasi dokumen secara presisi, data korban serta informasi medis dapat diproses jauh lebih cepat dan akurat, sehingga penerbitan surat jaminan bagi korban kecelakaan menjadi lebih efisien.

“Teknologi harus membuat korban semakin mudah memperoleh pelayanan. Prinsipnya tetap berpusat pada manusia. AI membantu proses pengambilan keputusan, tetapi empati, akuntabilitas, dan kepentingan korban harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi,” jelas Awaluddin.

Selain memperkuat sistem JR-Care, Jasa Raharja saat ini tengah mengembangkan tiga fokus utama pemanfaatan AI, yaitu:

  1. AI-Based Accident Prediction and Prevention System: Sistem untuk memetakan wilayah rawan kecelakaan, mengenali pola risiko, serta memberikan rekomendasi intervensi keselamatan secara akurat.
  2. AI Predictive Collection: Digunakan untuk memetakan tingkat kepatuhan masyarakat dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).
  3. AI Medical Claim and Fraud Intelligence: Sistem pendukung validasi klaim medis, pendeteksi anomali, penentu prioritas pemeriksaan, serta penjamin tata kelola pelayanan yang objektif dan transparan.

Kendati demikian, Awaluddin mengimbau agar akselerasi pemanfaatan AI tetap dibarengi dengan tata kelola (governance) yang kuat.

Aspek perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi algoritma, mitigasi bias, hingga pengawasan manusia (human oversight) harus menjadi fondasi utama demi menjaga kepercayaan publik.

“Kecepatan inovasi tidak boleh melampaui kesiapan tata kelolanya. AI harus dikembangkan secara aman, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan karena teknologi ini menyangkut keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja.

Diperlukan kolaborasi lintas sektor—pemerintah, regulator, operator transportasi, penyedia asuransi sosial, fasilitas kesehatan, akademisi, hingga pengembang teknologi—agar pengolahan data mobilitas dapat melahirkan kebijakan pencegahan kecelakaan berbasis bukti (evidence-based policy).

“Masa depan perlindungan publik berbasis AI hanya dapat dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan para inovator,” pungkas Awaluddin.

Melalui keikutsertaan dalam AI Indonesia Initiative Forum 2026, Jasa Raharja menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi teknologi yang berdampak nyata, efisien, serta mewujudkan perjalanan yang lebih aman bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA