Sultra mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional APEBSKID yang mempertemukan budayawan, seniman, linguis, sastrawan, ahli komunikasi, desainer, dosen, hingga peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan dunia. RADAR KENDARI — Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional APEBSKID yang mempertemukan budayawan, seniman, linguis, sastrawan, ahli komunikasi, desainer, dosen, hingga peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan dunia.
Kepercayaan tersebut disampaikan Ketua APEBSKID Pusat, Prof. Dr. Suwardi Endaswara, M.Hum., saat membuka The 3rd APEBSKID International Conference di Aula BBPMP Provinsi Jawa Timur.
Dalam momentum tersebut, Ketua APEBSKID Pusat juga menyerahkan Bendera Pataka APEBSKID kepada Ketua APEBSKID Komisariat Kepulauan Buton, Dr. Ishak Bagea, M.A.
Penyerahan pataka tersebut menjadi penanda dimulainya persiapan Sultra sebagai tuan rumah sekaligus bagian dari upaya memperkuat promosi budaya dan kebijakan berbasis riset di daerah.
Menindaklanjuti kepercayaan tersebut, pengurus APEBSKID Komisariat Kepulauan Buton langsung membangun komunikasi dengan sejumlah kepala daerah di Sultra. Salah satunya Pemerintah Kabupaten Wakatobi.
Bupati Wakatobi, H. Haliana, S.E., menyambut baik rencana tersebut dan meminta pengurus APEBSKID Komisariat Sultra serta Komisariat Kepulauan Buton segera mengagendakan pertemuan lanjutan untuk membahas persiapan penyelenggaraan kegiatan.
Event tersebut direncanakan dihadiri ratusan dosen, mahasiswa, dan peneliti bidang budaya, bahasa, sastra, komunikasi, seni, serta desain dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Para peserta nantinya akan mengeksplorasi kekayaan budaya, bahasa, sastra, komunikasi, seni, dan desain yang dimiliki Wakatobi.
Hasil eksplorasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi akademik, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan oleh dunia industri.
Potensi itu dinilai dapat membuka ruang lebih besar bagi pengembangan ekonomi kreatif, industri berbasis budaya, sekaligus menciptakan peluang kerja bagi masyarakat lokal.
Di sisi lain, kehadiran para peneliti juga dapat memperkuat kebijakan pemerintah daerah berbasis data dan riset, khususnya dalam bidang pelestarian budaya, pengembangan bahasa dan sastra, pendidikan, pariwisata, serta industri kreatif.
Penyelenggaraan event internasional tersebut juga menjadi peluang promosi bagi Wakatobi dan Sultra.
Kehadiran ratusan akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi akan memperluas jejaring sekaligus membawa nama Wakatobi ke tingkat nasional dan internasional.
Publikasi ilmiah, pemberitaan media, serta jejaring akademik yang terbentuk selama kegiatan diharapkan dapat memberikan dampak promosi yang berkelanjutan.
Wakatobi selama ini dikenal dengan kekayaan lautnya. Melalui event APEBSKID, potensi daerah tersebut dapat diperkenalkan dari perspektif yang lebih luas, termasuk budaya, tradisi, bahasa, sastra, seni, dan desain masyarakatnya.
Dengan demikian, Wakatobi dapat diposisikan tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan penelitian budaya serta pengembangan industri kreatif.
Pengurus APEBSKID Sultra, khususnya Komisariat Kepulauan Buton, juga berencana menghadirkan sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia sebagai narasumber.
Para kepala daerah tersebut nantinya akan diberikan ruang berdialog langsung dengan para peneliti dari Indonesia dan berbagai negara.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan antara pemerintah daerah dan akademisi, sehingga temuan serta rekomendasi hasil penelitian dapat menjadi salah satu bahan dalam penyusunan kebijakan.
Kolaborasi pemerintah, akademisi, peneliti, dan masyarakat diharapkan membuat hasil konferensi tidak berhenti pada forum ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rencana kehadiran Menteri Kebudayaan Republik Indonesia juga dinilai akan semakin memperkuat posisi kegiatan tersebut sebagai agenda berskala nasional.
Atas kepercayaan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakat Sultra, khususnya Wakatobi, diharapkan dapat menyambut penyelenggaraan APEBSKID dengan kesiapan yang baik.
Dukungan pemerintah daerah, kesiapan infrastruktur, partisipasi masyarakat, serta keramahan warga menjadi bagian penting dalam menyukseskan kegiatan yang akan mempertemukan peneliti dari berbagai daerah dan negara tersebut.
Event APEBSKID diharapkan tidak sekadar menjadi pertemuan ilmiah, tetapi menjadi momentum untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan budaya Sultra.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, masyarakat, dan dunia industri, Wakatobi diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pembelajaran budaya sekaligus ruang lahirnya inovasi berbasis budaya untuk Indonesia dan dunia.
EDITOR : AGUS SETIAWAN
Tidak ada komentar