Ilustrasi RADAR KENDARI – Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan kinerja positif pada Triwulan II 2026.
Meski sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sultra tercatat mencapai 6,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pada Triwulan I 2026, ekonomi Sultra tumbuh sebesar 6,23 persen. Capaian pada Triwulan II tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah masih berada dalam tren ekspansif, ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan dengan mencatatkan kenaikan sebesar 14,78 persen. Disusul sektor konstruksi sebesar 9,95 persen dan perdagangan sebesar 8,81 persen.
Pertumbuhan juga didukung oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta administrasi pemerintahan.
Peningkatan aktivitas tersebut sejalan dengan bertambahnya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), geliat usaha kuliner, serta pencairan gaji ke-13.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 13,92 persen, konsumsi pemerintah 12,53 persen, ekspor 12,07 persen, dan konsumsi rumah tangga sebesar 5,18 persen.
Peningkatan investasi dan aktivitas konstruksi didukung pembangunan kawasan industri, smelter, serta infrastruktur penunjang, khususnya di Kabupaten Kolaka dan Konawe Utara.
Di sisi lain, impor tercatat tumbuh 20,55 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan barang modal dan bahan baku industri.
Inflasi Sultra Meningkat, Lampaui Sasaran Nasional
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif, Sulawesi Tenggara menghadapi tekanan inflasi yang meningkat.
Pada Triwulan II 2026, inflasi Sultra tercatat sebesar 4,68 persen (yoy), naik dibandingkan Triwulan I 2026 sebesar 3,37 persen.
Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen dan telah melampaui rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 5,88 persen dengan andil 1,98 persen. Kenaikan harga ikan tangkap dan minyak goreng menjadi faktor utama pendorong kelompok tersebut.
Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 6,59 persen dengan andil 1,01 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,55 persen dengan andil 0,70 persen.
Kenaikan tarif angkutan udara, harga BBM nonsubsidi, dan emas perhiasan turut memberikan tekanan terhadap inflasi, sejalan dengan meningkatnya harga energi dan emas global.
Meski demikian, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga cabai rawit dan telur ayam ras akibat melimpahnya pasokan.
Kredit UMKM Capai Rp15,21 Triliun
Dari sisi stabilitas sistem keuangan, kondisi perbankan Sultra pada Triwulan II 2026 masih terjaga. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 7,28 persen (yoy), sedangkan aset perbankan meningkat 7,53 persen.
Namun, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank hanya tumbuh 0,03 persen, melambat dibandingkan Triwulan I 2026 yang mencapai 0,82 persen.
Kualitas kredit perbankan justru menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang turun dari 2,16 persen menjadi 2,08 persen, masih jauh di bawah ambang batas 5 persen.
Adapun penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp15,21 triliun atau tumbuh 2,57 persen (yoy). Porsi kredit UMKM mencapai 33,58 persen dari total penyaluran kredit.
Pembiayaan UMKM masih didominasi sektor perdagangan dan pertanian. Namun, perlambatan pertumbuhan menunjukkan perlunya perluasan akses pembiayaan, pendampingan usaha, serta penguatan rantai pasok agar UMKM semakin berperan dalam mendorong ekonomi daerah.
Transaksi QRIS Tumbuh, Pengguna Capai 350 Ribu
Perkembangan sistem pembayaran digital di Sulawesi Tenggara juga terus menunjukkan peningkatan. Pada Triwulan II 2026, nilai transaksi melalui BI-RTGS dan SKNBI mencapai Rp6,12 triliun atau tumbuh 7,47 persen (yoy).
Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin meluas. Jumlah merchant QRIS mencapai 267.968 atau tumbuh 28,49 persen, sedangkan jumlah pengguna tercatat sebanyak 350.016 atau meningkat 23,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Digitalisasi transaksi pemerintah daerah juga terus diperkuat melalui optimalisasi 18 Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Sementara itu, transaksi uang kartal mencatatkan net inflow sebesar Rp31,41 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Triwulan I 2026 yang mencapai Rp788,46 miliar.
Kondisi ini mencerminkan kembalinya uang tunai ke perbankan setelah periode Ramadan dan Idulfitri, meskipun kebutuhan uang kartal selama Iduladha dan libur sekolah masih relatif tinggi.
Pengangguran Meningkat, Pekerja Formal Bertambah
Pada sektor ketenagakerjaan, sejumlah indikator menunjukkan adanya moderasi. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sultra turun dari 69,79 persen pada Februari 2026 menjadi 69,23 persen pada Mei 2026.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami kenaikan dari 3,25 persen menjadi 3,47 persen.
Indeks Penggunaan Tenaga Kerja dan Indeks Ketersediaan Lapangan Pekerjaan juga mengalami penurunan, meskipun persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja masih berada pada level optimis.
Di tengah perkembangan tersebut, jumlah pekerja formal justru meningkat menjadi 567,32 ribu orang. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan pada struktur ketenagakerjaan di Sulawesi Tenggara.
Dari sisi kesejahteraan masyarakat, Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami peningkatan. Rata-rata NTP naik dari 100,84 pada Triwulan I 2026 menjadi 101,36 pada Triwulan II 2026.
Peningkatan tersebut terutama didukung oleh subsektor perkebunan rakyat dan peternakan. Persepsi masyarakat terhadap penghasilan saat ini maupun ekspektasi penghasilan ke depan masih berada pada level optimis, meskipun sedikit mengalami moderasi.
Ekonomi Sultra 2026 Diproyeksi Tumbuh 5,6–6,2 Persen
Ke depan, perekonomian Sulawesi Tenggara pada 2026 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, dengan kisaran 5,6 hingga 6,2 persen (yoy).
Prospek pertumbuhan tersebut ditopang oleh investasi dan aktivitas konstruksi, penguatan sektor perdagangan, peningkatan produksi pertanian dan perikanan, serta keberlanjutan hilirisasi industri.
Namun, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai. Di antaranya keterbatasan kuota produksi nikel, kenaikan biaya energi dan bahan baku, penurunan alokasi fiskal daerah, gangguan cuaca, serta ketidakpastian permintaan global.
Sementara itu, inflasi Sultra sepanjang 2026 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari kenaikan harga energi global, keterbatasan produksi pangan, meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kenaikan harga emas.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah lainnya mencakup perluasan kerja sama antardaerah, pelaksanaan pasar murah, fasilitasi distribusi pangan, serta penguatan produksi pangan lokal.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar