Bunda Literasi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Arinta Andi Sumangerukka, resmi membuka Festival Literasi Sultra Tahun 2026 yang berlangsung di Kendari, Selasa (3/11/2026). RADAR KENDARI – Bunda Literasi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Arinta Andi Sumangerukka, resmi membuka Festival Literasi Sultra Tahun 2026 yang berlangsung di Kendari, Selasa (3/11/2026).

Festival yang mengusung tema “Literasi Kuat, Sultra Berkarya, Sejahtera Bersama” tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 November 2026.
Dalam sambutannya, Arinta menegaskan bahwa Festival Literasi bukan sekadar kegiatan seremonial maupun ajang perlombaan, melainkan gerakan bersama untuk membangun masyarakat Sulawesi Tenggara yang cerdas, kreatif, berpengetahuan, dan berdaya saing.
Menurutnya, literasi memiliki peran penting dalam menghadapi perkembangan zaman, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.

“Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, menciptakan gagasan, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan,” ujarnya.
Arinta juga mengingatkan bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, perpustakaan, maupun pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Ia mengajak orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini melalui kegiatan sederhana di rumah, seperti membacakan cerita, mendampingi anak belajar, hingga membangun kebiasaan membaca bersama selama 10–15 menit setiap hari.

Kepada generasi muda, Arinta berpesan agar tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkan informasi, mampu menghasilkan gagasan, serta berani berkarya.
“Anak-anak Sulawesi Tenggara harus berani bermimpi besar, berani belajar, dan berani berkarya. Jangan pernah merasa bahwa kalian tidak mampu hanya karena berasal dari daerah,” tegasnya.
Literasi untuk meningkatkan kesejahteraan
Arinta menjelaskan, Festival Literasi Sultra 2026 menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan minat baca, tetapi juga pengembangan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.

Rangkaian kegiatan meliputi gelar wicara, bedah buku, berbagai perlombaan literasi, Kelas Literasi Investasi bersama Bursa Efek Indonesia, Literasi Hukum, hingga pameran produk Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana memperluas wawasan sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Melalui Kelas Literasi Investasi, masyarakat diharapkan semakin memahami pengelolaan keuangan yang bijak serta mampu mengenali investasi ilegal dan penipuan keuangan.
Sementara melalui Literasi Hukum, masyarakat didorong memahami hak dan kewajiban serta mengenali aturan yang berlaku.

Adapun pameran produk TPBIS diharapkan dapat menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga ruang belajar, berkreasi, berbagi keterampilan, dan mengembangkan usaha.
“Pengetahuan dapat diolah menjadi keterampilan, keterampilan dapat dikembangkan menjadi usaha, dan usaha dapat membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga,” jelas Arinta.
Ia juga mendorong pemerintah kabupaten/kota, satuan pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun budaya literasi.
Arinta berharap semangat Festival Literasi tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus diterapkan di rumah, sekolah, kantor, perpustakaan, hingga seluruh ruang kehidupan masyarakat.
Target 400 peserta, libatkan lima daerah
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, Usnia, dalam laporan panitia menyampaikan bahwa Festival Literasi 2026 menargetkan sekitar 400 peserta.
Festival ini dirancang menjadi ruang silaturahmi dan kolaborasi yang mempertemukan pemerintah daerah, pegiat literasi, penulis, akademisi, budayawan, pelajar, hingga masyarakat umum.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain gelar wicara, pameran produk perpustakaan dan UMKM, serta berbagai perlombaan literasi.
Pada hari pertama, festival menghadirkan gelar wicara bertema “Implementasi dan Pengawalan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pengembangan Budaya Literasi”.
Gelar wicara tersebut diharapkan memberikan wawasan mengenai strategi pengawalan peraturan daerah agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain itu, kegiatan bedah buku menghadirkan pembahasan karya sastra daerah serta buku fiksi nasional karya Maman Suherman berjudul Dan Janda Itu Ibuku.
Berbagai perlombaan juga menjadi bagian penting festival, di antaranya lomba mewarnai, Rangking 1, menulis puisi, membaca puisi, bertutur, dan Mars Perpustakaan.
Pameran produk TPBIS turut menampilkan hasil pemberdayaan masyarakat dari Kabupaten Buton, Kolaka Utara, Muna, Kota Kendari, dan Kabupaten Konawe Selatan.
Usnia menambahkan, festival ini juga menjadi momentum pemberian penghargaan tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026 dalam mendukung keberlanjutan program TPBIS.
Penghargaan tersebut mencakup lima kategori utama, yakni tokoh peduli literasi, kepala dinas, fasilitator daerah, dan PIC yang telah mendukung program TPBIS.
Adapun pembiayaan Festival Literasi Sultra 2026 dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan total anggaran sebesar Rp120.840.000.
Usnia berharap kegiatan ini dapat memperkuat ekosistem literasi di Sulawesi Tenggara sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dan berbagai elemen masyarakat.
Festival Literasi Sultra 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi yang gemar membaca, berani berkarya, serta masyarakat yang semakin sejahtera melalui penguatan pengetahuan dan kolaborasi.
EDITOR : AGUS SETIAWAN
Tidak ada komentar