Kritik Keras Terhadap Layanan Masyarik, Bentuk Empati Terdalam Menag Terhadap Jamaah Haji

waktu baca 5 menit
Jumat, 7 Jul 2023 12:57 135 radarkendari.id

Baru kali ini dalam historikal penyelenggaraan haji Indonesia secara terbuka mengusung tagline “Haji Ramah Lansia”. Munculnya tagline ini cukup beralasan karena 1/3 jamah haji kita terdiri dari para lansia, dan lansianya pun didominasi oleh kaum hawa.

Sejatinya, jika direfleksikan dengan literasi kita terhadap konsep haji itu sendiri, maka amatlah relevan manakala dikatakan bahwa ibadah haji itu merupakan ritual bernuansa psikofeminis sekaligus ritual psikotetri dan ginekologis yang memperkenalkan proses prenatal hingga pascanatal bayi manusia dan menjadikan ibu sebagai tokoh sentralnya.

Bermula dari jamaah haji mengenakan pakaian Ihram berwarna putih yang merupakan framing kesucian sebagai isyarat bahwa bayi yang dilahirkan masih dalam keadaan suci, bersih tanpa noda, seperti pakaian ihram yang berwarna putih.

Thawaf yang dilakukan dengan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, merupakan suatu gambaran di mana bayi juga berputar sebanyak 7 kali selama 7 bulan, setelah 2 bulan sebelumnya ia menjadi janin di dalam rahim ibunya.

Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah yang melukiskan peristiwa ibunda Hajar bergerak dinamis mencari air untuk menghilangkan dahaga anaknya Ismail as. sekaligus melukiskan keadaan bahwa bayi ketika berada dalam rahim ibu selalu aktif bergerak dinamis dan menangis setelah dilahirkan untuk segera disusui oleh ibunya agar terobati rasa hausnya.

Hajar Aswad adalah batu hitam yang berbentuk bulat merupakan penanda reproduksi yang menjadi pintu bayi menuju alam dunia. Melontar jumrah adalah simbol doa dan ikhtiar yang dilakukan oleh ayah dan ibu agar anak yang dilahirkan adalah anak saleh dan salehah yang kelak dapat melempar jauh kenistaan dan sebaliknya berharap mendekatkan rezeki, jodoh, dan kebaikan hidup dunia dan akhirat, serta menghiasi diri dengan sifat dan perilaku yang baik.

Tahallul disyaratkan untuk menjatuhkan sebagian atau keseluruhan rambut kepala. Wuquf adalah rukun haji di mana jutaan jamaah dari berbagai penjuru bumi dan suku bangsa berdiam di Arafah yang menandakan bahwa dari mana pun asal negara dan apapun suku bangsa kita, masing-masing kita pasti tercipta dari sel sperma ayah dan sel ovum ibu yang berdiam dalam rahim ibu.

Mabit di Mina dan Muzdalifah dilakukan dengan cara bermalam di wilayah Mina dan Muzdalifah yang seolah menggambarkan keadaan bayi berada dalam rahim ibu yang gulita.

 

Secara operasional, haji yang bertajuk ramah lansia ini diback-up oleh Kemenag RI melalui Direktorat Penyelenggara Haji dan Umrah dengan menurunkan lebih dari 1200 petugas haji untuk melayani para lansia tersebut.

Oleh karena jumlah jamaah haji lansia mencapai 30%, maka wajar bila haji tahun ini bergenre hajinya para lansia dan ajaibnya mayoritas perempuan. Melihat posisi perempuan yang lemah secara fisik, maka harus dilayani oleh petugas haji dan sebagai bentuk penghormatan Kemenag terhadap perempuan.

Maka itu Gusmen tidak main-main dengan masalah haji tahun ini. Di benak Gusmen seolah terlintas bahwa menghargai lansia sama dengan menemukan hakikat berhaji atau sebaliknya nilai subtantif dari haji diawali dengan pelayanan tuntas kepada para lansia.

Pada konteks yang lebih luas, menyukseskan ibadah haji bermakna menghargai eksistensi perempuan, anak, dan kemanusiaan karena haji hendak mengingatkan kita tentang proses kehidupan manusia dan pemeran utamanya.

Oleh sebab itu, tidak boleh ada cacat sedikitpun dalam penyelenggaraan haji tahun ini, atas dasar itulah mengapa kemudian Gusmen gusar dan kesal kepada Masyarik (Perusahaan Layanan Haji Saudi Arabia) pada saat mengamati sendiri tidak maksimalnya layanan kepada jamaah haji Indonesia, sehingga suara baritonnya keluar menggelegar, “Gak usah bicara kompensasi dengan kami. Kita gak butuh kompensasi”.

Suara itu spontan membahana agar Masyarik serius menangani pelayanan jamaah haji Indonesia. Layangan protes pula dilakukan Gusmen dengan menemui Menteri Urusan Haji dan Umrah Saudi Arabia Dr. Tawfiq Fawzan Al-Rabiah untuk memberikan notisi perbaikan tentang penyelenggaraan haji yang lebih baik ke depan.

Walaupun secara khusus pengelolaan jamah haji Indonesia dinilai sangat paripurna oleh publik, mulai dari transportasi yang terpenuhi, akomodasi yang terakses dengan mudah, layanan medis yang cepat tanggap, konsumsi yang memadai, dan pembimbingan ibadah yang profesional. Namun demikian, tak ada gading yang tak retak. Problem teknis yang dialami akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.

Hendaknya dimaklumi bersama bahwa tantangan haji kali ini amat berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, bukan hanya karena full kuota haji dan euforia kebahagiaan hendak berhaji pasca pandemi, tetapi juga karena diakomodirnya para lansia, sehingga tentu tugasnya lebih berat, energi yang dibutuhkan di atas rata-rata, dan membutuhkan strategi yang lebih jitu. Karena itu Gusmen selaku Amirul Hajj sudah lebih dulu memikirkannya dengan menyiapkan petugas haji untuk melayani para lansia di lapangan secara super maksimal.

Penanganan jamaah ini sudah dimitigasi secara tepat dan sudah diaplikasikan sejak pemberangkatan dan penjemputan jamaah di Madinah dan Makkah, kemudian penanganan saat Armuzna melalui bentuk Safari Wukuf (bagi risti) dan pengawalan khusus bagi lansia yang tidak risti.

 

Pada bagian akhir refleksi ini hendak memaklumkan tentang indisen terlambatnya pengangkutan jamaah ke Muzdalifah. Perlu diterangkan bahwa insiden ini terjadi disebabkan karena jamaah pejalan kaki dari berbagai Negara, demi mengejar waktu utama jumrah aqabah pada waktu dhuha, mereka melalaikan aturan lalulintas Saudi Arabia dengan merangsek masuk ke tol tempat lintasan bus, sehingga bus tidak bisa bergerak. Melihat kondisi ini, seketika itu Kemenag melakukan protes dan segera mengambil langkah cepat di tengah kemacetan dengan memanfaatkan bus-bus lain untuk mengangkut jamaah.

Keterlambatan ini tidak hanya dialami jamaah Indonesia, tetapi juga jamaah dari negara-negara lain pun mengalami kondisi serupa. Jadi isu-isu yang dikembangkan bahwa banyak sekali jamaah yang tertinggal di Muzdalifah adalah tidak benar, hanya segelintir jamaah saja yang tertahan sebentar, lalu dievakuasi mulai pukul 08.00 waktu Saudi hingga selesai, sedangkan sebagian besar lagi sudah dievakuasi ke Mina dengan lancar.

Adapun kondisi jamaah yang merasa kepanasan dan kehausan karena memang cuaca Saudi sangat ekstrem dan jamaah yang menunggu transportasi ke jamarat menumpuk secara bersamaan, sehingga kondisinya menjadi sesak.

Namun pada saat yang sama, petugas haji langsung merespon cepat dengan membagikan air mineral dan kurma, lalu disambut riang oleh jamaah. Bila ada informasi bahwa ada beberapa jamaah yang merasa kelaparan, hal itu terjadi karena jamaah tidak mengindahkan saran petugas haji agar mereka membawa bekal dari Arafah ke Muzdalifah yang telah disiapkan Maktab.

Last but not least perlu dicatat bahwa pada saat berkumpul di Muzdalifah, tidak ada seorang pun jamaah yang wafat. Adapun kasus jamaah yang wafat itu terjadi di Makkah karena ada penyakit comorbit atau sudah tergolong sangat uzur. Wallahu A’lam bi al-Shawab. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA