Dinas Kesehatan Sultra Masifkan Deteksi Dini Kasus TBC Melalui Program “STRIP TB”

waktu baca 3 menit
Selasa, 17 Des 2024 17:04 138 radarkendari.id

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, Hj. Usnia

RADARKENDARI.ID- Dinas Kesehatan (Dinkes)  Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengintensifkan upaya deteksi dini kasus Tuberkulosis (TBC) melalui program inovatif bertajuk “STRIP TB”. Hal ini disampaikan  Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Hj. Usnia, saat mengikuti kegiatan pameran dan seminar implementasi proyek perubahan PKN tingkat II angkatan XXXV di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sultra pada Selasa (17/12/2024).

Program STRIP TB  merupakan singkatan dari Systematic, Timely, Responsive, Integrated, People yang dibentuk sebagai kerangka kerja strategis dalam pengendalian dan penanganan kasus TBC di Sultra.

Kepala Dinkes Sultra Hj. Usnia menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk membangun sistem pengendalian TBC yang lebih efektif, cepat, dan kolaboratif guna mendukung target eliminasi TBC di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Dijelaskan, STRIP TB mencakup  Systematic (Sistematik) merupakan pendekatan sistematik dalam STRIP TB yang menekankan pentingnya membangun sistem pengendalian TBC yang terstruktur dan menyeluruh. “Sistem ini mencakup berbagai tahapan, mulai dari penemuan kasus, proses diagnosa yang akurat, pengobatan yang tepat, hingga pemantauan berkala terhadap perkembangan pasien,”paparnya.

Selanjutnya,  Timely (Tepat Waktu), maksudnya adalah semua  harus memastikan layanan TBC diberikan secara cepat dan efisien. Upaya deteksi dini yang cepat akan membantu mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut serta menekan angka komplikasi akibat keterlambatan penanganan.

“Responsive (Responsif),  dalam hal ini, STRIP TB dikembangkan untuk menjadi program yang adaptif dan responsif terhadap tantangan yang berkembang di tengah masyarakat. Faktor ini menjadi penting mengingat dinamika penyebaran TBC yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi lingkungan dan sosial,”paparnya.

Kemudian Integrated (Terpadu) artinya bahwa program STRIP TB menekankan kolaborasi lintas sektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. “Kita dorong kerja sama antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat luas untuk mencapai tujuan bersama, yaitu pengendalian TBC,” ujar Hj. Usnia.

Selain itu terakhir People (Berpusat pada Pasien) dimana fokus utama dari program ini adalah pasien. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menangani TBC.

” Kami memastikan pelayanan TBC yang bermutu dengan menghormati hak-hak pasien dan melibatkan mereka secara aktif dalam proses pengobatan,” ucapnya.

Sejak diluncurkan, program STRIP TB telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam penemuan kasus TBC di Sultra. Berdasarkan data yang dipaparkan Hj. Usnia, pada awal pelaksanaan program, jumlah kasus yang terdeteksi mencapai 3.753 kasus. Namun, berkat sosialisasi dan intervensi yang masif, angka ini meningkat signifikan menjadi 6.632 kasus pada 2024.

“Peningkatan ini sudah mendekati target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), yakni sebesar 70% dari total estimasi kasus. Dengan target 6.952 kasus, kita sudah mencapai 95% dengan penemuan 6.632 kasus sepanjang 2024,” jelasnya.

Pemilihan program STIP TB  ini bukan tanpa alasan. Mantan Kepala Biro Ekonimi ini menekankan bahwa TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. “Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang kasus TBC terbanyak di dunia. Ini menjadi tantangan serius yang harus segera kita atasi bersama,” ujarnya.

Dengan latar belakang tersebut, program STRIP TB hadir sebagai salah satu langkah strategis untuk membantu mewujudkan Sulawesi Tenggara bebas TBC dan sekaligus berkontribusi dalam target eliminasi TBC nasional.

Implementasi program STRIP TB diawali dengan sosialisasi masif di sejumlah kabupaten dan kota di Sultra. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC serta mendorong partisipasi aktif dalam upaya deteksi dini.

“Kita harus terus bergerak bersama. Kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini,” tegas Hj. Usnia. (adm)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA