Dinas Perikanan Kendari Mulai Optimalkan Kembali Aset BBIAT Untuk Tingkatkan PAD

waktu baca 3 menit
Jumat, 18 Jul 2025 18:33 114 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID, Kendari, Sulawesi Tenggara – Dinas Perikanan Kota Kendari telah melakukan berbgai upaya untuk meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan kembali aset Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT) di Kelurahan Rahandauna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.

Kepala Dinas Perikanan Kota Kendari Dr. Ir. Agus Salim Safrullah, MS. Menjelaskan, sejak dilantik tanggal 14 Mei 2025, ada beberapa aset yang dimiliki Dinas Perikanan dinilai belum difungsikan secara optimal, salah satunya adalah aset BBIAT Rahandauna yang memiliki luas areal kurang lebih 2 hektar.

Menurut data tahun 2024, BBIAT Kota Kendari selama ini hanya mampu memproduksi benih ikan sekitar 3.500 – 6.400 ekor benih ikan nila dan ikan mas per bulan, atau sekitar 114.000 ekor benih pertahun, atau senilai Rp. 57 juta.

Saat berkunjung di BBIAT, Agus membeberkan kiat-kiat yang akan dilakukan, antara lain adalah pengelolaan aset yang lebih baik, peningkatan kualitas benih, efisiensi operasional, diversifikasi produk, melakukan kerjasama dengan pihak terkait serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing balai benih.

Dicontohkan, lanjut Agus, pengelolaan aset yang lebih baik dapat dilakukan melalui inventarisasi dan pendataan aset secara berkala, memastikan aset BBIAT terawat dan berfungsi dengan baik, mengoptimalkan penggunaan aset untuk mendukung operasional balai benih.

Peningkatan kualitas benih, yaitu memastikan benih ikan yang dihasilkan bekualitas tinggi dengan memperhatikan kualitas air, pakan dan lingkungan, menggunakan indukan ikan yang berkualitas dan memiliki sertifikasi, serta mengembangkan teknologi perbenihan yang lebih canggih. 

Efisiensi operasional, yaitu mengoptimalkan penggunaan anggaran dan SDM, menerapkan sistem manajemen yang efisien dan terukur, meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Diversifikasi produk, yaitu mengembangkan produk-produk turunan bibit ikan unggul, pakan ikan atau produk olahan perikanan.

Kerjasama dan teknologi, yaitu antara lain menjalin kerjasama dengan lembaga riset, perguruan tinggi atau pihak swasta untuk mengembangkan teknologi perbenihan, menerapkan sistem informasi manajemen yang terintegrasi untuk memantau dan mengontrol operasional balai benih, meningkatkan pemasaran benih melalui media digital dan online.

Terkait rencana BBIAT untuk dijadikan kawasan agrowisata, menurut Agus adalah suatu hal yang menarik sebagai penunjang untuk mendongkrak penerimaan PAD, terutama dengan konsep wisata edukasi dan pemancingan, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai balai benih ikan. 

Wisata edukasi, yaitu menjadikan balai benih ikan ini untuk edukasi dan pembelajaran perikanan, memperkenalkan berbagai jenis ikan yang dibudidayakan di BBIAT, menerapkan proses budidaya ikan mulai dari pemilihan benih hingga panen, menyediakan wahana edukasi seperti kolam sentuh ikan atau aquarium tematik, menyelenggarakan workshop atau pelatihan budidaya ikan bagi masyarakat. 

Sedangkan Wisata pemancingan, yaitu menyediakan kolam pemancingan ikan yang terawat dan aman, memperkenalkan jenis ikan yang bisa dipancing di BBIAT, menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat istirahat, toilet dan warung makan, mengadakan lomba pancing secara berkala.

Ekowisata, yaitu memanfaatkan potensi alam sekitar BBIAT seperti jalur trekking, atau pengamatan burung atau penangkapan ikan secara berkelanjutan.

Potensi tambahan, yaitu penyediaan fasilitas untuk para wisatawan yang ingin berlama-lama, menjual produk olahan atau kerajinan tangan dari hasil perikanan, serta kerjasama dengan kelompok tani perikanan untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA