Jaga Stabilitas Harga, TPID Sultra Gelar Sidak Pasar

waktu baca 4 menit
Rabu, 20 Sep 2023 07:53 112 radarkendari.id

Pemerintah provinsi Sultra melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) saat menggelar sidak stok dan harga kebutuhan pokok di pasar basah Mandonga

KENDARI-

Dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar dan distributor. Sejumlah bahan kebutuhan pokok (bapok) di pasar tradisional Kota Kendari, Provinsi Sultra mengalami penurunan harga. Hanya beras yang  mengalami gejolak peningkatan harga.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Sitti Saleha mengatakan pihaknya sudah memantau semua komoditi yang dijual di pasaran bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, Dinas Koperasi dan UMKM, Biro Administrasi Perekonomian Sultra dan instansi terkait lainnya.

“Dan ternyata harga komoditi cukup stabil bahkan ada yang turun harganya. Kemudian harga yang bergejolak sekarang beras yakni beras medium yang tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Sehingga kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam hal ini Bulog supaya dalam penjualannya mengacu pada HET bagi pengencer,” kata usia melakukan Sidak.

Dikatakan, para pengecer mendapatkan pasokan bukan langsung dari Bulog tetapi pasokan melalui perantara sehingga harganya mengalami kenaikan.

“Jadi harapan kita semua memantau stok dan harga  agar bisa dicari solusi kembali menstabilkan harga.  Dan harapan dari pemerintah provinsi bagaimana untuk mengendalikan inflasi dan inflasi itu lebih rendah dari inflasi nasional,” ujarnya.

Dijelaskan, harga beras medium saat ini Rp10.900 rupiah perkilogram dari sebelumnya sebesar Rp9.450 perkilogram.

“Dan memang dipasar terbatas stoknya, karena tidak mendapat distribusi pasokan dari Bulog langsung tetapi melalui perantara,” jelasnya.

Sementara itu untuk harga kebutuhan pokok lainya yang mengalami penurunan harga yakni Tomat dari Rp13 ribu menjadi Rp7 ribu per kilogram (kg), cabai keriting, cabai rawit Rp30 ribu per kg dari sebelumnya Rp35 ribu per kilogram (kg),cabai rawit dari Sulawesi Selatan hanya berkisar Rp20 ribu perkilo dari sebelumny Rp25 ribu. Bawang merah Rp35 ribu per kg dari sebelumnya berada diangka Rp40 ribu per kilo. Sedangkan bawang putih masih stabil dengan harga normal Rp40 ribu per kilo.

Kemudian telur ukuran kecil Rp50 ribu per rak dari sebelumnya Rp 53 ribu, telur berukuran sedang Rp55 ribu per rak dari sebelumnya Rp58 ribu per rak, dan telur besar Rp60 ribu per rak dari sebelumnya berkisar Rp63 ribu per rak.

“Serta harga daging sapi dan daging ayam juga masih stabil, dengan masing-masing harga Rp140 ribu per kg dan Rp64 ribu per ekor ayam,”jelasnya.

Dinelaskan, dalam mengendalikan inflasi, Pemprov Sultra secara terus-menerus akan melakukan koordinasi dengan TPID, instansi vertikal, karantina perikanan dan karantina pertanian. Di mana pemantauan harga dan ketersediaan stok ini akan dilakukan secara berkelanjutan.

“Sidak atau pemantauan harga ini kota lakukan secara rutin dalam rangka menjaga kestabilan harga dan ketersediaan bahan pokok. Kita berharap harga beras yang kini mengalami lonjakan dapat segera teratasi mengingat stok beras kita masih cukup melimpah,”pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Ari Sismanto mengatakan dengan pemantauan ini diharapkan harga tetap stabil sehingga dapat menekan inflasi di Sultra.

Ia menyebut beberapa bapok yang harganya sedang turun dikarenakan produksi panen petani melimpah, tepatnya sekira sepekan terakhir.

“Karena banyak produksi, panen petani melimpah, seminggu terakhir,” bebernya.

Hanya saja untuk harga beras saat ini sedang naik, untuk beras premium masih stabil bahkan sedikit turun dari HET Rp13.900, yakni dengan harga penjualan Rp12 ribu per liternya.

Sementara untuk beras medium harga jual di pasar lebih tinggi dari HETnya Rp10.900.

“Kenyatannya dijual dengan harga hampir Rp12 ribu per liter. Jadi inilah pemerintah harus step by step akan kembali menormalkan,” ujarnya.

Menurutnya kenaikan harga beras ini karena adanya isu cuaca ekstrem yakni El-nino yang mempengaruhi produk panen petani. Namun pihaknya menyebut stok beras di Sultra masih aman hingga akhir tahun, yakni sebanyak 67 ribu ton beras.

“Tapi isunya saja  yang dibesar-besarkan seperti   elnino, kemudian negara penghasil beras menutup ekspor, sehingga ini yang dimanfaatkan oleh para spekulan untuk menaikkan harga. Makanya kita turun mengecek jangan sampai ada penimbunan,” bebernya.

Sebagai informasi Sidak dimulai dari Pasar Basah Mandonga Korem, kemudian pemantauan harga dan ketersediaan stok barang kebutuhan pokok di pasar rakyat Kota Kendari, yakni Pasar Mandonga.

Dilanjutkan ke distributor bawang Mandonga, lalu ke UD Naga Mas Puuwatu (gula pasir premium, beras premium minyak goreng premium), lalu ke Gudang Bulog Punggaloba.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA