Kepala Bank Indonesia Sultra, Edwin Permadi. RADARKENDARI.ID – Ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,79% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya (5,40% yoy) dan melampaui pertumbuhan nasional (5,11% yoy).
Di tengah perkembangan ekonomi yang solid ini, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sultra telah menyiapkan berbagai program untuk menjaga kestabilan pangan dan kelancaran transaksi masyarakat menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Pertumbuhan ekonomi Sultra pada Triwulan IV-2025 mencapai 5,94% (yoy), didorong oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan (17,27% yoy) melalui ekspansi kredit dan transaksi digital, serta LU Akomodasi dan Makan Minum seiring program Makan Bergizi Gratis dan ajang nasional.
Di sisi permintaan, pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan serta daya beli rumah tangga yang terjaga menjadi penopang utama, meskipun terkendala kontraksi ekspor besi baja dan impor BBM.
Untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan Idul Fitri, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat kolaborasi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Fasilitasi Distribusi Pangan dengan bekerja sama dengan 8 TPID di seluruh provinsi, serta mendorong pemanfaatan Kios Pangan di Kota Kendari.
Selain itu, BI menyelenggarakan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri) 2026 yang menyediakan layanan penukaran uang rupiah layak edar dengan total alokasi Rp1,2 Triliun.
Layanan ini dapat diakses melalui sistem digital PINTAR (https://pintar.bi.go.id), dengan batas penukaran per orang meningkat 23,2% menjadi Rp5,3 Juta dibanding tahun sebelumnya.
Dukungan terhadap aktivitas ekonomi juga terlihat dari perkembangan transaksi non-tunai, di mana pengguna QRIS di Sultra mencapai 303.254 orang (tumbuh 12% yoy) dan merchant sebanyak 239.463 (tumbuh 37,65% yoy) pada TW-IV 2025, dengan volume transaksi melonjak 184,61% menjadi 4,36 Juta transaksi.
Perlu dicatat bahwa Indeks Harga Konsumen Sultra pada Januari 2026 mengalami inflasi 0,69% (mtm), dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan dan beberapa jenis ikan, namun langkah-langkah pengendalian inflasi terus dilakukan menjelang musim liburan agama.
Penulis : Agus Setiawan
Tidak ada komentar