Ketika Mata Tak Lagi Nyaman: Kisah di Balik Rasa Sepet yang Sering Diabaikan

waktu baca 5 menit
Kamis, 8 Jan 2026 11:04 149 radarkendari.id

Pukul delapan pagi, layar laptop sudah menyala. Deretan email menunggu untuk dibalas, presentasi harus dirampungkan sebelum siang, dan notifikasi ponsel datang silih berganti. Tanpa sadar, mata terus bekerja—menatap, membaca, menyimak—tanpa jeda berarti.

Awalnya hanya terasa sedikit sepet. Lalu perih. Menjelang siang, mata mulai terasa panas dan lelah, seolah ada pasir halus yang mengganjal di balik kelopak.

Namun seperti kebanyakan orang, rasa tidak nyaman itu diabaikan. “Ah, cuma capek,” begitu pikirannya.

Padahal, apa yang ia rasakan bukan sekadar lelah biasa. Itu adalah sinyal tubuh—sinyal dari mata yang mulai kehilangan kelembapannya.

Mata yang Terlalu Sering Diminta Bertahan

Di zaman sekarang, mata jarang benar-benar beristirahat. Sejak bangun tidur, mata langsung disambut layar ponsel.

Sepanjang hari, fokus berpindah dari satu layar ke layar lain. Bahkan saat malam tiba, hiburan pun masih datang dari cahaya biru yang sama.

Tanpa disadari, kebiasaan ini mengubah cara mata bekerja. Saat menatap layar, frekuensi berkedip menurun drastis.

Padahal, setiap kedipan berfungsi menyebarkan air mata secara merata ke seluruh permukaan mata.

Ketika kedipan berkurang, air mata lebih cepat menguap, dan mata pun menjadi kering. Inilah awal dari kondisi yang sering dianggap remeh: mata kering.

Mata Kering: Keluhan Kecil dengan Dampak Besar

Mata kering bukanlah penyakit langka. Namun ironisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa keluhan yang mereka rasakan—mata sepet, perih, mudah lelah, hingga pandangan kabur sesaat—adalah tanda mata kering.

Sebagian orang baru menyadarinya ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas. Sulit fokus membaca, cepat lelah saat bekerja, bahkan merasa tidak nyaman hanya untuk menatap layar beberapa menit saja.

Ada pula yang mengalami kondisi membingungkan: mata terasa kering, tetapi justru sering berair. Ini bukan tanda mata sehat, melainkan respons refleks tubuh terhadap kekeringan. Air mata yang keluar tidak cukup berkualitas untuk menjaga kelembapan mata secara optimal.

Kisah yang Dialami Banyak Orang

Renata (bukan nama sebenarnya), seorang wanita pekerja kantoran, mulai menyadari ada yang berbeda dengan matanya sejak pandemi.

Jam kerjanya di depan laptop meningkat drastis. Meeting online, laporan digital, hingga hiburan malam hari—semuanya berbasis layar. “Awalnya cuma pegal dan sepet. Lama-lama kok mata sering perih dan merah,” ceritanya.

Ia mencoba tidur lebih awal, mengurangi kopi, bahkan mengganti kacamata. Namun keluhan itu tetap datang, terutama saat berada di ruangan ber-AC sepanjang hari.

Renata bukan satu-satunya. Jutaan orang mengalami hal serupa, hanya saja banyak yang memilih bertahan, menganggapnya sebagai konsekuensi dari gaya hidup modern.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata?

Mata secara alami dilapisi oleh air mata yang terdiri dari tiga lapisan: minyak, air, dan lendir. Ketiganya bekerja bersama menjaga mata tetap lembap, bersih, dan nyaman.

Namun ketika salah satu lapisan terganggu—baik karena produksi air mata berkurang, kualitasnya menurun, atau penguapan terlalu cepat—mata akan kehilangan perlindungan alaminya. Inilah yang memicu rasa kering, perih, dan tidak nyaman.

Faktor pemicunya beragam:

•Paparan layar digital terlalu lama

• Udara kering dari AC atau polusi

• Kurang tidur

• Penggunaan lensa kontak

• Faktor usia dan hormon

Sayangnya, mata tidak bisa “berteriak” seperti bagian tubuh lain. Ia hanya memberi tanda-tanda halus yang sering diabaikan.

Ketika Produktivitas Mulai Terganggu

Mata yang tidak nyaman perlahan memengaruhi banyak hal. Konsentrasi menurun, pekerjaan terasa lebih melelahkan, dan suasana hati pun ikut terpengaruh.

Bagi sebagian orang, mata kering bahkan membuat aktivitas sederhana—seperti membaca pesan di ponsel—menjadi tidak menyenangkan. Rasa perih dan lelah membuat mata ingin segera terpejam, meski pekerjaan belum selesai.

Di titik inilah banyak orang mulai mencari solusi. Bukan lagi untuk sekadar “menahan”, tetapi untuk mengembalikan kenyamanan mata.

Merawat Mata, Bukan Sekadar Mengobati

Merawat mata kering tidak selalu harus rumit. Langkah awal bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: memberi jeda saat menatap layar, berkedip lebih sering, dan memastikan tubuh terhidrasi dengan baik.

Namun pada kondisi tertentu, mata membutuhkan bantuan tambahan—pelumas yang dapat membantu menjaga kelembapan permukaannya. Di sinilah peran tetes mata menjadi penting.

Insto Dry Eyes: Teman Mata di Tengah Aktivitas Padat

Sebagai merek perawatan mata yang sudah lama dikenal, Insto Dry Eyes hadir untuk membantu mengatasi keluhan mata kering dengan cara yang praktis.

Insto Dry Eyes bekerja dengan memberikan efek pelumas pada mata, membantu meredakan rasa sepet, perih, dan tidak nyaman akibat mata kering.

Bukan untuk menggantikan air mata alami, tetapi membantu mata tetap lembap ketika produksi atau kualitas air mata menurun.

Bentuknya yang praktis membuatnya mudah digunakan kapan saja—saat mata mulai terasa tidak nyaman di tengah pekerjaan, setelah perjalanan jauh, atau ketika terlalu lama berada di ruangan ber-AC.

Bagi Renata, Insto Dry Eyes menjadi solusi sederhana yang membawa perubahan besar. “Setidaknya sekarang, mata nggak cepat perih lagi. Kerja jadi lebih nyaman,” ujarnya.

Kapan Mata Perlu Diperhatikan Lebih Serius?

Meski tetes mata dapat membantu meredakan keluhan ringan, penting untuk tetap memperhatikan sinyal dari tubuh. Jika mata kering disertai nyeri hebat, gangguan penglihatan yang menetap, atau tidak membaik meski sudah dirawat, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan.

Mata adalah aset jangka panjang. Merawatnya sejak dini adalah bentuk investasi kesehatan yang sering kali terlupakan.

Belajar Mendengar Sinyal dari Mata

Mata kering mengajarkan satu hal penting: tubuh selalu memberi tanda ketika ada yang tidak seimbang. Tinggal bagaimana kita mau mendengarnya—atau terus mengabaikannya.

Di tengah gaya hidup yang serba cepat dan digital, memberi perhatian pada kesehatan mata bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Karena mata yang nyaman bukan hanya soal penglihatan yang jelas, tetapi juga tentang kualitas hidup yang lebih baik.

Dengan perawatan yang tepat dan solusi praktis seperti Insto Dry Eyes, mata tetap bisa “bernapas” di tengah tuntutan aktivitas sehari-hari.

Karena pada akhirnya, mata yang sehat memungkinkan kita melihat dunia dengan lebih jernih—tanpa rasa sepet, tanpa perih, dan tanpa harus terus bertahan.

Penulis : Doedoe

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA