Kolaborasi Kerjasama Indonesia-Jerman Untuk Ketahanan Pangan Akar Rumput di Provinsi Sumatera, Dukung Agenda Presiden Prabowo

waktu baca 3 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 13:19 40 redaksi

PESISIR SELATAN — Pengetahuan sejati dalam pembangunan tidak hanya lahir dari ruang-ruang rapat formal, melainkan tumbuh subur dari hamparan sawah, dari tangan-tangan petani, dan dari keberanian masyarakat untuk berinovasi.

Semangat inilah yang hidup dalam kemitraan strategis antara Kabupaten Pesisir Selatan (Sumatera Barat) dan Kabupaten Timor Tengah Utara/TTU (Nusa Tenggara Timur) pada 11–13 Agustus 2026.

Didukung penuh oleh Pemerintah Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit(GIZ), kolaborasi lintas pulau ini menjadi tonggak penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang tangguh.

Tujuannya satu: mewujudkan ketahanan pangan sekaligus melokalkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) langsung ke jantung masyarakat.

Kegiatan Knowledge Exchange (Pertukaran Pengetahuan) ini difasilitasi melalui Program Sustainable Development Goals – South-South and Triangular Cooperation (SDGs-SSTC) Fase II dari GIZ.

Dalam hal ini, GIZ tidak hanya bertindak sebagai mitra pembangunan, tetapi mengambil peran krusial sebagai katalisator yang mempertemukan dua wilayah dengan karakteristik geografis berbeda agar dapat saling belajar, berbagi solusi cerdas, dan membangun kemandirian di bidang pertanian berkelanjutan.

Menyatukan Dua Inovasi dari Akar Rumput GIZ sangat menyadari bahwa fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan bertumpu pada kapasitas manusianya.

Oleh karena itu, program ini dirancang bukan sebagai kunjungan kerja satu arah, melainkan proses saling belajar antar-aktor pembangunan.

Kabupaten Pesisir Selatan membagikan keberhasilan mereka dalam mengubah paradigma pertanian melalui metode Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) atau yang akrab disebut Sawah Pokok Murah (SPM).

Di sisi lain, 23 orang delegasi TTU yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian, Chairel Malelak, hadir membawa pengalaman unggulan mereka dalam pemanfaatan EcoEnzyme untuk mendukung ekosistem pertanian organik.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Pesisir Selatan, Subchandri, sangat mengapresiasi inisiatif yang dikawal oleh Tim GIZ-SDGs SSTC ini.

“Perbedaan kondisi geografis dan tantangan pembangunan justru menjadi ruang bagi kita untuk saling belajar. Semoga pertemuan ini melahirkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat kita,”ungkapnya saat menyambut kedatangan rombongan di Aula Mandeh Bapperida.

GIZ Hadirkan SDGs Langsung ke Masyarakat Komitmen GIZ dalam melokalkan SDGs terbukti tidak berhenti pada tataran teori dan dokumen kebijakan.

Pada hari kedua, narasi pembangunan itu diterjemahkan ke dalam praktik nyata saat delegasi TTU turun langsung ke lumpur persawahan di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai.

Dipandu oleh petani pakar setempat, delegasi TTU mempraktikkan langsung budidaya padi dengan metode MTOT/SPM. Proses pendampingan lapangan ini adalah bukti nyata bagaimana GIZ mendorong pelokalan SDGs secara inklusif.

Di sini, para petani tidak dijadikan objek, melainkan diposisikan sebagai aktor utama (local champions).

Mereka diberdayakan menjadi SDM tangguh yang mampu mengelola ekologi tanah dengan bahan alami, menekan biaya produksi, dan mengembalikan kepercayaan diri mereka terhadap inovasi lokal yang diciptakan.

Kehadiran Communication Advisor GIZ-SDGs SSTC, Lena Herliana menyampaikan, ”Kegiatan ini merepresentasikan visi besar kerjasama Indonesia-Jerman dibawah GIZ. Inovasi baru akan memiliki makna ketika pengetahuan tidak berhenti pada cerita, melainkan diuji, diadaptasi, dan memberi manfaat ekonomi-sosial secara langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat, dalam hal pangan”, pungkasnya.

Melalui pertalian inovasi antara TTU dan Pesisir Selatan ini, GIZ telah berhasil menanam sebuah harapan baru di tanah pesisir.

Harapan bahwa dengan merawat ekologi dan membangun kapasitas SDM petani yang saling terkoneksi, masa depan ketahanan pangan Indonesia bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang siap dipanen bersama.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA