Membatik Harapan di Kaki Gunung, Cerita Anjani dan Kolaborasi yang Menggerakkan Desa Sejahtera Astra di Kota Batu

waktu baca 2 menit
Jumat, 1 Agu 2025 23:19 135 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Kendari, Sulawesi Tenggara – Pagi di Desa Sejahtera Astra Bumiaji, Kota Batu, dimulai bukan hanya dengan embun apel yang membasahi, tetapi juga dengan suara jidor yang mengiringi langkah Anjani Sekar Arum.

Di tengah ketenangan desa yang berada di kaki Gunung Pucung ini, Anjani tak sekadar mencanting motif di atas kain putih, ia sedang menghidupkan kembali warisan budaya dengan sentuhan modern.

Sebagai lulusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, Anjani memulai perjalanan batiknya pada tahun 2014.

Karya-karyanya bahkan sempat dipamerkan hingga ke luar negeri. Namun, panggilan terbesarnya justru membawanya kembali ke desa, tempat ia memutuskan untuk mengajar anak-anak membatik.

Tujuannya bukan untuk mencetak pengrajin, melainkan menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada budaya melalui tangan mereka sendiri.

Upaya Anjani ini diakui oleh Astra dan mengantarkannya meraih SATU Indonesia Awards pada tahun 2017. Penghargaan ini menjadi tonggak berdirinya Omah Pembatik Cilik, sebuah ruang belajar budaya yang kini menampung lebih dari 80 siswa dari delapan sekolah.

Di sana, anak-anak tak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga belajar bercerita dan mengekspresikan diri melalui setiap goresan canting.

Kolaborasi Anjani dengan Astra semakin erat melalui program Desa Sejahtera Astra. Alih-alih mengambil alih, Astra memberikan ruang tambahan berupa pelatihan usaha, pendampingan, dan dukungan promosi.

Langkah ini membantu inisiatif warga untuk tumbuh lebih mandiri dan percaya diri. Banyak pelaku UMKM, seperti Pak Soleh dari CV Permata Agro Mandiri, kini berhasil mengembangkan usahanya.

Pak Soleh, yang mengolah apel menjadi pie dan pia, kini mempekerjakan 25 orang dengan omzet fantastis, mencapai Rp150 juta per bulan.

Inisiatif Anjani tidak berhenti di batik. Ia juga menggagas pertunjukan Bantengan Bocil, sebuah adaptasi ramah anak dari kesenian tradisional setempat.

Pertunjukan ini menanamkan rasa bangga pada budaya tanpa unsur mistis, melainkan melalui gerakan silat dan kostum batik.

“Keberhasilan tidak selalu soal angka, kadang ia datang dalam bentuk kesadaran kecil,” ujar Anjani.

Ia mencontohkan bagaimana warga desa mulai belajar bahasa Inggris ketika ada turis asing menginap, bukan karena disuruh, melainkan karena merasa perlu.

Kisah Anjani dan Batik Bantengan di Desa Bumiaji adalah cerminan nyata dari semangat Astra untuk berkolaborasi bersama masyarakat.

Semangat ini sejalan dengan komitmen Astra untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa dan mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA