PPIJ Gelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0, Perkuat Fondasi Kepercayaan Menuju 100 Tahun Kemitraan

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Feb 2026 17:54 74 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Menuju satu abad hubungan Indonesia–Jepang pada 2058, Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ) kembali menegaskan perannya sebagai platform kepemimpinan strategis kedua negara melalui penyelenggaraan Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0.

Forum tertutup ini mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, dan pemangku kebijakan untuk membahas fondasi jangka panjang kemitraan bilateral.

Mengusung tema “How Indonesia Builds Credibility from Within to Support Long-Term Japanese Investment”, dialog edisi kedua ini menandai pergeseran fokus dari sekadar mendorong arus investasi menuju pembahasan yang lebih mendasar: bagaimana tata kelola ekonomi, disiplin fiskal, dan kesinambungan kebijakan membentuk kredibilitas Indonesia di mata investor jangka panjang.

Hadir dalam forum tersebut Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Umum PPIJ sekaligus Ketua Liga Parlemen Indonesia–Jepang, Rachmat Gobel, serta Kuasa Usaha ad interim Jepang untuk Indonesia, Mitsuru Myochin.

Pergeseran fokus ini dinilai semakin relevan di tengah dinamika geopolitik, disrupsi rantai pasok, krisis iklim, dan percepatan transisi energi global.

Dalam situasi tersebut, keputusan investasi jangka panjang tak lagi semata ditentukan oleh besarnya pasar, melainkan oleh kualitas pengelolaan internal suatu negara.

Dari perspektif Jepang, Indonesia tetap menjadi destinasi strategis. Laporan tahunan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menempatkan Indonesia di peringkat keempat sebagai negara paling menjanjikan bagi ekspansi bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah.

Kekuatan pasar domestik hampir 280 juta penduduk, stabilitas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan digitalisasi, serta peluang transisi energi menjadi faktor utama daya tarik tersebut.

Namun, realisasi investasi Jepang pada 2024 tercatat sebesar USD 3,46 miliar atau mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah memandang dinamika ini sebagai momentum untuk memperkuat kualitas kemitraan agar lebih terarah, bernilai tambah, dan berorientasi jangka panjang.

Dalam dialog tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas fiskal dengan defisit dalam batas aman serta rasio utang pemerintah sekitar 38–39 persen terhadap PDB.

Kerangka fiskal yang prudent dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas makro sekaligus membuka ruang investasi strategis.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa bagi investor dengan horizon 20–30 tahun seperti Jepang, konsistensi kebijakan menjadi prasyarat utama.

“Yang paling penting bukan hanya potensi pertumbuhan, tetapi kepastian bahwa negara dikelola secara disiplin dan konsisten,” ujarnya.

Ketua Umum PPIJ Rachmat Gobel menambahkan, tantangan menuju 100 tahun hubungan bilateral bukan hanya menarik investasi, tetapi membangun arsitektur kepercayaan.

“Kepercayaan tidak dibangun dari insentif semata, melainkan dari konsistensi dan tanggung jawab dalam mengelola negara,” tegasnya.

Forum ini juga mendapat dukungan kuat dari sektor swasta, termasuk Gobel Group yang telah menjalin kemitraan industri dengan perusahaan Jepang sejak 1958.

Kolaborasi tersebut antara lain diwujudkan melalui pengembangan Indonesia International Automotive Proving Ground bersama Toyota dan JOIN, serta proyek Opus Park Sentul bersama Sumitomo Corporation dan Hankyu Hanshin Properties.

Selain itu, dukungan datang dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC Group) melalui entitasnya di Indonesia, yang merepresentasikan peran institusi keuangan Jepang dalam pembiayaan berkualitas dan penguatan dialog strategis.

Sejumlah institusi dan korporasi Jepang turut hadir, di antaranya Japan International Cooperation Agency (JICA), Japan External Trade Organization (JETRO), serta berbagai perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia.

Sejak berdiri pada 1958, PPIJ mengusung filosofi “Benang Merah” atau Akai Ito, simbol ikatan batin antara masyarakat Indonesia dan Jepang.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat heart to heart diplomacy dalam Doktrin Fukuda yang diperkenalkan oleh Takeo Fukuda pada 1977, yang menekankan kemitraan setara dan saling percaya antara Jepang dan negara-negara Asia Tenggara.

Melalui Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0, PPIJ menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Jepang ke depan harus dibangun di atas fondasi kredibilitas internal, disiplin kebijakan, dan visi jangka panjang.

Dengan semangat tersebut, langkah menuju 100 tahun hubungan bilateral pada 2058 diharapkan bukan sekadar peringatan historis, tetapi tonggak kemitraan strategis yang semakin kokoh dan berkelanjutan.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA