Prajurit Penjaga Tradisi: Kolonel Erwinsyah Taupan Dedikasikan Diri Rawat Benda Pusaka di Museum Balaputra Dewa

waktu baca 2 menit
Senin, 19 Jan 2026 15:31 241 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Tugas sebagai Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Kaorem 143/Haluoleo yang identik dengan pengelolaan materiel militer, dijalankan secara selaras oleh Kolonel Erwinsyah Taupan dengan peran uniknya sebagai Kurator Museum Balaputra Dewa.

Baginya, menjaga operasi militer masa kini memiliki semangat yang sama dengan merawat benda pusaka masa lalu: keduanya adalah aset bangsa yang tak ternilai.

Sebagai kurator, Erwinsyah menerapkan kedisiplinan prajurit dalam mengelola artefak bersejarah.

Ia memandang bahwa benda-benda pusaka yang tersimpan di Museum Balaputra Dewa, mulai dari senjata tradisional hingga atribut perjuangan, merupakan bagian dari sejarah yang harus dipertanggungjawabkan kepada generasi mendatang.

“Di militer, kita diajarkan untuk teliti dalam merawat kesetiaan terhadap bangsa . Prinsip itu saya bawa ke museum. Bedanya, yang saya rawat di sini adalah benda-benda yang memiliki nilai filosofis dan sejarah panjang masyarakat.,” ungkap Erwinsyah Taupan, Senin (19/01/2026).

Erwin memastikan setiap benda pusaka mendapatkan perlakuan khusus agar tidak rusak. Kemampuannya dalam manajerial operasi militer sangat membantu dalam mengorganisir penempatan koleksi, pendataan, hingga proses konservasi benda-benda yang terbuat dari logam, kayu, maupun kain tua.

Sinergi antara tugas kemiliteran dan pelestarian budaya ini menjadi bukti bahwa TNI tidak hanya hadir untuk pertahanan fisik, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan identitas bangsa.

Melalui Museum Balaputra Dewa, Erwin Taupan menunjukkan bahwa seorang prajurit juga merupakan pelestari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap benda pusaka peninggalan leluhur.

Kehadiran sosok prajurit kurator ini diharapkan mampu menjadikan Museum Balautra Dewa sebagai pusat edukasi yang prestisius di mana manajemen profesional militer bertemu dengan penghormatan mendalam terhadap sejarah daerah.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA