Sempat Terancam Punah, Jeruk Siompu Kembali Berbuah Lewat Teknologi Mikoriza

waktu baca 3 menit
Rabu, 29 Jul 2026 12:16 103 redaksi

RADAR KENDARI — Upaya penyelamatan Jeruk Siompu, varietas endemik khas Pulau Siompu yang sempat berada di ambang kepunahan, akhirnya membuahkan hasil manis.

Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI) bersama tokoh masyarakat dan siswa MAN 1 Siompu menggelar Panen Raya Jeruk Siompu di Desa Biwinapada, Kecamatan Siompu, Selasa (28/7/2026).

Panen raya ini merupakan hasil kolaborasi penelitian antara AMI dan Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Sultra diera kepemimpinan Gubernur Ali Mazi.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua AMI, Prof. Hj. Husna, bersama tim peneliti yakni Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, S.Hut., M.Si., Dr. Dahlan, S.Pd., M.Si., serta La Baali, S.Pd.

Momentum ini menjadi tonggak penting keberhasilan program konservasi plasma nutfah lokal yang telah digulirkan sejak 2021 hingga 2023.

Program ini digagas untuk menyelamatkan populasi Jeruk Siompu yang terus merosot drastis.

Dalam program ini, sebanyak 500 pohon Jeruk Siompu telah ditanam di lima titik lokasi di Kecamatan Siompu dengan luas lahan bervariasi antara seperempat hingga satu hektare.

Ketua AMI, Prof. Hj. Husna, mengungkapkan rasa syukurnya melihat tanaman yang ditanam sekitar tiga tahun lalu sudah mulai menghasilkan buah dalam jumlah yang cukup banyak.

“Alhamdulillah hari ini kita bisa panen, kami sungguh bahagia. Artinya misi besar penyelamatan Jeruk Siompu yang didukung mantan Gubernur Sultra, Bapak H. Ali Mazi, berhasil berjalan dengan baik. Tanaman ini baru mulai berbuah, kita berharap tanaman lainnya juga sudah bisa berbuah tahun depan,” ujar Prof. Husna saat panen di kebun milik warga bernama Ruslan Magu.

Salah satu keunggulan riset ini terletak pada penerapan teknologi pupuk hayati mikoriza. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo tersebut menjelaskan efektivitas teknologi ini:

  • Secara Alami: Tanaman Jeruk Siompu dari biji membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun untuk berbuah.
  • Dengan Mikoriza: Tanaman mampu memasuki fase generatif (berbuah) jauh lebih cepat, yaitu sebelum berusia 3 tahun.

Percepatan pembungaan dan pembuahan ini menjadi indikator suksesnya integrasi teknologi mikoriza dalam mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus menjaga keanekaragaman hayati lokal.

Keberhasilan panen raya ini tidak berhenti di sini. Prof. Husna menyampaikan bahwa program pelestarian dan pengembangan Jeruk Siompu akan terus berlanjut melalui skema pendanaan pusat dan kerja sama Pemprov Sultra.

“Pak Ali Mazi sangat senang mendengar panen raya ini. Insyaallah untuk pengembangan ke depan… pulang dari sini langsung kita rapat untuk membicarakan program yang akan datang melalui dana pusat,” tambahnya.

Manfaat nyata dari program konservasi ini dirasakan langsung oleh petani penerima manfaat. Ruslan Magu, pemilik kebun di Desa Biwinapada, merasa bersyukur atas hasil panen perdana ini.

Menurutnya, pertumbuhan pesat tanaman tak lepas dari perawatan intensif, penggunaan pupuk kandang, dan pemeliharaan struktur akar.

“Tentu kami bersyukur sekali. Kami berharap program ini terus berlanjut untuk penyelamatan Jeruk Siompu, tentu dengan penyiapan fasilitas yang memadai,” harap Ruslan.

Keberhasilan panen perdana ini membangkitkan kembali optimisme masyarakat Pulau Siompu.

Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan petani tidak hanya berhasil memelihara nilai sejarah dan budaya Jeruk Siompu, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat melalui komoditas hortikultura unggulan bernilai tinggi.

Usai panen raya Ketua Asosiasi Mikoriza Indonesia memeberikan bantuan untuk sarana pengembangan jeruk siompu untuk petani.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA