Kepada Dikbud Sultra, Prof Aris Badara dan Kepala SMAN 5 Kendari, La Samura. RADARKENDARI.ID– Kabar miring mengenai adanya paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbengkalai dan dibuang di area sekolah dibantah keras oleh otoritas pendidikan di Sulawesi Tenggara.
Melalui koordinasi yang intensif, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra bersama pihak sekolah menegaskan bahwa mekanisme distribusi di lapangan berjalan sangat ketat dan terukur.
Klarifikasi Tegas Disdikbud Sultra
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Prof. Aris Badara, menyatakan bahwa program nasional ini bertujuan murni untuk meningkatkan gizi siswa dan telah dipastikan berjalan sesuai prosedur.
Pihaknya membantah adanya pemborosan atau pembuangan makanan seperti yang diisukan.
“Informasi bahwa MBG dibuang itu tidak benar,” tegas Prof. Aris Badara, Rabu (11/02/2026).
Ia menjelaskan bahwa jika terdapat kelebihan porsi karena siswa membawa bekal sendiri, makanan tersebut tidak akan dibuang, melainkan diambil oleh siswa lain yang membutuhkan.
Anak-anak justru menunjukkan antusiasme tinggi, bahkan banyak yang menambah porsi hingga semua habis dikonsumsi.
Sistem “Jemput Bola” di SMAN 5 Kendari
Senada dengan Kadisdikbud, Kepala SMAN 5 Kendari, La Samura, memberikan klarifikasi langsung mengenai isu pembuangan makanan di belakang sekolahnya.
Dalam keterangannya pada Rabu (11/02/2026), ia menegaskan bahwa informasi tersebut sama sekali tidak berdasar atau hanyalah “kabar burung”.
Pihak sekolah telah menerapkan mekanisme distribusi sistematis sebagai berikut:
Komitmen Zero Waste dan Transparansi
Selain menjamin ketepatan sasaran, program ini juga mengedepankan kebersihan lingkungan.
Setelah selesai dikonsumsi, wadah makanan dikembalikan langsung ke mobil Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di area sekolah.
Disdikbud Sultra menyatakan tetap membuka diri terhadap masukan masyarakat dan media guna memastikan program MBG terus memberikan dampak positif bagi kesehatan serta konsentrasi belajar siswa di Sulawesi Tenggara.
Dengan adanya sistem pelaporan harian dan pengawasan berlapis dari guru, diharapkan disinformasi serupa tidak lagi terjadi.
Penulis : Agus Setiawan
Tidak ada komentar