Wali Kota Baubau, Yusran Fahmi. RADARKENDARI.ID – Walikota Baubau H. Yusran Fahim, S.E berhasil masuk nominasi Penghargaan “Golden Leader” yang diberikan oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).
Ia dinilai telah berhasil mendorong transformasi ekonomi berbasis maritim dan penguatan konektivitas wilayah kepulauan di kawasan Indonesia Timur.
Berdasarkan hasil verifikasi JMSI, pembangunan Kota Baubau beralih dari fokus darat-sentris ke maritim-sentris, dengan laut diposisikan sebagai penghubung utama aktivitas ekonomi antarpulau.
Kebijakan ini berdampak signifikan, seperti meningkatnya volume pengiriman barang kargo domestik dan penetrasi ekspor ke Tiongkok.
Optimalisasi pelabuhan, penguatan transportasi laut, serta peran Baubau sebagai simpul distribusi di Kepulauan Buton menjadi indikator utama penilaian.
Pendekatan ini dianggap membuka akses ekonomi lebih luas dan memperkuat konektivitas regional, selaras dengan tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Selain infrastruktur, JMSI juga mencatat pengembangan UMKM berbasis lokal, perdagangan jasa, serta pariwisata bahari dan budaya yang mendorong struktur ekonomi inklusif.
Secara historis, Baubau pernah menjadi pusat pelayaran Kesultanan Buton, sehingga transformasi saat ini dipandang sebagai upaya mengembalikan peran kota sebagai pusat maritim.
Dalam aspek kepemimpinan, terdapat konsistensi antara perencanaan dan implementasi program, serta sinergi lintas sektor dan tingkat pemerintahan.
Selain maritim, konektivitas udara melalui Bandara Betoambari juga mengalami perkembangan luar biasa.
Pada 2025, jumlah penumpang bandara mencapai lebih dari 107.000 orang, naik sekitar 54,8 persen dibanding 2024.
Kehadiran maskapai Super Air Jet dengan pesawat Airbus A320 pada rute Makassar–Baubau menjadi pendorong utama, didukung oleh upaya Pemkot Baubau untuk menambah frekuensi dan membuka rute baru. Pertumbuhan ini memberikan efek multiplier pada sektor perdagangan, pariwisata, dan UMKM lokal.
JMSI menilai kepemimpinan Yusran Fahim yang berorientasi hasil, berbasis konteks geografis, dan berakar pada sejarah layak menjadi model pembangunan kota maritim di Indonesia.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar