Tiga dosen STIE Enam Enam Kendari berhasil meraih pendanaan dari dua program nasional, yakni pendanaan penelitian melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta pendanaan kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
RADAR KENDARI — STIE Enam Enam Kendari kembali mencatatkan capaian akademik pada tahun 2026.
Tiga dosennya berhasil meraih pendanaan dari dua program nasional, yakni pendanaan penelitian melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta pendanaan kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ketiganya adalah Dr. Astil Harli Roslan, S.E., M.M., Asrul Jabani, S.E., M.E., dan Intan Aprilianiswah B., S.Ak., M.M., C.F., C.Ftax.
Mereka memperoleh dukungan pada sejumlah isu strategis, mulai dari UMKM, ekonomi sirkular, digitalisasi, perpajakan, hingga pelestarian pengetahuan dan warisan budaya Sulawesi Tenggara.
Capaian ini menambah rangkaian prestasi akademik STIE Enam Enam Kendari. Sebelumnya, kampus tersebut juga mencatatkan dua program studi berakreditasi Unggul, yakni Magister Manajemen dan S1 Manajemen.
Pencapaian tersebut menjadi bagian dari penguatan mutu akademik dan transformasi kelembagaan STIE Enam Enam Kendari.
Dr. Astil Harli Roslan memperoleh pendanaan BIMA dengan fokus pada transformasi hijau UMKM, pemanfaatan sumber daya sekunder, dan penguatan ekonomi sirkular.
Melalui Dana Indonesia Raya, ia mengangkat Bapongka masyarakat Bajo Wakatobi sebagai pengetahuan maritim adaptif yang perlu dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Asrul Jabani memperoleh pendanaan BIMA dengan fokus pada digitalisasi UMKM di Kota Kendari, khususnya terkait kemudahan transaksi dan perluasan akses pasar.
Pada Dana Indonesia Raya, ia mengangkat Kacucung Dua, warisan hidup masyarakat Burangasi yang berkaitan dengan penguatan identitas dan keberlanjutan budaya masyarakat diaspora.
Adapun Intan Aprilianiswah B. memperoleh pendanaan BIMA untuk penelitian mengenai implementasi Coretax, kepercayaan, dan kepatuhan wajib pajak di Sulawesi Tenggara.
Melalui Dana Indonesia Raya, ia memperoleh dukungan pada kategori Pendayagunaan Ruang Publik dengan mengangkat warisan budaya Kesultanan Buton di Baubau.
Dr. Astil Harli Roslan mengatakan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa dosen memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi terhadap persoalan akademik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan di daerah.
“Tema yang kami angkat berbeda-beda, tetapi semuanya berangkat dari potensi dan persoalan nyata di Sulawesi Tenggara. Ada UMKM, transformasi hijau, digitalisasi, perpajakan, masyarakat pesisir, dan warisan budaya. Ini menunjukkan bahwa ruang penelitian dan kebudayaan di daerah kita sangat luas,” kata Astil.
Menurut Astil, yang tumbuh dan besar di Kabupaten Wakatobi, capaian tersebut juga sejalan dengan upaya kampus memperkuat kualitas akademik serta kontribusinya kepada masyarakat.
“Yang paling penting bukan hanya memperoleh pendanaan, tetapi bagaimana kegiatan itu dilaksanakan dengan baik, menghasilkan pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat,” ujarnya.
Astil berharap capaian tersebut dapat mendorong semakin banyak dosen dan mahasiswa STIE Enam Enam Kendari untuk aktif dalam program penelitian, pengabdian, dan kebudayaan.
“Kami berharap ini menjadi motivasi bersama. Perguruan tinggi harus hadir melalui riset dan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan daerah sekaligus ikut menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara,” katanya.
Keberhasilan tiga dosen tersebut tidak hanya menambah capaian akademik STIE Enam Enam Kendari, tetapi juga memperkuat gerak Spiraling-Up Institutional Impact, yakni menjadikan setiap prestasi, riset, dan kontribusi dosen sebagai energi untuk memperbesar dampak dan reputasi institusi.
Dari ekonomi sirkular, digitalisasi UMKM, perpajakan digital hingga pelestarian warisan budaya Sulawesi Tenggara, capaian ini menunjukkan bahwa kekuatan lokal dapat menjadi pijakan untuk memperluas jejaring dan kontribusi STIE Enam Enam Kendari menuju visi pengakuan di kawasan Asia Tenggara 2032.
EDITOR : AGUS SETIAWAN
Tidak ada komentar